Aku Menjabat Tanganmu

            Dan...ketika itu, 23 Oktober 1989, aku dilahirkan di dalam rumah. Bukan di rumah sakit atau bidan sekalipun. Mamaku bilang, aku lahir tergeletak di atas tampah. Entah hujan, padang bulan, kemarau, siang, atau malam waktu itu, aku tidak tahu. Aku hanya mendapati identitas resmi kelahiranku di selembar kertas hijau [akte] bahwa namaku Mugianto.

          Tuhan memberkatiku jadi anak ketiga dari sebuah keluarga sederhana. Dua kakakku laki-laki, begitupun diriku. Kecilku hanya menghabiskan waktu bersama kawan sebaya di pinggiran sungai dan pematang sawah. Pada umur tujuh tahun, aku masuk sekolah dasar Muhammadiyah. Sebuah sekolah dasar yang kecil dan punya sedikit murid. Warga desa belum tentu mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Tapi, akhirnya aku sadar, sekolah dimana pun sama saja…

            Di tingkat menengah pertama, aku diterima di sekolah negeri 4, sedangkan tingkat atas sama pula di sekolah negeri, hanya berangka 3. Semua sekolahku di kota Purwokerto. Begitu pun, ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk merengguk pengetahuan di perguruan tinggi, aku kuliah di kota satria ini: Universitas Jenderal Soedirman.

            Ah, sekilas tentang riwayatku, lalu pribadiku adalah pelamun dan pendiam. Hampir waktu luangku, aku pakai untuk melamun, apa pun itu. Menurutku, hal itu mengasyikan, ada feel tersendiri. Pribadiku inilah yang sering mendorongku menulis fiksi. Dan…aku sangat menyukainya. Sastra, bagiku adalah satu-satunya cara menggapai kebebasan hakiki, bertapa diri, dan pengetahuan tertinggi kehidupan. Sastraku adalah imajinasi progresif. 

          Sebagai orang yang pernah belajar sosiologi di kampus, maka  pondasi berpikirku adalah sosiologis. Tak ada yang penting dipikirkan daripada manusia dan masyarakat. Yang mengawali dan mengakhiri kehidupan di bumi ini. Sains adalah pasti, tapi manusia dan masyarakat tidak pernah pasti. Revolusi, perang, dan perdamaian, satu-dua detik bisa saja terjadi. Dunia terus bergerak dan tugas pengarang adalah menggerakan sejarah. 

            Memang, aku tidak terlalu berharap banyak pada realisme…         

            Kita berharap kehidupan yang penuh persaudaraan terjadi. Barangkali kau yang telah mengenalku, bila suatu saat lewat, dapat mampir ke gubukku. Tengoklah ke kiri bila dari arah timur dan sebaliknya ketika melintas Jalan Jenderal Soedirman. Kau akan mendapati gang kecil yang di atasnya terdapat plang sekolah kejuruan Muhammadiyah. Jika kau enggan menengok, maka lihatlah di tengah jalan, dan kau bisa menemukan tugu sandal, itu kau sudah berada di kampungku. Ya, gubukku berada di rukun tetangga 3 dan rukun warga 1, Pasir Kidul.


            Salam kenal…