Minggu, 26 April 2020

Ketsuekigata


Dari negeri matahari.
Sekedar tradisi bukan saintis.

Ternyata kita berenang di sel-sel darah yang sama:
A!
Wahai pemilik sifat keras kepala.
Ego diri yang meledak-ledak.

Sunyi dan lambatnya malam ini aku tersenyum sendiri.
Kau seperti sebuah cermin untuk melihat diriku. Aku pun cermin untuk kau lihat dirimu. Pemilik darah A.

Setiap pertengkaran kita adalah pertengkaran ego.
Kini, aku sadari pertengkaran itu sebenarnya pertengkaran terhadap diri sendiri.
Karna kita adalah satu dan sama; dalam arus gejolak darah A.

Tuhan memberikan cinta dalam denyut sel darah yang sama.
Ikhtiar kita adalah benar-benar menemukan diri kita--untuk selamanya.
Kita diajak Tuhan belajar menemukannya.
Oleh itu, setiap benturan akan memunculkan ide baru dan kualitas kesadaran yang lebih dewasa.
Bukan melemahkan atau menghancurkan.

Menemukan 'kita' dengan meleburnya ego 'aku'.
Ya, 'kita'. Pemilik darah A.
Sebagaimana ketsuekigata katakan:
Kita adalah sebuah kebijaksanaan.
Kita adalah sebuah kesabaran.
Kita adalah sebuah kesungguhan.
Kita adalah sebuah kreativitas.

Meski kita pun sesekali jadi pendiam.
Namun, diam itu sendiri adalah gerak.
Gerak saling memahami dan mengerti
melalui intuisi dan cinta yang paling dalam.
Keterbukaan batin dan pikiran.

Purwokerto, 26 April 2020
-Untuk calon istriku, dengan penuh cinta, Liasasi.
Share:

0 comments:

Posting Komentar