Sabtu, 30 Desember 2017

Apa Yang Perlu Ditulis Lagi?

Sumber gambar: thenorthlines.com
"Apa yang perlu ditulis lagi?" Kalimat terakhir yang tertulis di secarik kertas. Detektif dari kepolisian kota berkali-kali memotret kertas itu. Sebelum kemudian dimasukkan ke kantong plastik untuk barang bukti.
"Mungkin ini satu-satunya petunjuk," ujar detektif kepada rekan kerjanya.
**
Dia pernah mengeluh sakit maag. Dua kali datang ke rumah kami. Pertama, dia meminta segelas air panas. Kedua, sekedar mengatakan bahwa ia akan ke dokter. Ia meminta rekomendasi dari kami dokter yang murah dan kompeten. Setelah itu dia hidup normal, pergi pagi pulang sore. Hari minggu dia banyak di rumah. Sesekali keluar cuma merokok di kursi terasnya. Kami benar-benar tidak tahu apa pekerjaannya. Selain itu privasi, kami percaya dia orang baik-baik. Jauh dari ciri-ciri teroris.
**
Hanya kertas itu petunjuknya. Apa maksudnya? Demikian pikir Jon di ruang kerjanya. Sehari sebelumnya hasil visum menunjukan tidak ada sama sekali luka, lebam, dan bukti tubuh lain yang mengarah ke penganiayaan dan pembunuhan. Diduga ia mati karena sakit. Di kamarnya juga tidak ada jejak  bercak darah. 
"Di kamar hanya ada kertas itu. Pakaian. Meja dan penanya. Identitasnya tidak ada. Kamarnya sangatlah bersih. Dompet, ponsel, laptop, dan barang berharga lainnya tidak ditemukan. Perampok bisa juga membawa kabur semuanya sebelum membunuhnya. Tapi, kenapa dia mati tanpa ada luka sedikit pun?" Jon memperhatikan kertas itu kembali.
**
Saya tidak begitu kenal. Selintas dia pria yang menarik. Saya melihatnya dari cara dia menunduk sopan saat berpapasan di jalan. Minim kata memang. Suaranya seperti disembunyikan. Ia selalu berpakaian kemeja sederhana. Bercelana jeans. Bersepatu kets. Oh ya, buku. Dia suka menenteng buku. Saya pun mengira dia mahasiswa. Meski raut wajahnya bukan lagi usia mahasiswa. Oh, betapa malangnya dia, mati tanpa sanak saudara.
**
Jon mencari bukti lain. Tapi tidak ditemukan selain kertas itu. Ia lalu mendatangi ahli bahasa. Sekedar mencari pemahaman tentang makna dari pertanyaannya: "Apa yang perlu ditulis lagi?" Ahli bahasa tidak bisa mencerna dengan baik karena cuma satu kalimat tanya tanpa ada kalimat selajutnya. "Minimal satu paragraf. Setidaknya bisa dikembangkan dalam pengertian tertentu," ucapnya. Tapi, ahli bahasa itu menduga, si penulis menderita keputusasaan akut. Semacam gejala depresi. Ia mengira orang tersebut adalah sastrawan atau penyair.
**
Entah apa yang dibakarnya di dalam sebuah drum bekas aspal. Di belakang rumah menjelang petang. Saya melihat asap mengepul dan dia berdiri mematung. Wajahnya mengiba. Dia terus menatap jilatan api. Sayang, saya tidak mengecek setelah itu. Karena saya tahu orang-orang suka membakar sampah di dalam drum tersebut. Dia tidak beda dari yang lain, pikir saya. Hanya saja ekspresi wajahnya terasa aneh. Hm, sungguh terkejut beberapa hari kemudian dia ditemukan meninggal secara misterius. Setahu saya juga dia jarang menerima tamu.
**
Dari kedai kopi di seberang jalan Jon membuka majalah mingguan kegemarannya. Ia mengikuti cerita bersambung "Layar-Layar Hitam". Edisi minggu lalu ia lewatkan karena sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga Jon ketinggalan satu edisi. Ia berusaha mengejar ketinggalannya dengan membeli majalah minggu lalu sekaligus minggu ini. Tapi, penjual majalah mengatakan sudah tidak memiliki lagi majalah minggu lalu. Stok habis. Akhirnya Jon merelakan tidak membaca cerita "Layar-Layar Hitam" yang terbit minggu lalu. Ia sedikit kecewa karena harus terpotong alur ceritannya. Lebih kecewa lagi ternyata di halaman cerita itu dimuat, redaksi menulis permohonan maaf. Cerita "Layar-Layar Hitam" minggu ini tidak terbit karena sesuatu hal. Dan akan terbit kembali di waktu yang belum bisa ditentukan.
"Kemana penulis MS ini?" gerutu Jon. MS lama dikenal Jon sejak buah karyanya "Layar-Layar Hitam". Sebuah cerita tentang pria tua dan istrinya yang nekad hidup di bumi lautan sampai akhir hayat. Di kapal mereka yang kecil dan dipenuhi layar hitam. Mereka bukan bajak laut. Mereka membenci kehidupan daratan yang sudah dipenuhi keserakahan dan peperangan. Pengembaraan itulah yang mengantarkan mereka ke negeri-negeri ilusi.
"Masih punya edisi minggu lalu?" tanya Jon pada penjaga toko majalah baru dan bekas.
"Tidak. Tapi aku membacanya dan cukup kecewa karena tokoh pria tua mati."
"Oh ya?"
"Ya. Pria tua mati di negeri ilusi ketiga. Saat pengetahuan, teknologi, dan uang berlimpah ruah. Dia bertanya kepada istrinya, 'Apa yang perlu ditulis lagi?' Istrinya geleng-geleng. Tapi, ia kemudian berkata dengan suara hampir tak didengar suaminya. 'Gombal dan omong kosong'. Lalu...eh, tuan mau kemana? Lalu..." Ia bicara dengan diri sendiri. " Pria tua pergi tidur dan Tuhan mengambilnya."
Jon sudah hilang. Entah kemana.
*
Purwokerto
Share:

0 comments:

Posting Komentar