Sabtu, 17 Desember 2016

Utang


Sejak Dulmakir membuat kebijakan dilarang utang di tokonya, sontak pembelinya lari. Dagangannya jadi sepi. Stok barangnya menumpuk tak terjual. Pendapatan menurun. Hanya doa yang bisa Dulmakir dan istrinya panjatkan agar terhindar dari kebangkrutan.

Toko Dulmakir yang terjepit di dua gang perkampungan padat rumah adalah toko kecil  yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Ia merintis usahanya setelah anak pertamanya lahir dan dirinya kehilangan pekerjaan dari industri kecap karena gulung tikar. Kini anak pertamanya sudah berusia dua puluh tahun. Dua puluh tahun pula tokonya telah membantu kehidupannya.

Ada masa kejayaan,  adakalanya sebaliknya. Pesaingnya bertambah banyak.  Dulu hanya dia dan Bahlul yang memegang perdagangan di kampungnya. Tapi sekarang tiap RT sudah ada dua-tiga rumah yang membuka toko.

Bahlul sudah bangkrut duluan. Sekitar dua tahun yang lalu. Orang-orang mangkrak utangnya di toko Bahlul. Modalnya terkuras. Suntikan dana dari bank balik menyuntik pantatnya sendiri. Dia jadi sakit-sakitan setelah rumahnya disita bank. Gelang-gelang emas di tangan istri Bahlul juga sudah terlucuti. Ia jadi buruh cuci di rumah seorang dokter kandungan.

"Apa iya nasib kita mau kayak Bahlul,  Pak?" ratap istri Dulmakir ketika hari sudah sore tapi baru melayani satu pembeli.

Dulmakir membuka laci meja. Melihat uang logam dan lembar sepuluh ribu. Lalu melihat istrinya yang begitu panik. Baru kali ini Dulmakir menyadari istrinya sudah tidak pakai riasan.  Ia jadi tampak kusam. Keriput di sekitar kelopak matanya terlihat. Dulmakir sadar istrinya sudah jarang ke salon dan senam aerobic. 

"Ibu tampak tua," ujar Dulmakir.

"Ah, tak usah pikirkan itu, pikirkan toko kita ini, Pak."

"Memperbolehkan lagi tetangga utang ke kita atau tidak, toko ini tetap 'sakit' . Sudah terlalu banyak toko di sini. Sampai Tuhan mungkin bingung bagi rejeki. Ya, mau bagaimana lagi, Bu. Rejeki Dia yang ngatur. "
"Bapak terlalu keras. Toko di kampung ya sudah sewajarnya melayani orang utang. Tidak selamanya orang itu pegang duit. Nek lagi paceklik dan kepepet keberanian orang cuma satu: utang."

"Wajar itu kalau dibiarkan menggigit, Bu. Coba lihat catatan utang Sinem itu. Laki dan bini sama saja. Sudah dua juta,  sudah enam bulan. Ampleng. Giliran utang ke sini, kalau lagi punya duit ke toko sebelah. Ditagih melotot dan ngeles. Apa itu masih wajar!  Bukan bajingan! " suara Dulmakir meninggi.

"Mereka memang keterlaluan. Tapi 'kan tidak semuanya. Orang-orang bisa disortir,  dipilih, mana yang cacat watak dan mana yang tidak. Mana yang disiplin bayar utang dan mana yang ndableg. Kalau keras begini, ah,  tidak bisa dibayangkan nantinya. "

" Ini, ini...," Dulmakir bangkit berdiri.  "Yang membuat dagang orang pribumi tidak maju. Berdagang dengan perasaan kuat. Gampangan sama orang. Alih-alih bantu-membantu. Tanpa sadar menggerogoti dagangan."

"Yang saya maksud itu orang-orang pilihan, Pak. Jadi kalau ada orang mau utang, entah beras, minyak, sabun, kopi,  rokok, ya dilihat dulu orangnya. Dia bajingan atau bukan."

"Tidak.  Pokoknya Bapak tidak akan mengizinkan satu orang pun datang ke sini untuk utang. Harus bawa duit dan bayar! Apa minimart dan supermarket memperbolehkan orang utang?!  Tidak 'kan, Bu. Akibatnya bisnis berkembang dan lancar. Kita harus mendidik diri sendiri dan orang lain demikian. Kalau tidak,  masih gampangan, kita malah digigit. "

Bu Dulmakir diam. Suaminya sudah sangat keras pendirian. Kalau dilanjutkan jadinya bertengkar. Kata-kata suaminya ada benar dan salahnya. Benar karena kenyataan, salah karena tidak berkesesuaian dengan keadaan. Terlalu idealis suaminya. Tidaklah mungkin menyamaratakan tokonya yang terjepit di antara rumah-rumah miskin dengan minimart dan supermarket yang mentereng di pinggir jalan raya. Di sini berdagang dengan hati dan belas kasih,   di sana dengan nafsu serakah.

Ketika Dulmakir dan istrinya saling diam usai berdebat soal utang, Warti, adik bungsu Dulmakir datang dengan wajah yang cemas.

"Mas, boleh utang susu dan beras dulu. Wage belum kirim duit dari Kalimantan. Pertengahan bulan katanya baru dia kirim karena bos perkebunan sawitnya lagi ke luar negeri. Jadi gajiannya molor. "

"Tidak!" jawab Dulmakir tegas.

"Pak..., " istrinya memandang Dulmakir memelas. Sementara Warti tambah cemas.

"Tidak!  Di sini sudah tidak melayani pembeli yang utang. Apa kamu tidak baca tulisan itu,"  kata Dulmakir sambil menunjuk kertas yang ditempel di dinding kepada Warti.

Warti undur diri. Ia terlihat sangat sedih. Kakaknya yang terbilang berkecukupan dibandingkan kedua kakak dan kedua adiknya sama sekali tak punya hati.

Setelah kepergian Warti, istri Dulmakir menyemprot suaminya dengan marah.

"Pak, kita ini manusia! Punya perasaan! Punya hati! Adik kamu sendiri, ingat, adik kandung kamu sendiri, diperlakukan sebengis tadi. Apa Bapak sudah bukan manusia?!  Apa dengan memberi utang kita akan kehilangan segalanya?!  Tidak, Pak!  Tidak!  Harta dan kekayaan boleh hilang kapan pun juga,  tapi jangan kasih kita. Itu satu-satunya kita bisa jadi manusia."

Istri Dulmakir berhenti sejenak ambil nafas.  Dadanya naik turun.

"Pak, " lanjutnya. " Ada untungnya kita hidup di antara orang-orang kesusahan.  Saban hari kita dituntut untuk koreksi kesehatan hati. Setulus-tulusnya.  Mungkin tidak akan sekaya pemilik minimarket dan supermarket di sana, tapi kekayaan yang kita miliki lebih dari itu semua. Toko kita bisa bangkrut, tapi kebaikan kita jangan sampai bangkrut. "

"Cukup! Hentikan omong kosongmu itu!"
  bentak Dulmakir dengan badan gemetar.

Istri Dulmakir beranjak pergi meninggalkan Dulmakir. Ia masuk ke dalam rumah dan menggebrak pintu kamar tidur. Dulmakir masih melotot ke arah istrinya pergi. Tangan Dulmakir menggenggam kuat-kuat. Ia ingin menjotos apa pun juga di sekitarnya. Marahnya sudah berada di puncak. Perkataan istrinya sudah di luar perkiraan dan batas. 

Dulmakir seperti tidak terima digurui oleh istrinya. Tahu apa dia soal kebaikan? Toko ini adalah oase terakhir tempat minum dan bertahan hidup. Jadi mesti dikelola dengan disiplin dan pikiran.  Bukan perasaan. Sudah banyak korban toko bangkrut gara-gara leluasa memberi utang.

Dulmakir juga tahu dirinya telah melangkah jauh. Ia merusak tali kekeluargaan. Sikapnya begitu menyakiti adiknya sendiri bahkan orang-orang tak berdaya di sekitarnya. Ia mencoba tenang.
Satu yang tidak disadari Dulmakir. Di jalan adiknya yang sangat sedih bertemu Eti yang hendak belanja ke toko Dulmakir.

"Wati, kenapa matamu merah dan sembab begitu? " tanya Eti heran.

"Kakak saya benar-benar iblis. Ia menolak  saya karena datang mau utang. Beras dan susu sedang sangat saya butuhkan karena keterlambatan suami saya kirim uang." 

"Keterlaluan dan berlebihan," gumam Eti.
Pertemuan dengan Wati itulah yang membalikkan niat Eti. Ia akhirnya pergi belanja ke toko Bambang.

Di tokonya, Dulmakir masih terus menunggu pembelinya datang.  Terus menunggu...***
Share:

0 comments:

Posting Komentar