Minggu, 25 Desember 2016

The Flowers of War, Kala Pelacur Jadi Penyelamat Akhir

Sumber Gambar: nytimes. com
"Kadang, kebenaran adalah hal terakhir yang kita ingin dengar. " - Yu Mo

Bergunakah pelacur di dalam situasi perang?  Barangkali ini pertanyaan awal sebelum pesan itu disampaikan di film The Flowers of War. Film apik yang digarap bertolak dari Novel Yan Geling ini mengambil sebuah cerita dari perang yang memakan banyak korban  di Nanking,  Cina, 1937. Ketika itu tentara Jepang berhasil menduduki kota Nanking setelah pertempuran selama kurang lebih dua puluh hari. Kemenangan Jepang didukung peralatan perang yang lebih maju dibanding tentara Cina.

Pendudukan Jepang di Nanking mengakibatkan penduduk sipil kocar-kacir menyelamatkan diri. Banyak yang tidak selamat dari pelarian karena kebiadaban tentara Jepang. Sementara, tentara Cina yang dipimpin Mayor Li tidak cukup pasukan dan peralatan untuk melindungi penduduk sipil.

Di saat sisa pertempuran antara pasukan Jepang dan Cina itulah muncul John (Crishtian Bale) yang tengah berusaha menghindar dari lesatan peluru tentara Jepang. John sedang menjalankan misi gereja untuk merawat dan menguburkan Bapa Ingleman, pendeta gereja setempat yang tewas.

Perjalanan John mencapai gereja mempertemukannya dengan murid-murid Bapa Ingleman yang sedang berusaha bersembunyi dari kekejian tentara Jepang. John dan murid-murid akhirnya berhasil masuk gereja sebagai tempat perlindungan yang 'aman'  dalam situasi perang karena tempat yang dilindungi dari hukum internasional saat perang. Tempat yang tidak boleh diserang dan menjadi pusat palang merah.  John dan murid-murid disambut George, pria belasan tahun yang menjadi pembantu gereja.

Selang beberapa saat kemudian datang sekelompok pelacur dari rumah bordil di tepi Sungai Qin Huai yang berusaha masuk ke gereja untuk melindungi diri. Dari sinilah film The Flowers of War menengahkan sebuah konflik yang menurut saya sangat menyita hati.

Bagaimana mungkin pelacur, jika bukan karena perang, masuk ke gereja? Bukankah mereka hina dan kedatangannya pun pada awalnya sangat ditolak oleh George dan tidak disukai oleh murid-murid. Huh, sebagian besar orang bisa akan berpikir demikian, seakan tidak ada peran kebaikan apa pun dalam diri seorang pelacur.

Tapi benarkah demikian?  The Flowers of War mengisahkan dengan sangat mengharukan bagaimana para pelacur adalah penyelamat akhir orang-orang yang menuduhnya hina saat rakyat sudah kehilangan tentara sebagai pelindungnya.

Di rumah Tuhan itulah para pelacur menempati ruang bawah tanah. Mereka berucap dan bertingkah selayaknya perempuan nakal dan genit. John bertemu dengan Yu Mo, pelacur yang lebih dewasa dan berpikiran maju dibandingkan yang lainnya.  Mo memanfaatkan hasrat John untuk jadi pelindung seluruh pengungsi di gereja yang mayoritas perempuan. Ia menyarankan John memperbaiki truk yang rusak di depan gereja untuk membawa pengungsi keluar dari Nanking.

John menyamar sebagai pendeta gereja saat tentara Jepang dengan liar menyerbu gereja dan hendak memperkosa murid-murid perempuan muda. Namun, Mayor Li, satu-satunya  tentara Cina yang masih hidup berhasil mengalihkan perhatian tentara Jepang.  Ia akhirnya tewas dari serbuan tentara Jepang.

Peristiwa penyerbuan gereja mengundang perhatian perwira tinggi militer Jepang. Perwira ini sangat menyukai musik, ia dilihat cukup manusiawi,  dan memberi perlindungan lebih kepada gereja. Tapi, kebaikan perwira tinggi Jepang itu akhirnya terkuak saat dirinya meminta murid-murid untuk bernyanyi di perayaan pesta kemenangan Jepang atas Nanking.

Apa artinya itu?  Ya, bernyanyi di dalam pesta Jepang merupakan penghinaan sekaligus pemerkosaan massal. Undangan menyanyi adalah alibi. Mereka menginginkan keperawanan murid-murid yang masih belasan tahun itu. Lantas siapa yang bisa menyelamatkan anak-anak itu ketika tentara telah gugur? Sedikit disinggung di atas: Para Pelacur tersebut.

Para Pelacur itulah yang akhirnya menggantikan posisi murid-murid.  Mereka yang akan pergi ke pesta Jepang. Mereka sudah terbiasa dan terlatih untuk urusan laki-laki. Tidak cuma itu: siap mati untuk orang lain. Dan, John mengambil peran merias dan mendandani para pelacur itu semirip mungkin dengan murid-murid. Tampaknya semua keahlian bertemu di sini. John adalah juru rias dan makam gereja.

Akhir cerita film bisa ditonton sendiri.

The Flowers of War menghadirkan sebuah wacana unik di balik kehidupan perang. Perang adalah hal dimana kebaikan dan keburukan sulit ditemukan. Dari hal yang dianggap buruk justru menjadi hal penuh kebaikan dan kasih. 'Bunga-bunga' itu tumbuh di medan perang menampilkan kebaikan yang mahal dan penuh pengorbanan.  Meskipun dalam hidup yang normal mereka menjual tubuhnya dan objek kehinaan. Tapi siapa sangka  dalam perang yang menentukan hidup dan mati, para pelacur adalah penyelamat akhir dari hidup orang-orang yang membencinya?

Ya,  kita manusia seringkali berlaku jumawa atas kebaikan dan kesucian yang dianggapnya sendiri,  gampang merendahkan orang lain. Kita tidak tahu,  entah kapan dan dimana, seseorang yang kita pandang sebelah mata justru jadi penyelamat hidup kita. Secara tersirat,  The Flowers of War ingin mengatakan demikian. Humanisme adalah segalanya dari kehidupan yang tidak pasti. Jangan sesekali benar dan menang sendiri.

Hampir susah untuk menemukan kekurangan dalam film ini. Hanya ada  yang sangat kasar dan kontras tentang perilaku buruk dan keji tentara Jepang. Perilaku suka memperkosa rakyat sipil hampir jadi cerita (benar atau salah) setiap tentara Jepang, termasuk di Indonesia yang pernah diduduki Jepang.

The Flowers of War jadi refensi apik nonton film apalagi di momen natal.  Meski film ini dirilis sudah lama (2011). Tapi masih cukup baik dan relevan nilai dan pesannya.
Mengharukan....
Share:

0 comments:

Posting Komentar