Sabtu, 03 Desember 2016

Kemenangan 212: Limbad Jadi Bicara

Sumber foto: galamedianews. com
Kemenangan kecil dari unjuk rasa 212 kemarin adalah membuat limbad mau bersuara. Tentunya ini 'suara emas'. Seperti yang diberitakan  SindoNews. com pada  2 Desember 2016 pukul 17.42, Limbad bersuara agar Ahok ditangkap dan ditahan. Ia hadir dalam unjuk rasa 212 bersama  rombongan dan bergabung dengan para ulama di panggung.

Selama ini Limbad dikenal sebagai pesulap 'bisu'. Sebagian publik percaya bahwa Limbad tuna suara.  Sisanya ragu-ragu percaya. Limbad cuma akting bisu saja. Tapi, 212 mengonfirmasi bahwa Limbad memang bisa bicara.  Artinya selama ini Limbad sekedar akting jika di panggung pertunjukan dan di depan publik. Membohongi penonton.

Memang sudah jadi jalannya pesulap menebar kebohongan.  Kebohongan yang dimaknai sebagai hiburan. Tidak salah. Sah saja.  Limbad merupakan bagian dari penyampai itu. 

Kini setelah publik tahu bahwa Limbad benar-benar bisa bersuara atau berbicara,  apakah dia akan tetap bisu seperti biasa?  Dia (Limbad) bisa tidak menarik lagi.  Seperti trik sulap yang sudah diumbar di muka umum. Padahal kebisuannya yang dipadu dengan kehebatannya menjalankan sulap ekstrem adalah rahasia dirinya dan nilai harga di dalam jagad hiburan. 

Suara emas Limbad karena merasa terpanggil menjalankan tugas suci menjadikan bangunan panggungnya bolong. Dia rupanya selama ini telah mencampakan anugerah Tuhan dengan pura-pura bisu.  Dan,  212 sekaligus telah membuka kedok master Limbad,  selain menelanjangi tuduhan penistaan agama  oleh Ahok.

Ada hal yang lebih implisit dari bersuaranya Limbad.  Suara politik atau suara keyakinannya?  Tentu akan jadi lebih sulit mengetahuinya karena Limbad mungkin sekali seumur hidup bersuara. Penontonnya bagaikan menunggu komet Lovejoy lewat di langit. Ia akan kembali ke dalam bahasa isyarat, membuat jengkel lawan bicaranya,  dan memungkiri kebenaran dirinya sendiri. Jika ini yang terjadi niscaya Limbad tidak menarik lagi.  Sebab panggungnya telah bolong.

Adalah lebih baik Limbad meneruskan suara dan bicaranya, bukan untuk politik tetapi untuk keyakinannya sendiri.  Karena bisa saja panggungmu yang bisu itu sudah karatan dan saatnya beralih panggung penuh teriak dan suara.

Mana suara emasmu lagi Limbad? Membayangkanmu menyanyi Rock n Roll di panggung.
Share:

0 comments:

Posting Komentar