Minggu, 27 November 2016

Jeni Pulang




Oleh Mugianto

Akhir-akhir ini Dulmakir selalu terbangun tengah malam. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Seperti ada batu yang mengganjal di kepalanya. Batu itu sudah terlalu menyiksa dan merusak keluarganya. 


Kadang Dulmakir harus terjaga sampai azan shubuh. Matanya benar-benar sulit terpejam kembali. Ia habiskan untuk merenung di meja kamar. Kopi dan rokok jadi teman setianya. Lama-lama berpikir dan cari solusi ujungnya buntu. Batu di kepalanya tidak pecah. Tetap jadi beban.  


Beban pikiran yang mengganggu tidurnya sebenarnya disulut hal sepele. Sore kemarin istrinya, Jeni, menangis meraung-raung. Salah satu teman facebook-nya menghinanya ‘babi gendut’. Kejadiannya bermula saat Jeni mengunggah foto dirinya. Ia ingin memamerkan gaun putih barunya. Hadiah dari Dulmakir di hari ulang tahunnya. Jeni yang genit dan manja justru merasa tersinggung oleh komentar temannya itu. Ia mengadu ke Dulmakir.


“Pokoknya Papa harus seret perempuan sialan itu ke penjara!” kata Jeni melengking-lengking hingga membuat Dulmakir malu. Takut tetangga mendengarnya.


“Papa itu polisi,” lanjut Jeni sambil menangis. “Papa penegak hukum. Orang lain saja dengan gampangnya Papa jebloskan ke penjara karena menghina martabat manusia jika bukan Tuhan. Kenapa Papa cuma diam istrinya dihina!”


Dulmakir memang cuma bisa diam. Ia tidak habis pikir istrinya begitu kekanakan. Dulmakir tatap istrinya yang tergolek di tempat tidur. Belum habis rasa penatnya dari kantor menangani banyaknya aduan penghinaan, kini ia harus mengelus dada menghadapi istrinya. 


Emosi terhadap istrinya yang menangis berguling-guling membuat Dulmakir berteriak.


“Tidak akan ada pengaduan dan tidak akan ada proses hukum! Hentikan! Tolong, hentikan tindakan bodohmu itu!”


Seketika Jeni bangkit dan menampar pipi Dulmakir. Ia mengancam akan mengadukan ke orang tuanya. Jeni akan katakan Dulmakir tidak lagi setia dan sayang pada dirinya. Dulmakir lebih memilih dan membela orang-orang asing. Dan, Jeni pun memutuskan meninggalkan Dulmakir. Anak pertamanya yang baru berusia lima tahun ikut diangkut oleh Jeni.


Sudah hampir empat hari Jeni di rumah orang tuanya. Acapkali Dulmakir terbangun tengah malam ia merasakan sedih sendiri membayangkan masa depan rumah tangganya. Apakah akan berakhir dengan memuakkan dan memalukan? Oleh sesuatu yang menurutnya sangat remeh temeh. Penghinaan! Olokan! Dulmakir mengusap-usap kepalanya tiap kali memikirkan betapa rapuh dan kekanakannya peradaban manusia dewasa ini. 


Hari-hari kerja Dulmakir dipenuhi laporan-laporan kasus penghinaan di media sosial. Sejak Jakarta diserbu ribuan massa yang ‘merasa’ dihina kitab sucinya. Dulmakir panik dan gelisah. Bukan karena demonstrasi, desas-desus makar, dan perpecahan, akan tetapi peradaban manusia yang kekanakan. 


Kini peradaban kekanakan itu justru menjangkiti keluarganya. Jeni dan anaknya telah hilang dari pandangnya.

***

Minggu pagi adalah hari ketujuh Jeni meninggalkan Dulmakir. Di bangku bambu tergeletak koran yang beberapa menit lalu di antar loper. Dulmakir baru saja mengaduk kopi sebelum memungut koran langganannya di teras rumah. Matanya sayu kurang tidur. Ia membaca headline. Masih kasus dan berita yang sama. Koran ini tampaknya cuma menyajikan berita perkembangan. Dulmakir tidak tertarik membacanya. 


Di hari libur ini Dulmakir merindukan anaknya. Jeni telah menyiksa batinnya. Di saat-saat memikirkan anaknya Dulmakir ingin menyusul ke rumah mertuanya. Setidaknya dapat merayu Jeni untuk pulang ke rumah. Tapi, egois kelelakiannya begitu besar, hingga Dulmakir mengurungkan niatnya. 


“Jeni tentu akan tinggi hati kalau aku menyusulnya. Orang tuanya yang hampir sama sifatnya dengan Jeni akan menceramahiku. Sementara, prinsip dan pekerjaan bagiku tidak akan pernah diaduk dengan masalah pribadi. Jeni kecewa, biarlah. Ia harus belajar mengakui diri dan menghumori keberadaannya sendiri. Ia memang gendut, putih, montok, dan apa salahnya orang berkomentar, “babi gendut”. Aku saja bisa tertawa mendengar itu. Andai semua orang punya selera humor yang bagus tentu tidak ada saling lapor dan saling hina. Anggap saja humor. Ya, humor.” 


Dulmakir masih duduk dengan tenang. Berpikir dan berkata pada dirinya sendiri.


“He, aku jadi teringat pelawak Inggris tersohor itu, Charlie Chaplin, yang mengatakan, “a day without laughter is a day wasted.” Benar, hidup ini akan jadi banyak petaka kalau segala sesuatunya dianggap serius. Perlahan justru akan membunuh diri sendiri. Bukankah orang tua menciptakan anak dengan perasaan bahagia dan saling bercanda di atas tempat tidur?  Dengan toleransi yang amat tinggi hingga tidak mengganggu yang lainnya.”


Dari pintu gerbang rumahnya terlihat seorang bapak menuntun anak gadisnya. Mereka menghampiri Dulmakir. 


“Pagi Pak Dul!” sapa bapak itu tegas.


“Pagi. Ada keperluan apa bapak ke sini?” 


“Saya mau lapor, Pak. Lebih cepat diurus lebih baik. Saya sudah tidak tahan dengan ini.”

“Lebih jelasnya.”


“Anak perempuan saya ini mengalami penghinaan, Pak. Ia sakit hati dan menangis semalaman.”


Dulmakir menghela napas. Menatap anak perempuan bapak itu yang tertunduk lesu.


“Apanya yang dihina?”


“Anu, dia bilang temannya menghinanya anak pelacur. Padahal itu masa lalu istri saya.”


“Terus. Siapa yang menghina?”


“Hm…saya kurang tahu itu, Pak. Anak saya cuma memperlihatkan hapenya. Saya juga sendiri tidak mudeng, kok bukan orang malah hape yang ditunjukin ke saya.”


Dulmakir mengalihkan perhatiaan ke anak perempuan bapak itu.


“Siapa yang menghina, dik?” tanya Dulmakir.


“Teman facebook,” jawabnya singkat


Si bapak langsung mengajukan pertanyaan ke Dulmakir.


“Apa itu facebook, Pak? Siapa dia? Biar aku hajar!”


Dulmakir ingin tertawa sejadi-jadinya.


“Pak, facebook itu,” Dulmakir berpikir mencari bahasa yang mudah. “Facebook itu, hm…begini saja, sulit menjelaskannya. Anak bapak ini cuma bawa perasaan yang sebenarnya tidak apa-apa. Toh, itu benar, cuma salah tempat saja. Lebih baik bapak jaga anak bapak. Dia tidak dihina, cuma temannya mengajak bercanda. Salah pengertian,” jelas Duklmakir saat tidak menemukan kata-kata yang mudah menjelaskan facebook kepada bapak ini.


“Tapi dia menangis semalaman, Pak. Dia tersakiti dan yang menyakiti mesti dipenjara,” kekeh si bapak.


“Tidak ada pidana. Sudahlah. Bapak pulang dan lebih baik lagi jaga anak bapak baik-baik.”

Bapak dan anak perempuan itu pulang. Dada Dulmakir terasa sesak. Belum selesai masalah dengan istrinya, datang lagi masalah kanak-kanak yang mau membuat kepalanya meledak. Apa tidak masalah etis dan moral itu diselesaikan secara kekeluargaan, apa manusia sudah sebegitu manjanya?


Sejam kemudian datang lagi bapak dan anak perempuannya. Kali ini anak perempuannya itu terlihat mukanya babak belur.


“Brigjen Dul,” sapa si bapak.


“Ya. Ada apa lagi ini. Sejam lalu baru saja bapak dan anak perempuannya datang kemari gara-gara penghinaan. Apa bapak juga akan cerita yang sama?”


“Bukan, Pak Dul. Ini persoalan manusia. Benar-benar manusia. Anak perempuan saya ini dipukuli oleh majikannya di Jakarta, tidak digaji, dan baru pulang tadi malam di antar oleh orang baik.”


Dulmakir berubah antusias. Mukanya tegang.  Inilah persoalan dan kasus yang mesti diurusnya.


“Lalu?”


“Ya, Pak Dul. Sebagai penegak hukum yang kebetulan tinggal di sini sekiranya bapak mau membantu anak saya.”


“Siap pak!” jawab Dulmakir cepat dan tegas. “Besok datang ke kantor saya.”


Setelah si bapak dan anak perempuannya pergi, Dulmakir merasa sebagai manusia. Semangat dan jiwa kemanusiaannya memancar. Masalah keluarganya jadi buyar. Batu di kepalanya serasa pecah. Pilihan terbaik untuk istrinya baru terpikir untuk sekadar mengirimkan pesan WhatsApp: marahnya sudah selesai belum? kalau sudah, pulang ya. Itu saja.



Tengah Malam, 27 November 2016
Share:

0 comments:

Posting Komentar