Senin, 28 November 2016

Fidel Castro Jadi Hikayat


Kematian Fidel Castro,  25 November 2016 lalu, mengundang simpati banyak pihak. Terutama dari arus gerakan kiri, jika bukan disebut Marxis-Komunis, yang begitu mengilhami praktik dan pidato-pidato Fidel Castro. Hal ini karena Castro merupakan satu-satunya sosok atau praktikus Marxis yang tersisa setelah kawan-kawannya di dunia raib ditelan badai revolusi proletariat di awal-awal 'candu revolusi'  pada pertengahan abad ke-20. Mao Tse Tung, sosok akhir usai kematian Lenin pun menghadap Yang Maha Kuasa sebelum melihat betul keberhasilan diktaktor proletariat yang dimotorinya dan kemudian 'dikencingi' oleh Deng Xioping.

Di Asia sendiri praktik komunis masih diterapkan di Republik Rakyat Korea Utara. Sayangnya sosok Kim tidak lebih sedap dipandang dari sosok Fidel Castro.  Entah termakan propaganda Barat atau memang praktik Korut sudah keluar jalur dari epistemologi dan aksiologi Marxisme. Sehingga tidak mengundang decak kagum seperti Castro yang telah membawa Kuba pada perkembangan masyarakat 'mirip'  konsep komunisme.  

Dari beberapa bukti-bukti yang sering dilontarkan aktivis komunis di Indonesia,  Kuba dikabarkan sanggup memberikan pangan dan sandang cukup,  pendidikan dan kesehatan gratis, dan salah satu negara yang banyak menyumbangkan dokter untuk misi-misi kemanusiaan di dunia.

Keberhasilan Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro menyulut banyak iri hati pejuang 'merah'  di beberapa negeri. Tidak terkecuali di Indonesia, banyak yang ngotot untuk mengikuti jejak Castro dan Kuba. Kuba bisa mandiri dan komunal  dibawah tekanan embargo Amerika Serikat untuk membawa standar atau cita rasa kehidupan yang baik. Kenapa di sini tidak?

 Perjuangan Castro bersama Che Guevara serta pasukannya dapat dijadikan rujukan dan ditiru oleh mereka (aktivis komunis) di mana pun untuk menggulingkan kekuasaan borjuis terutamanya imperialisme Amerika Serikat.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Castro telah wafat tanpa perlu Amerika Serikat menyusun beribu siasat lagi membunuh Castro yang berulang kali gagal. Di lini media sosial, baik aktivis atau bukan yang begitu mencintai sosok Castro menebar komentar dan kata-kata Castro semasa heroiknya.  Dengan menebar quote Castro artinya menandakan secara tidak sadar untuk mengatakan bahwa 'perlu melakukan' apa yang diucapkan sosok yang diidolakannya. Ya,  cukup beralasan ketika gerakan ekonomi politik komunis tengah kalah pamor dengan aksi kaum agamawan.

Castro lambat laun akan menjadi hikayat.  Hikayat merupakan kisah atau cerita yang bisa benar dan bisa salah. Benar karena dia adanya,  terjadi,  dan ada keberadaannya.  Salah karena unsur propaganda yang masuk ke dalamnya sehingga disesuaikan dengan kepentingan politik.  Bisa ditambah dan dikurangi. 

Hikayat selamanya akan hanya jadi obrolan santai. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kadang obrolan itu di warung kopi,  cafe, kampus,  atau malah di tempat-tempat prostitusi. Karena kapitalisme telah melewati sejarahnya dan kemajuannya membawa perkembangan masyarakat dewasa ini.  Lagian, mengutip Goenawan Mohamad, "revolusi tidak bisa di-copy". Tidak ada plagiat revolusi. Tapi boleh dikagumi.

Selamat jalan Fidel Castro, kisahmu akan jadi hikayat abadi, dan perjuanganmu akan membentur gelas kopi. Sebab kapitalisme lambat laun benar-benar memikat dan membuat jatuh hati. Orang bilang, kebencian jalan paling sering berakhir ke muara percintaan. Untuk itulah,  semakin membenci kapitalisme semakin jatuh cinta kepadanya.
Share:

0 comments:

Posting Komentar