Sabtu, 30 Juli 2016

Terombang-Ambing

                        Oleh: Mugianto
Ilustrasi
Selesai sudah ciptaan Tuhan itu. Ketika semua runtuh. Pecah. Hancur lebur menjadi kegelapan yang sangat mencekam. Warna-warna memudar dan hilang begitu saja. Suara-suara lenyap dimakan kesunyian yang pekat. Aku sendiri diperintahkan untuk tetap hidup. Entah kenapa. Terombang-ambing di antara amukan lautan dan badai.
 
Aku diserukan menuju neraka. Tidak seberapa penting alasannya, tetapi betapa penting perjalanannya. Untuk itu, aku putuskan memulai perjalanan. Tanpa perahu. Oh, kesaktian itu nyata. Kakiku sanggup menapak di atas air yang diaduk-aduk oleh badai. Awalnya terasa sempoyongan. Mirip lelaki mabuk setelah meneguk ciu. Selang lebih dari sepuluh langkah semua menjadi biasa dan baik. Aku bisa berjalan tegak diterjang badai. 

Perjalanan ke neraka adalah tugas tidak suci. Karena sebagian besar manusia yang pernah di bumi menolaknya. Mereka lebih memilih dan memaniskan surga. Tempat idaman yang dicapai dengan kebenaran masing-masing. Kebenaran yang dimengerti sendiri tetapi dipaksakan kepada orang lain. 

Aku tidak membawa kebenaran. Aku membawa kebahagiaan untuk menuju ke neraka. Sepanjang perjalanan aku paksakan untuk tertawa sendiri. Gemuruh badai meleleh akibat kekehanku sendiri. Dan pada itu, aku menemukan pengertianku sendiri. Ketidakteraturan atau kekacauan itulah sumber kehidupan. Ada makna-makna yang tergantung di tiap ranting pohon-pohon kekacauan. Seperti badai yang kacau, tidak teratur, dan menyulut lautan yang tenang jadi kacau pula. Makna-makna itu berserakan bagaikan ikan-ikan yang mati karena badai tadi. Ikan-ikan itu akan dimakan oleh perut kelaparan. Boleh dikatakan, kekacauan akan menemukan bentuk kekosongan, selanjutnya kekosongan adalah bejana dipenuhi makna.

Lalu, benarkah Sidharta Gautama itu pergi ke surga? Tiba-tiba saja pikiran itu muncul dalam perjalananku ke neraka. Aku takut dia menipuku. Bagaimana mungkin dia mendapati kekosongan sebelum menikmati kekacauan? Aku sedikit berharap dapat menemuinya di neraka. Bila keberuntungan ada padaku: melihatnya di sana. 

Sudah dua kilo meter berjalan tapi belum kulihat neraka. Sementara ombak lautan semakin menggulung-gulung dan badai semakin ganas. Dari catatanku digambarkan: apabila melihat api berkobar-kobar berarti itu neraka. Di jauh sana belum tampak. Aku rasa letaknya masih jauh.

Tatkala aku berjoged-joged sebentar untuk menambah kebahagiaan, seekor naga putih mematuk pantatku.

            “Awwwaw!!” jeritku kaget sambil tertawa. “Siapa kamu?”

            “Ha-ha-ha, Naga Putih.”

            “Jangan bercanda kamu. Kulitmu hitam begitu.”

            “Ha-ha-ha. Ini lulur dodol!”

            “Lulur? Ha-ha-ha.”

            “Hei! Jangan tertawa mengejek seperti itu,” kata Naga Putih agak sewot. “Tapi..tak apa-apa, ha-ha-ha,” celotehnya kemudian.

            “Sekarang kamu mau apa?” tanyaku.

            “Berkelahi.”

            “Ha-ha-ha,” tawaku makin keras. “Aku diutus untuk ke neraka.”

            “Aku tahu. Aku diutus untuk berkelahi denganmu.”

            “Ha-ha-ha. Aku tidak bisa berkelahi. Aku sedang bahagia begini,” ujarku merendahkan diri.

            “Ha-ha-ha..kamu pasti takut, bukan..ha-ha-ha.”

            “Aku tidak takut pada siapa pun termasuk kamu dekil, ha-ha-ha.”

            “Sudahlah. Kita berkelahi,” minta Naga Putih memaksa.

            “Baiklah,” aku menarik nafas. “Pukul aku sekarang.”

Naga Putih memandangku bingung. Ia memilin-milin kumisnya. Ekornya dikibas-kibaskan. Aku tertawa melihatnya. 

            “Sebentar,” kata Naga Putih bimbang dan wajah yang tiba-tiba memerah.

Aku semakin yakin Naga Putih tidak akan berani memukulku. Akan tetapi, melihat wajahnya yang semakin memerah nyaliku jadi ciut. Jangan-jangan dia benar-benar akan memukulku. Lalu aku akan terkapar bersimbah darah. Mati. Ah, perjalananku ke neraka akan gagal. Akhirnya aku pasang kuda-kuda. Siap menghadapi pukulan Naga Putih. Aku menduga-duga dimana Naga Putih akan mendaratkan pukulan. Muka, dada, pantat, kaki, atau…? Aku tidak bisa membayangkan kalau pukulan Naga Putih mendarat persis di alat kelaminku. Keringat dinginku keluar. Aku bertambah siap siaga. Posisi kuda-kuda aku ubah jadi posisi tengu-tengu. Berjalan mundur, mundur, mundur dengan pelan.

Aku memperhatikan Naga Putih dengan fokus. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan dugaan.

            “Bangsat! Dimana toilet?!” teriak Naga Putih histeris.
Aku tercengang.

            “Aku lagi mencret, cuk. Dimana toilet?! Takut kapicirit!”

            “Ini di atas laut, goblok. Tinggal crot di sebelah sana, sana…” Aku menunjuk supaya dia agak menjauh dariku. Hidungku mulai kututup dengan tangan. Brengsek sekali ini naga, batinku. 

            Naga Putih menjauh dariku sekitar sepuluh meter. Tanpa pikir panjang Naga Putih mengeluarkan semua isi perutnya yang mencair. Aromanya sangat busuk. Sampai-sampai masih menembus hidungku yang kututup lebih rapat menggunakan kedua telapak tangan. Apa yang dimakan Naga Putih itu hingga aroma beraknya busuknya minta ampun? Manusiakah, ikankah, burungkah, aku tak habis pikir. 

            Yang paling menjengkelkanku kepada Naga Putih, dia nyengir saat menekan kuat-kuat beraknya dari dalam perut. Sepertinya dia sudah merasa menang denganku walaupun belum adu jotos. Sayangnya aku sedang di atas laut. Tak kutemukan batu untuk kulempar ke mukanya. Oh, badai singkirkan aroma busuk beraknya jauh-jauh dariku. 

            Setelah cebok dengan air laut yang dingin, Naga Putih kembali mendatangiku. Masih dengan nyengir yang menyebalkan. Dia terlihat puas dan siap menerkamku.

            “Ha-ha-ha, leganya,” Naga Putih girang. Aku memasang kembali kuda-kuda.

            “Kenapa kamu tegang begitu?” tanya Naga Putih melihat sikapku.

            “Bukankah kamu akan berkelahi denganku? Cepat hajar aku. Waktuku tak banyak meladenimu. Aku harus cepat-cepat ke neraka.”

            “Ha-ha-ha. Kamu percaya diri sekali sanggup mengalahkanku. Kamu akan mati di sini. Cukup sampai di sini perjalananmu.”

            “Aku tidak rela mati oleh naga yang terserang diare. Cihh…! Harga diriku melorot.”

            “Ha-ha-ha…Ha-ha-ha.”

            “Tunjukkan kemampuan maksimalmu.”

            “Ha-ha-ha.”

            “Ha-ha-ha,” kali ini aku tertawa dibuat-buat. ”Itu saja yang kamu bisa lakukan: tertawa.”

            “Santai, musuhku. Bagaimana kalau kita menghisap ganja dulu?”

            Tawaran Naga Putih menarik perhatianku. Tampaknya Naga Putih tidak serius menatangku.  Ia mengeluarkan satu linting ganja. Badai tidak menghentikan usahanya membakar lintingan ganja. Dengan sekali semburan api dari mulutnya, lintingan ganja itu terbakar. Akan tetapi, lintingan ganja itu malah terbakar seluruhnya karena semburan apinya terlalu besar.

            “Bodoh sekali kamu naga,” ejekku.

            “Ha-ha-ha..”

Akhirnya Naga Putih mengeluarkan lintingan ganja kedua. Kali ini Naga Putih mencoba mengatur semburan api dari mulutnya. 

            “Usahakan apinya seperti api dari korek api,” kataku sedikit memerintah.

            “Bawel.”

Mulut Naga Putih menyemburkan api kecil persis api yang keluar dari korek. Ujung lintingan ganja terbakar. Naga Putih menghisap kuat-kuat. 

            “Sini,” panggil Naga Putih kepadaku untuk mendekat. Ia mengulurkan lintingan ganja padaku. Aku tak menolak. Ikut menghisapnya.

            Aku dan Naga Putih tertawa-tawa sepuasnya di tengah kecamuk badai dan lautan yang tidak terkendali. Setiap kalimat yang terucap dari mulut kami adalah bahan tertawa yang gurih. Aku melupakan sejenak tugas tidak suci untuk ke neraka. Langit yang gelap gulita dan kehidupan yang sudah runtuh tiba-tiba berubah menjadi warna-warni. Aku dan Naga Putih tiduran telentang memandang langit. Warna yang keluar sangat mencolok, dari biru, berganti ungu, berganti merah, dan seterusnya. Awan-awannya bukan putih tapi gradiasi warna yang sangat indah. Bulan terlihat seperti bola salju yang menggelinding di antara warna-warna langit. 

            “Naga Putih,” sapaku.

            “Ha-ha-ha.”

            “Aku akan ke neraka.”

            “Ha-ha-ha.” Naga Putih masih tertawa.

            “Benar. Aku akan ke neraka.

            “Kita berkelahi dulu, ha-ha-ha,” jawab Naga Putih.

            “Itu yang tidak bisa kita lakukan.”

            Lalu, kami tertawa keras berdua: Ha-ha-ha-ha.***

  
Bisa Bersambung, Bisa Tidak…                  
Share:

0 comments:

Posting Komentar