Sabtu, 09 Juli 2016

Dulmakir

Oleh : Mugianto

Selepas lulus kuliah Dulmakir nganggur. Dia tetap masih mengutuki negara. Bedebah! Negara tidak bertanggung jawab! Makinya dalam hati. Dulmakir berpikiran nasib dirinya karena negara. Negaralah yang membuatnya lontang-lantung. Negaralah yang hingga kini menjadikannya seonggok berak di atas kasur kamar kontrakan. Lagi, negaralah sumber dari kemarahan orang tuanya karena masih meminta dikirimi uang. Dulmakir tidak tahu: negara sejenis monster yang mengerikan. Tidak ada harapan bergantung dan meminta hidup kepada monster. 

Telpon pintarnya berdering. Mamanya menelponnya.

            “Dul,” sapa mamanya dari jauh kota sana.

            “Iya, Ma,” jawab Dulmakir uring-uringan. Disapunya ketep di sudut matanya dengan jarinya. Jam 12 siang dia bangun tidur.

            “Cobalah buat lamaran kerja,” perintah mamanya. “Mama dengar Chevron buka lowongan kerja. Anak teman mama, kamu ingatkan, Stefano, dia saja baru kirim surat lamaran pagi tadi. Dia bilang ada juga untuk posisi lulusan sarjana politik.”

            “Ah, Dul tidak ingin bekerja di perusahaan, Ma, apalagi asing! Mereka itu imperialis yang merampok sumber daya alam kita.”

            “Dul, dengerin mama. Yang terpenting kamu kerja, dapat gaji besar, dan buat bangga orang tua.” Mamanya diam sejenak, lalu berkata lagi. “Dul, kamu tidak ikutan organisasi teroris ‘kan? Kamu semakin aneh akhir-akhir ini, bicaranya tidak jelas, sulit mama pahami.”

            “Tidak, Ma. Dul tidak sejalan saja dengan pikiran mama.”

            “Mama tidak minta apa-apa sama kamu, Dul. Mama cuma ingin kamu mandiri dan kerja. Itu saja. Mama malu dan bingung kalau saudara dan tetangga nanyain kamu setelah lulus.”

            “Jawab saja, Ma. Dul kerja sebagai ahli sedot WC.”

            “Serius mama, Dul.”

            “Dul juga serius. Sudahlah, Ma. Dul mau tidur lagi.”

Dul! Dul! Mamanya masih manggil-manggil di telpon sebelum Dulmakir mematikannya. Telpon pintarnya di lempar  ke keranjang pakaian kotor. Ia membenamkan mukanya ke bantal. Tangan kanannya masuk ke dalam celana kolornya. Mulai menggaruk daerah ‘vitalnya’.

Kamar Dulmakir berantakan dan jorok. Sisa nasi dan cemilan berserakan di lantai. Banyak semut dan kecoanya. Baju, celana, dan kancut  kotor ada dimana-mana, termasuk di bawah badannya. Buku-buku yang kebanyakan tentang teori dan praktik revolusi sosial ala Marxis pun tidak tertata di rak buku. Berceceran. Mungkin inilah yang menyebabkan Dulmakir suka menggaruk-garuk daerah ‘vitalnya’. Kuman-kuman mencintai Dulmakir.

Dulmakir tertekan oleh kata-kata mamanya barusan. Pikirannya kacau. Berkali-kali ia membolak-balikkan badannya di atas kasur. Ia ingin esok terjadi revolusi, buruh-buruh bebas dari majikannya, semua pabrik jadi milik klas buruh, dan jam kerja dipendekkan. Dulmakir membayangkan dirinya menjadi pembebas sejati, dihormati dan dipuji oleh klas buruh, namanya dikutip di berbagai buku, dan foto dirinya di pajang di setiap tembok rumah klas buruh. Ia menempati istana negara, minum bir, dan berdansa. Sesekali turun ke lahan pertanian, berpose mencangkul, wartawan memfotonya, lalu dimuat di harian yang dikendalikan penuh dirinya. Tanpa sengaja tangan Dulmakir menyentuh mouse kecil laptopnya. Ia kaget laptopnya semalam belum dimatikan. Terlihat jendela video adegan porno belum dia tutup. Seketika lamunan dirinya jadi buyar. Ia segera mematikan laptopnya.

Untuk saat ini Dulmakir berpikir mencari jalan keluar dari masalah pengangguran yang dituduhkan padanya. Dulmakir merasa dia bukan pengangguran, tapi pekerja rakyat. Dari desa ke desa, dia mengumpulkan kaum tani untuk berorganisasi. Dari pabrik ke pabrik, dia mengumpulkan kaum buruh untuk berserikat. Ya, Dulmakir, sosok pembebas! Orang-orang justru harus menghormatinya sebagaimana mereka mencintai Soekarno. Dulmakir duduk menerawang di sudut kamar sambil menghisap rokok merk Gudang Garam.

Masyarakat yang Dulmakir anggap diracuni ide-ide liberalisme tidak paham bahwa dirinya seorang pejuang. Sebagaimana pejuang, dia tentu tidak hidup normal. Jarang pulang rumah karena tur padat menggerakkan orang-orang demonstrasi. Makan satu atau dua kali sehari, tanpa meja makan, karena harus merasakan penderitaan rakyat. Rambut panjang karena lupa keterusan pergi ke tukang cukur. Hanya satu kata dipikiran Dulmakir: revolusi!.

Dulmakir pernah menulis sajak pendek. Ditulis di bawah pohon sengon, di pinggir kali, di dekat kerbau yang sedang istirahat. 

—Bila perempuan datang padaku, secantik apapun itu,
            Kukatakan, aku hanya untuk revolusi
 Bila orang tuaku datang padaku, sebaik apapun itu,
            Kukatakan, aku adalah anak revolusi
  
Dulmakir oh Dulmakir! Dia masih menikmati kepulan demi kepulan asap rokoknya. Sementara, hujan sore mulai turun. Udara menjadi dingin. Dulmakir tak menghiraukan detik dan menit waktu. Dadanya makin bergemuruh mengingat kembali setiap perkataan dan permintaan orang tuanya. Betapa memalukan orang tuanya memintanya untuk bekerja kepada imperialis. Dulmakir tidak akan mengambil keputusan menjadi seorang buruh. Andil bagian dalam sistem kerja kapitalis yang menghisap. Ini menghinakan! Bodoh! Dulmakir adalah pembebas! Dulmakir adalah pejuang! Dulmakir adalah pelayan rakyat dan harus hidupnya dibiayai massa rakyat.  Jika perlu, berak di toilet berbayar pun harus dibiayai massa rakyat. Bensin motor untuk mobilitas kerjanya juga dibiayai massa rakyat. Tidak peduli massa rakyat dari petani miskin dan buruh miskin itu. Asal dijejali harapan tanah, upah, dan sebagainya, mereka akan rajin bayar iuran organisasi, meski uang saku anaknya sekolah dipangkas.

Senyum Dulmakir mengembang saat keputusan jalan hidupnya dinilai paling benar. Untuk apa dirinya mengikuti ribuan orang antri melamar pekerjaan di acara-acara job fair. Untuk apa dirinya pergi ke kantor pos melihat papan pengumuman lowongan kerja. Untuk apa semuanya, jika akhirnya jadi pelayan kapitalis. Diperas tenaganya. Jalan Dulmakir dinilai cukup, yakni hidup dibiayai massa rakyat. Maka dari itu, Dulmakir pikir harus lebih banyak baca buku kiri, melihaikan komunikasi propaganda, memperbanyak anggota-anggota demi memperbesar iuran dan aset-fasilitas, sehingga akan membawa kemakmuran bagi dirinya. Oh, Dulmakir brilian!

Kecamuk pikir, ide yang silih berganti, dan perasaan kuat jalan membawa kemakmuran dirinya melalui kotak pandora ideologi, tiba-tiba lenyap kala telpon pintarnya berdering kembali. Dulmakir masih belum mengangkat telpon pintarnya dari keranjang pakaian kotor. Dia duga mamanya menghubunginya lagi untuk hal-hal yang tidak penting. Panggilan pertama berhenti. Dilanjutkan panggilan kedua dan kali ini Dulmakir merangkak mengambil telpon pintarnya. Dilayar terlihat, Rohim memanggil, anak buahnya.

            “Kamerad,” suara Rohim memanggil.

            “Ada apa, bung?”

            “Bung punya uang. Pinjam.”

           “Bulan ini belum dikirim, bung. Sepertinya saya akan menghadapi masalah keuangan.”

            “Saya lapar, bung. Uang tidak pegang.”

            “Kamu sekarang dimana?”

            “Lagi nempelin pamlet di kampus-kampus, bung. Seruan aksi massa. Sesuai perintah, bung.”

            “Cepat selesaikan. Kita ke desa, ke serikat tani, minta makan.”

            “Ok bung.”

Dulmakir tersenyum lepas. Idenya cukup brilian. Dirinya pun lapar. Dulmakir bangkit, melepas kaos, dan menyambar handuk. Dulmakir pergi ke kamar mandi.***
Share:

0 comments:

Posting Komentar