Minggu, 25 Desember 2016

The Flowers of War, Kala Pelacur Jadi Penyelamat Akhir

Sumber Gambar: nytimes. com
"Kadang, kebenaran adalah hal terakhir yang kita ingin dengar. " - Yu Mo

Bergunakah pelacur di dalam situasi perang?  Barangkali ini pertanyaan awal sebelum pesan itu disampaikan di film The Flowers of War. Film apik yang digarap bertolak dari Novel Yan Geling ini mengambil sebuah cerita dari perang yang memakan banyak korban  di Nanking,  Cina, 1937. Ketika itu tentara Jepang berhasil menduduki kota Nanking setelah pertempuran selama kurang lebih dua puluh hari. Kemenangan Jepang didukung peralatan perang yang lebih maju dibanding tentara Cina.

Pendudukan Jepang di Nanking mengakibatkan penduduk sipil kocar-kacir menyelamatkan diri. Banyak yang tidak selamat dari pelarian karena kebiadaban tentara Jepang. Sementara, tentara Cina yang dipimpin Mayor Li tidak cukup pasukan dan peralatan untuk melindungi penduduk sipil.

Di saat sisa pertempuran antara pasukan Jepang dan Cina itulah muncul John (Crishtian Bale) yang tengah berusaha menghindar dari lesatan peluru tentara Jepang. John sedang menjalankan misi gereja untuk merawat dan menguburkan Bapa Ingleman, pendeta gereja setempat yang tewas.

Perjalanan John mencapai gereja mempertemukannya dengan murid-murid Bapa Ingleman yang sedang berusaha bersembunyi dari kekejian tentara Jepang. John dan murid-murid akhirnya berhasil masuk gereja sebagai tempat perlindungan yang 'aman'  dalam situasi perang karena tempat yang dilindungi dari hukum internasional saat perang. Tempat yang tidak boleh diserang dan menjadi pusat palang merah.  John dan murid-murid disambut George, pria belasan tahun yang menjadi pembantu gereja.

Selang beberapa saat kemudian datang sekelompok pelacur dari rumah bordil di tepi Sungai Qin Huai yang berusaha masuk ke gereja untuk melindungi diri. Dari sinilah film The Flowers of War menengahkan sebuah konflik yang menurut saya sangat menyita hati.

Bagaimana mungkin pelacur, jika bukan karena perang, masuk ke gereja? Bukankah mereka hina dan kedatangannya pun pada awalnya sangat ditolak oleh George dan tidak disukai oleh murid-murid. Huh, sebagian besar orang bisa akan berpikir demikian, seakan tidak ada peran kebaikan apa pun dalam diri seorang pelacur.

Tapi benarkah demikian?  The Flowers of War mengisahkan dengan sangat mengharukan bagaimana para pelacur adalah penyelamat akhir orang-orang yang menuduhnya hina saat rakyat sudah kehilangan tentara sebagai pelindungnya.

Di rumah Tuhan itulah para pelacur menempati ruang bawah tanah. Mereka berucap dan bertingkah selayaknya perempuan nakal dan genit. John bertemu dengan Yu Mo, pelacur yang lebih dewasa dan berpikiran maju dibandingkan yang lainnya.  Mo memanfaatkan hasrat John untuk jadi pelindung seluruh pengungsi di gereja yang mayoritas perempuan. Ia menyarankan John memperbaiki truk yang rusak di depan gereja untuk membawa pengungsi keluar dari Nanking.

John menyamar sebagai pendeta gereja saat tentara Jepang dengan liar menyerbu gereja dan hendak memperkosa murid-murid perempuan muda. Namun, Mayor Li, satu-satunya  tentara Cina yang masih hidup berhasil mengalihkan perhatian tentara Jepang.  Ia akhirnya tewas dari serbuan tentara Jepang.

Peristiwa penyerbuan gereja mengundang perhatian perwira tinggi militer Jepang. Perwira ini sangat menyukai musik, ia dilihat cukup manusiawi,  dan memberi perlindungan lebih kepada gereja. Tapi, kebaikan perwira tinggi Jepang itu akhirnya terkuak saat dirinya meminta murid-murid untuk bernyanyi di perayaan pesta kemenangan Jepang atas Nanking.

Apa artinya itu?  Ya, bernyanyi di dalam pesta Jepang merupakan penghinaan sekaligus pemerkosaan massal. Undangan menyanyi adalah alibi. Mereka menginginkan keperawanan murid-murid yang masih belasan tahun itu. Lantas siapa yang bisa menyelamatkan anak-anak itu ketika tentara telah gugur? Sedikit disinggung di atas: Para Pelacur tersebut.

Para Pelacur itulah yang akhirnya menggantikan posisi murid-murid.  Mereka yang akan pergi ke pesta Jepang. Mereka sudah terbiasa dan terlatih untuk urusan laki-laki. Tidak cuma itu: siap mati untuk orang lain. Dan, John mengambil peran merias dan mendandani para pelacur itu semirip mungkin dengan murid-murid. Tampaknya semua keahlian bertemu di sini. John adalah juru rias dan makam gereja.

Akhir cerita film bisa ditonton sendiri.

The Flowers of War menghadirkan sebuah wacana unik di balik kehidupan perang. Perang adalah hal dimana kebaikan dan keburukan sulit ditemukan. Dari hal yang dianggap buruk justru menjadi hal penuh kebaikan dan kasih. 'Bunga-bunga' itu tumbuh di medan perang menampilkan kebaikan yang mahal dan penuh pengorbanan.  Meskipun dalam hidup yang normal mereka menjual tubuhnya dan objek kehinaan. Tapi siapa sangka  dalam perang yang menentukan hidup dan mati, para pelacur adalah penyelamat akhir dari hidup orang-orang yang membencinya?

Ya,  kita manusia seringkali berlaku jumawa atas kebaikan dan kesucian yang dianggapnya sendiri,  gampang merendahkan orang lain. Kita tidak tahu,  entah kapan dan dimana, seseorang yang kita pandang sebelah mata justru jadi penyelamat hidup kita. Secara tersirat,  The Flowers of War ingin mengatakan demikian. Humanisme adalah segalanya dari kehidupan yang tidak pasti. Jangan sesekali benar dan menang sendiri.

Hampir susah untuk menemukan kekurangan dalam film ini. Hanya ada  yang sangat kasar dan kontras tentang perilaku buruk dan keji tentara Jepang. Perilaku suka memperkosa rakyat sipil hampir jadi cerita (benar atau salah) setiap tentara Jepang, termasuk di Indonesia yang pernah diduduki Jepang.

The Flowers of War jadi refensi apik nonton film apalagi di momen natal.  Meski film ini dirilis sudah lama (2011). Tapi masih cukup baik dan relevan nilai dan pesannya.
Mengharukan....
Share:

Terbelunggu Kota

di lapangan sunyi
terbesit kerinduan pada ambisi
yang mungkin telah lelap; tidur
di kota ini harum bunga semerbak
membelenggu hasrat-hasrat liar
tanpa sadar
diri terpenjara.

waktu tidaklah akan kembali
usia adalah kepastian tanpa maaf
kemarin baru saja terlewati
esok tetap jadi teka-teki

tetap tidak ingin
terbelenggu di kota ini
masih (kah) ada kesempatan.

Purwokerto,  2016

Share:

Sabtu, 24 Desember 2016

Pidato Singkat Pimpinan Kura-Kura Menyambut Proletar Cina

Sumber gambar: dystopiane2012.wikispaces.com

Kaum Proletariat Dunia Bersatulah!

Selamat datang kawanku, selamat datang di tanah yang jauh dari tempat kelahiranmu. Makanlah dahulu bila lapar. Minumlah dahulu bila dahaga. Perjalanan yang kau tempuh jauh untuk mencapai ke sini. Tanah Air Kura-Kura. 

Kawan, sejak Guru Besar kita, Karl Marx, memekikan "Kaum Proletar Dunia Bersatulah!"  maka kita dengan rendah hati harus menanggalkan atribut kebangsaan,  ras,  suku, agama, dan lain sebagainya yang dijadikan pembeda dan pecah belah oleh musuh-musuh kita. Yang ada adalah kesadaran klas kita, sebagai proletariat yang dengan kesatuan dan solidaritas kuat, kita dengan mudah membakar rumput-rumput liar yang menghisap tubuh kita.

Selamat datang kawanku dari negeri nun jauh di sana. 

Sekelompok orang telah mencoba mengelabui kesadaran internasionalis kita. Mereka meneriaki dan nyinyir akan kedatanganmu di negeri ini. Ya, jika bukan sifat kekanak-kanakan dari kaum nasionalis dan konservatif itu. Lebih parahnya para politisi bigot yang sedang gemar bersolek dan mendengus-dengus kekuasaan. Tetap tegap, kawanku,  tetap tegar,  karena persamaan nasib dan dialektika sejarahlah yang selalu mengeratkan persatuan kita semua.

Tidak ada mata sipit,  tidak ada kulit hitam,  tidak ada kulit putih, dan tidak ada-tidak ada lainnya yang memberi identitas kesukuan dan ras. Kita adalah universal. Sebab, kaum proletariat tidak tumbuh dari ladang dan pabrik satu negara saja. Kita tumbuh di seluruh belahan bumi ini dimana kapitalisme pun tumbuh dan mekar di bumi yang sama. Maka, Karl Marx sudah berabad-abad lamanya berpikiran maju untuk menyamakan pikiran internasionalis kita.

Kawanku kaum proletariat dunia!

Perjuangan kita ke depan semakin sulit.  Dimana pun kita berada,  dimana pun kita berasal,  satu hal yang tidak boleh jadi keributan di persatuan kita ialah menganggap sesama kita saingan. Kita mencari dan memperebutkan roti yang sama.  Kita mengalami nasib yang sama.  Kita tidak boleh sama sekali merasa patriotis satu negara yang kebablasan. Karena masalah proletariat di dalam satu negara saling berhubungan erat dengan masalah proletariat lainnya.

Demikian pidato singkat ini dalam menanggapi merebaknya isu dan pekerja Cina masuk negeri ini. 

Salam Internasionale!

Khayangan, 2016
Share:

Sabtu, 17 Desember 2016

Utang


Sejak Dulmakir membuat kebijakan dilarang utang di tokonya, sontak pembelinya lari. Dagangannya jadi sepi. Stok barangnya menumpuk tak terjual. Pendapatan menurun. Hanya doa yang bisa Dulmakir dan istrinya panjatkan agar terhindar dari kebangkrutan.

Toko Dulmakir yang terjepit di dua gang perkampungan padat rumah adalah toko kecil  yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Ia merintis usahanya setelah anak pertamanya lahir dan dirinya kehilangan pekerjaan dari industri kecap karena gulung tikar. Kini anak pertamanya sudah berusia dua puluh tahun. Dua puluh tahun pula tokonya telah membantu kehidupannya.

Ada masa kejayaan,  adakalanya sebaliknya. Pesaingnya bertambah banyak.  Dulu hanya dia dan Bahlul yang memegang perdagangan di kampungnya. Tapi sekarang tiap RT sudah ada dua-tiga rumah yang membuka toko.

Bahlul sudah bangkrut duluan. Sekitar dua tahun yang lalu. Orang-orang mangkrak utangnya di toko Bahlul. Modalnya terkuras. Suntikan dana dari bank balik menyuntik pantatnya sendiri. Dia jadi sakit-sakitan setelah rumahnya disita bank. Gelang-gelang emas di tangan istri Bahlul juga sudah terlucuti. Ia jadi buruh cuci di rumah seorang dokter kandungan.

"Apa iya nasib kita mau kayak Bahlul,  Pak?" ratap istri Dulmakir ketika hari sudah sore tapi baru melayani satu pembeli.

Dulmakir membuka laci meja. Melihat uang logam dan lembar sepuluh ribu. Lalu melihat istrinya yang begitu panik. Baru kali ini Dulmakir menyadari istrinya sudah tidak pakai riasan.  Ia jadi tampak kusam. Keriput di sekitar kelopak matanya terlihat. Dulmakir sadar istrinya sudah jarang ke salon dan senam aerobic. 

"Ibu tampak tua," ujar Dulmakir.

"Ah, tak usah pikirkan itu, pikirkan toko kita ini, Pak."

"Memperbolehkan lagi tetangga utang ke kita atau tidak, toko ini tetap 'sakit' . Sudah terlalu banyak toko di sini. Sampai Tuhan mungkin bingung bagi rejeki. Ya, mau bagaimana lagi, Bu. Rejeki Dia yang ngatur. "
"Bapak terlalu keras. Toko di kampung ya sudah sewajarnya melayani orang utang. Tidak selamanya orang itu pegang duit. Nek lagi paceklik dan kepepet keberanian orang cuma satu: utang."

"Wajar itu kalau dibiarkan menggigit, Bu. Coba lihat catatan utang Sinem itu. Laki dan bini sama saja. Sudah dua juta,  sudah enam bulan. Ampleng. Giliran utang ke sini, kalau lagi punya duit ke toko sebelah. Ditagih melotot dan ngeles. Apa itu masih wajar!  Bukan bajingan! " suara Dulmakir meninggi.

"Mereka memang keterlaluan. Tapi 'kan tidak semuanya. Orang-orang bisa disortir,  dipilih, mana yang cacat watak dan mana yang tidak. Mana yang disiplin bayar utang dan mana yang ndableg. Kalau keras begini, ah,  tidak bisa dibayangkan nantinya. "

" Ini, ini...," Dulmakir bangkit berdiri.  "Yang membuat dagang orang pribumi tidak maju. Berdagang dengan perasaan kuat. Gampangan sama orang. Alih-alih bantu-membantu. Tanpa sadar menggerogoti dagangan."

"Yang saya maksud itu orang-orang pilihan, Pak. Jadi kalau ada orang mau utang, entah beras, minyak, sabun, kopi,  rokok, ya dilihat dulu orangnya. Dia bajingan atau bukan."

"Tidak.  Pokoknya Bapak tidak akan mengizinkan satu orang pun datang ke sini untuk utang. Harus bawa duit dan bayar! Apa minimart dan supermarket memperbolehkan orang utang?!  Tidak 'kan, Bu. Akibatnya bisnis berkembang dan lancar. Kita harus mendidik diri sendiri dan orang lain demikian. Kalau tidak,  masih gampangan, kita malah digigit. "

Bu Dulmakir diam. Suaminya sudah sangat keras pendirian. Kalau dilanjutkan jadinya bertengkar. Kata-kata suaminya ada benar dan salahnya. Benar karena kenyataan, salah karena tidak berkesesuaian dengan keadaan. Terlalu idealis suaminya. Tidaklah mungkin menyamaratakan tokonya yang terjepit di antara rumah-rumah miskin dengan minimart dan supermarket yang mentereng di pinggir jalan raya. Di sini berdagang dengan hati dan belas kasih,   di sana dengan nafsu serakah.

Ketika Dulmakir dan istrinya saling diam usai berdebat soal utang, Warti, adik bungsu Dulmakir datang dengan wajah yang cemas.

"Mas, boleh utang susu dan beras dulu. Wage belum kirim duit dari Kalimantan. Pertengahan bulan katanya baru dia kirim karena bos perkebunan sawitnya lagi ke luar negeri. Jadi gajiannya molor. "

"Tidak!" jawab Dulmakir tegas.

"Pak..., " istrinya memandang Dulmakir memelas. Sementara Warti tambah cemas.

"Tidak!  Di sini sudah tidak melayani pembeli yang utang. Apa kamu tidak baca tulisan itu,"  kata Dulmakir sambil menunjuk kertas yang ditempel di dinding kepada Warti.

Warti undur diri. Ia terlihat sangat sedih. Kakaknya yang terbilang berkecukupan dibandingkan kedua kakak dan kedua adiknya sama sekali tak punya hati.

Setelah kepergian Warti, istri Dulmakir menyemprot suaminya dengan marah.

"Pak, kita ini manusia! Punya perasaan! Punya hati! Adik kamu sendiri, ingat, adik kandung kamu sendiri, diperlakukan sebengis tadi. Apa Bapak sudah bukan manusia?!  Apa dengan memberi utang kita akan kehilangan segalanya?!  Tidak, Pak!  Tidak!  Harta dan kekayaan boleh hilang kapan pun juga,  tapi jangan kasih kita. Itu satu-satunya kita bisa jadi manusia."

Istri Dulmakir berhenti sejenak ambil nafas.  Dadanya naik turun.

"Pak, " lanjutnya. " Ada untungnya kita hidup di antara orang-orang kesusahan.  Saban hari kita dituntut untuk koreksi kesehatan hati. Setulus-tulusnya.  Mungkin tidak akan sekaya pemilik minimarket dan supermarket di sana, tapi kekayaan yang kita miliki lebih dari itu semua. Toko kita bisa bangkrut, tapi kebaikan kita jangan sampai bangkrut. "

"Cukup! Hentikan omong kosongmu itu!"
  bentak Dulmakir dengan badan gemetar.

Istri Dulmakir beranjak pergi meninggalkan Dulmakir. Ia masuk ke dalam rumah dan menggebrak pintu kamar tidur. Dulmakir masih melotot ke arah istrinya pergi. Tangan Dulmakir menggenggam kuat-kuat. Ia ingin menjotos apa pun juga di sekitarnya. Marahnya sudah berada di puncak. Perkataan istrinya sudah di luar perkiraan dan batas. 

Dulmakir seperti tidak terima digurui oleh istrinya. Tahu apa dia soal kebaikan? Toko ini adalah oase terakhir tempat minum dan bertahan hidup. Jadi mesti dikelola dengan disiplin dan pikiran.  Bukan perasaan. Sudah banyak korban toko bangkrut gara-gara leluasa memberi utang.

Dulmakir juga tahu dirinya telah melangkah jauh. Ia merusak tali kekeluargaan. Sikapnya begitu menyakiti adiknya sendiri bahkan orang-orang tak berdaya di sekitarnya. Ia mencoba tenang.
Satu yang tidak disadari Dulmakir. Di jalan adiknya yang sangat sedih bertemu Eti yang hendak belanja ke toko Dulmakir.

"Wati, kenapa matamu merah dan sembab begitu? " tanya Eti heran.

"Kakak saya benar-benar iblis. Ia menolak  saya karena datang mau utang. Beras dan susu sedang sangat saya butuhkan karena keterlambatan suami saya kirim uang." 

"Keterlaluan dan berlebihan," gumam Eti.
Pertemuan dengan Wati itulah yang membalikkan niat Eti. Ia akhirnya pergi belanja ke toko Bambang.

Di tokonya, Dulmakir masih terus menunggu pembelinya datang.  Terus menunggu...***
Share:

Kamis, 08 Desember 2016

Hiruk Pikuk

   : Mugianto

hiruk pikuk yang membosankan
semakin jauh kehilangan diri sendiri
kendali-kendali yang lepas
terburai dan patah
arah menjadi tidak penting
banyak nilai yang sudah terlalu dipermainkan.

politik dan kekuasaan semakin mengajarkan ketidakwarasan
berita-berita hilang gairah dan terjerembab dalam jurang kekolotan
pada akhirnya manusia
kehilangan diri ya kehilangan diri

Bunga-bunga zaman yang bermekaran
mengecap embun racun yang langit kirimkan
individualisme betapa penting
tiang penyangga dan air penawar

ada kekosongan dan pencurian
dari hiruk pikuk; gaya hidup
tetap terjaga dan berpikir.

Share:

Sabtu, 03 Desember 2016

Kemenangan 212: Limbad Jadi Bicara

Sumber foto: galamedianews. com
Kemenangan kecil dari unjuk rasa 212 kemarin adalah membuat limbad mau bersuara. Tentunya ini 'suara emas'. Seperti yang diberitakan  SindoNews. com pada  2 Desember 2016 pukul 17.42, Limbad bersuara agar Ahok ditangkap dan ditahan. Ia hadir dalam unjuk rasa 212 bersama  rombongan dan bergabung dengan para ulama di panggung.

Selama ini Limbad dikenal sebagai pesulap 'bisu'. Sebagian publik percaya bahwa Limbad tuna suara.  Sisanya ragu-ragu percaya. Limbad cuma akting bisu saja. Tapi, 212 mengonfirmasi bahwa Limbad memang bisa bicara.  Artinya selama ini Limbad sekedar akting jika di panggung pertunjukan dan di depan publik. Membohongi penonton.

Memang sudah jadi jalannya pesulap menebar kebohongan.  Kebohongan yang dimaknai sebagai hiburan. Tidak salah. Sah saja.  Limbad merupakan bagian dari penyampai itu. 

Kini setelah publik tahu bahwa Limbad benar-benar bisa bersuara atau berbicara,  apakah dia akan tetap bisu seperti biasa?  Dia (Limbad) bisa tidak menarik lagi.  Seperti trik sulap yang sudah diumbar di muka umum. Padahal kebisuannya yang dipadu dengan kehebatannya menjalankan sulap ekstrem adalah rahasia dirinya dan nilai harga di dalam jagad hiburan. 

Suara emas Limbad karena merasa terpanggil menjalankan tugas suci menjadikan bangunan panggungnya bolong. Dia rupanya selama ini telah mencampakan anugerah Tuhan dengan pura-pura bisu.  Dan,  212 sekaligus telah membuka kedok master Limbad,  selain menelanjangi tuduhan penistaan agama  oleh Ahok.

Ada hal yang lebih implisit dari bersuaranya Limbad.  Suara politik atau suara keyakinannya?  Tentu akan jadi lebih sulit mengetahuinya karena Limbad mungkin sekali seumur hidup bersuara. Penontonnya bagaikan menunggu komet Lovejoy lewat di langit. Ia akan kembali ke dalam bahasa isyarat, membuat jengkel lawan bicaranya,  dan memungkiri kebenaran dirinya sendiri. Jika ini yang terjadi niscaya Limbad tidak menarik lagi.  Sebab panggungnya telah bolong.

Adalah lebih baik Limbad meneruskan suara dan bicaranya, bukan untuk politik tetapi untuk keyakinannya sendiri.  Karena bisa saja panggungmu yang bisu itu sudah karatan dan saatnya beralih panggung penuh teriak dan suara.

Mana suara emasmu lagi Limbad? Membayangkanmu menyanyi Rock n Roll di panggung.
Share:

Senin, 28 November 2016

Fidel Castro Jadi Hikayat


Kematian Fidel Castro,  25 November 2016 lalu, mengundang simpati banyak pihak. Terutama dari arus gerakan kiri, jika bukan disebut Marxis-Komunis, yang begitu mengilhami praktik dan pidato-pidato Fidel Castro. Hal ini karena Castro merupakan satu-satunya sosok atau praktikus Marxis yang tersisa setelah kawan-kawannya di dunia raib ditelan badai revolusi proletariat di awal-awal 'candu revolusi'  pada pertengahan abad ke-20. Mao Tse Tung, sosok akhir usai kematian Lenin pun menghadap Yang Maha Kuasa sebelum melihat betul keberhasilan diktaktor proletariat yang dimotorinya dan kemudian 'dikencingi' oleh Deng Xioping.

Di Asia sendiri praktik komunis masih diterapkan di Republik Rakyat Korea Utara. Sayangnya sosok Kim tidak lebih sedap dipandang dari sosok Fidel Castro.  Entah termakan propaganda Barat atau memang praktik Korut sudah keluar jalur dari epistemologi dan aksiologi Marxisme. Sehingga tidak mengundang decak kagum seperti Castro yang telah membawa Kuba pada perkembangan masyarakat 'mirip'  konsep komunisme.  

Dari beberapa bukti-bukti yang sering dilontarkan aktivis komunis di Indonesia,  Kuba dikabarkan sanggup memberikan pangan dan sandang cukup,  pendidikan dan kesehatan gratis, dan salah satu negara yang banyak menyumbangkan dokter untuk misi-misi kemanusiaan di dunia.

Keberhasilan Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro menyulut banyak iri hati pejuang 'merah'  di beberapa negeri. Tidak terkecuali di Indonesia, banyak yang ngotot untuk mengikuti jejak Castro dan Kuba. Kuba bisa mandiri dan komunal  dibawah tekanan embargo Amerika Serikat untuk membawa standar atau cita rasa kehidupan yang baik. Kenapa di sini tidak?

 Perjuangan Castro bersama Che Guevara serta pasukannya dapat dijadikan rujukan dan ditiru oleh mereka (aktivis komunis) di mana pun untuk menggulingkan kekuasaan borjuis terutamanya imperialisme Amerika Serikat.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Castro telah wafat tanpa perlu Amerika Serikat menyusun beribu siasat lagi membunuh Castro yang berulang kali gagal. Di lini media sosial, baik aktivis atau bukan yang begitu mencintai sosok Castro menebar komentar dan kata-kata Castro semasa heroiknya.  Dengan menebar quote Castro artinya menandakan secara tidak sadar untuk mengatakan bahwa 'perlu melakukan' apa yang diucapkan sosok yang diidolakannya. Ya,  cukup beralasan ketika gerakan ekonomi politik komunis tengah kalah pamor dengan aksi kaum agamawan.

Castro lambat laun akan menjadi hikayat.  Hikayat merupakan kisah atau cerita yang bisa benar dan bisa salah. Benar karena dia adanya,  terjadi,  dan ada keberadaannya.  Salah karena unsur propaganda yang masuk ke dalamnya sehingga disesuaikan dengan kepentingan politik.  Bisa ditambah dan dikurangi. 

Hikayat selamanya akan hanya jadi obrolan santai. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kadang obrolan itu di warung kopi,  cafe, kampus,  atau malah di tempat-tempat prostitusi. Karena kapitalisme telah melewati sejarahnya dan kemajuannya membawa perkembangan masyarakat dewasa ini.  Lagian, mengutip Goenawan Mohamad, "revolusi tidak bisa di-copy". Tidak ada plagiat revolusi. Tapi boleh dikagumi.

Selamat jalan Fidel Castro, kisahmu akan jadi hikayat abadi, dan perjuanganmu akan membentur gelas kopi. Sebab kapitalisme lambat laun benar-benar memikat dan membuat jatuh hati. Orang bilang, kebencian jalan paling sering berakhir ke muara percintaan. Untuk itulah,  semakin membenci kapitalisme semakin jatuh cinta kepadanya.
Share:

Minggu, 27 November 2016

Jeni Pulang




Oleh Mugianto

Akhir-akhir ini Dulmakir selalu terbangun tengah malam. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Seperti ada batu yang mengganjal di kepalanya. Batu itu sudah terlalu menyiksa dan merusak keluarganya. 


Kadang Dulmakir harus terjaga sampai azan shubuh. Matanya benar-benar sulit terpejam kembali. Ia habiskan untuk merenung di meja kamar. Kopi dan rokok jadi teman setianya. Lama-lama berpikir dan cari solusi ujungnya buntu. Batu di kepalanya tidak pecah. Tetap jadi beban.  


Beban pikiran yang mengganggu tidurnya sebenarnya disulut hal sepele. Sore kemarin istrinya, Jeni, menangis meraung-raung. Salah satu teman facebook-nya menghinanya ‘babi gendut’. Kejadiannya bermula saat Jeni mengunggah foto dirinya. Ia ingin memamerkan gaun putih barunya. Hadiah dari Dulmakir di hari ulang tahunnya. Jeni yang genit dan manja justru merasa tersinggung oleh komentar temannya itu. Ia mengadu ke Dulmakir.


“Pokoknya Papa harus seret perempuan sialan itu ke penjara!” kata Jeni melengking-lengking hingga membuat Dulmakir malu. Takut tetangga mendengarnya.


“Papa itu polisi,” lanjut Jeni sambil menangis. “Papa penegak hukum. Orang lain saja dengan gampangnya Papa jebloskan ke penjara karena menghina martabat manusia jika bukan Tuhan. Kenapa Papa cuma diam istrinya dihina!”


Dulmakir memang cuma bisa diam. Ia tidak habis pikir istrinya begitu kekanakan. Dulmakir tatap istrinya yang tergolek di tempat tidur. Belum habis rasa penatnya dari kantor menangani banyaknya aduan penghinaan, kini ia harus mengelus dada menghadapi istrinya. 


Emosi terhadap istrinya yang menangis berguling-guling membuat Dulmakir berteriak.


“Tidak akan ada pengaduan dan tidak akan ada proses hukum! Hentikan! Tolong, hentikan tindakan bodohmu itu!”


Seketika Jeni bangkit dan menampar pipi Dulmakir. Ia mengancam akan mengadukan ke orang tuanya. Jeni akan katakan Dulmakir tidak lagi setia dan sayang pada dirinya. Dulmakir lebih memilih dan membela orang-orang asing. Dan, Jeni pun memutuskan meninggalkan Dulmakir. Anak pertamanya yang baru berusia lima tahun ikut diangkut oleh Jeni.


Sudah hampir empat hari Jeni di rumah orang tuanya. Acapkali Dulmakir terbangun tengah malam ia merasakan sedih sendiri membayangkan masa depan rumah tangganya. Apakah akan berakhir dengan memuakkan dan memalukan? Oleh sesuatu yang menurutnya sangat remeh temeh. Penghinaan! Olokan! Dulmakir mengusap-usap kepalanya tiap kali memikirkan betapa rapuh dan kekanakannya peradaban manusia dewasa ini. 


Hari-hari kerja Dulmakir dipenuhi laporan-laporan kasus penghinaan di media sosial. Sejak Jakarta diserbu ribuan massa yang ‘merasa’ dihina kitab sucinya. Dulmakir panik dan gelisah. Bukan karena demonstrasi, desas-desus makar, dan perpecahan, akan tetapi peradaban manusia yang kekanakan. 


Kini peradaban kekanakan itu justru menjangkiti keluarganya. Jeni dan anaknya telah hilang dari pandangnya.

***

Minggu pagi adalah hari ketujuh Jeni meninggalkan Dulmakir. Di bangku bambu tergeletak koran yang beberapa menit lalu di antar loper. Dulmakir baru saja mengaduk kopi sebelum memungut koran langganannya di teras rumah. Matanya sayu kurang tidur. Ia membaca headline. Masih kasus dan berita yang sama. Koran ini tampaknya cuma menyajikan berita perkembangan. Dulmakir tidak tertarik membacanya. 


Di hari libur ini Dulmakir merindukan anaknya. Jeni telah menyiksa batinnya. Di saat-saat memikirkan anaknya Dulmakir ingin menyusul ke rumah mertuanya. Setidaknya dapat merayu Jeni untuk pulang ke rumah. Tapi, egois kelelakiannya begitu besar, hingga Dulmakir mengurungkan niatnya. 


“Jeni tentu akan tinggi hati kalau aku menyusulnya. Orang tuanya yang hampir sama sifatnya dengan Jeni akan menceramahiku. Sementara, prinsip dan pekerjaan bagiku tidak akan pernah diaduk dengan masalah pribadi. Jeni kecewa, biarlah. Ia harus belajar mengakui diri dan menghumori keberadaannya sendiri. Ia memang gendut, putih, montok, dan apa salahnya orang berkomentar, “babi gendut”. Aku saja bisa tertawa mendengar itu. Andai semua orang punya selera humor yang bagus tentu tidak ada saling lapor dan saling hina. Anggap saja humor. Ya, humor.” 


Dulmakir masih duduk dengan tenang. Berpikir dan berkata pada dirinya sendiri.


“He, aku jadi teringat pelawak Inggris tersohor itu, Charlie Chaplin, yang mengatakan, “a day without laughter is a day wasted.” Benar, hidup ini akan jadi banyak petaka kalau segala sesuatunya dianggap serius. Perlahan justru akan membunuh diri sendiri. Bukankah orang tua menciptakan anak dengan perasaan bahagia dan saling bercanda di atas tempat tidur?  Dengan toleransi yang amat tinggi hingga tidak mengganggu yang lainnya.”


Dari pintu gerbang rumahnya terlihat seorang bapak menuntun anak gadisnya. Mereka menghampiri Dulmakir. 


“Pagi Pak Dul!” sapa bapak itu tegas.


“Pagi. Ada keperluan apa bapak ke sini?” 


“Saya mau lapor, Pak. Lebih cepat diurus lebih baik. Saya sudah tidak tahan dengan ini.”

“Lebih jelasnya.”


“Anak perempuan saya ini mengalami penghinaan, Pak. Ia sakit hati dan menangis semalaman.”


Dulmakir menghela napas. Menatap anak perempuan bapak itu yang tertunduk lesu.


“Apanya yang dihina?”


“Anu, dia bilang temannya menghinanya anak pelacur. Padahal itu masa lalu istri saya.”


“Terus. Siapa yang menghina?”


“Hm…saya kurang tahu itu, Pak. Anak saya cuma memperlihatkan hapenya. Saya juga sendiri tidak mudeng, kok bukan orang malah hape yang ditunjukin ke saya.”


Dulmakir mengalihkan perhatiaan ke anak perempuan bapak itu.


“Siapa yang menghina, dik?” tanya Dulmakir.


“Teman facebook,” jawabnya singkat


Si bapak langsung mengajukan pertanyaan ke Dulmakir.


“Apa itu facebook, Pak? Siapa dia? Biar aku hajar!”


Dulmakir ingin tertawa sejadi-jadinya.


“Pak, facebook itu,” Dulmakir berpikir mencari bahasa yang mudah. “Facebook itu, hm…begini saja, sulit menjelaskannya. Anak bapak ini cuma bawa perasaan yang sebenarnya tidak apa-apa. Toh, itu benar, cuma salah tempat saja. Lebih baik bapak jaga anak bapak. Dia tidak dihina, cuma temannya mengajak bercanda. Salah pengertian,” jelas Duklmakir saat tidak menemukan kata-kata yang mudah menjelaskan facebook kepada bapak ini.


“Tapi dia menangis semalaman, Pak. Dia tersakiti dan yang menyakiti mesti dipenjara,” kekeh si bapak.


“Tidak ada pidana. Sudahlah. Bapak pulang dan lebih baik lagi jaga anak bapak baik-baik.”

Bapak dan anak perempuan itu pulang. Dada Dulmakir terasa sesak. Belum selesai masalah dengan istrinya, datang lagi masalah kanak-kanak yang mau membuat kepalanya meledak. Apa tidak masalah etis dan moral itu diselesaikan secara kekeluargaan, apa manusia sudah sebegitu manjanya?


Sejam kemudian datang lagi bapak dan anak perempuannya. Kali ini anak perempuannya itu terlihat mukanya babak belur.


“Brigjen Dul,” sapa si bapak.


“Ya. Ada apa lagi ini. Sejam lalu baru saja bapak dan anak perempuannya datang kemari gara-gara penghinaan. Apa bapak juga akan cerita yang sama?”


“Bukan, Pak Dul. Ini persoalan manusia. Benar-benar manusia. Anak perempuan saya ini dipukuli oleh majikannya di Jakarta, tidak digaji, dan baru pulang tadi malam di antar oleh orang baik.”


Dulmakir berubah antusias. Mukanya tegang.  Inilah persoalan dan kasus yang mesti diurusnya.


“Lalu?”


“Ya, Pak Dul. Sebagai penegak hukum yang kebetulan tinggal di sini sekiranya bapak mau membantu anak saya.”


“Siap pak!” jawab Dulmakir cepat dan tegas. “Besok datang ke kantor saya.”


Setelah si bapak dan anak perempuannya pergi, Dulmakir merasa sebagai manusia. Semangat dan jiwa kemanusiaannya memancar. Masalah keluarganya jadi buyar. Batu di kepalanya serasa pecah. Pilihan terbaik untuk istrinya baru terpikir untuk sekadar mengirimkan pesan WhatsApp: marahnya sudah selesai belum? kalau sudah, pulang ya. Itu saja.



Tengah Malam, 27 November 2016
Share:

Sabtu, 30 Juli 2016

Terombang-Ambing

                        Oleh: Mugianto
Ilustrasi
Selesai sudah ciptaan Tuhan itu. Ketika semua runtuh. Pecah. Hancur lebur menjadi kegelapan yang sangat mencekam. Warna-warna memudar dan hilang begitu saja. Suara-suara lenyap dimakan kesunyian yang pekat. Aku sendiri diperintahkan untuk tetap hidup. Entah kenapa. Terombang-ambing di antara amukan lautan dan badai.
 
Aku diserukan menuju neraka. Tidak seberapa penting alasannya, tetapi betapa penting perjalanannya. Untuk itu, aku putuskan memulai perjalanan. Tanpa perahu. Oh, kesaktian itu nyata. Kakiku sanggup menapak di atas air yang diaduk-aduk oleh badai. Awalnya terasa sempoyongan. Mirip lelaki mabuk setelah meneguk ciu. Selang lebih dari sepuluh langkah semua menjadi biasa dan baik. Aku bisa berjalan tegak diterjang badai. 

Perjalanan ke neraka adalah tugas tidak suci. Karena sebagian besar manusia yang pernah di bumi menolaknya. Mereka lebih memilih dan memaniskan surga. Tempat idaman yang dicapai dengan kebenaran masing-masing. Kebenaran yang dimengerti sendiri tetapi dipaksakan kepada orang lain. 

Aku tidak membawa kebenaran. Aku membawa kebahagiaan untuk menuju ke neraka. Sepanjang perjalanan aku paksakan untuk tertawa sendiri. Gemuruh badai meleleh akibat kekehanku sendiri. Dan pada itu, aku menemukan pengertianku sendiri. Ketidakteraturan atau kekacauan itulah sumber kehidupan. Ada makna-makna yang tergantung di tiap ranting pohon-pohon kekacauan. Seperti badai yang kacau, tidak teratur, dan menyulut lautan yang tenang jadi kacau pula. Makna-makna itu berserakan bagaikan ikan-ikan yang mati karena badai tadi. Ikan-ikan itu akan dimakan oleh perut kelaparan. Boleh dikatakan, kekacauan akan menemukan bentuk kekosongan, selanjutnya kekosongan adalah bejana dipenuhi makna.

Lalu, benarkah Sidharta Gautama itu pergi ke surga? Tiba-tiba saja pikiran itu muncul dalam perjalananku ke neraka. Aku takut dia menipuku. Bagaimana mungkin dia mendapati kekosongan sebelum menikmati kekacauan? Aku sedikit berharap dapat menemuinya di neraka. Bila keberuntungan ada padaku: melihatnya di sana. 

Sudah dua kilo meter berjalan tapi belum kulihat neraka. Sementara ombak lautan semakin menggulung-gulung dan badai semakin ganas. Dari catatanku digambarkan: apabila melihat api berkobar-kobar berarti itu neraka. Di jauh sana belum tampak. Aku rasa letaknya masih jauh.

Tatkala aku berjoged-joged sebentar untuk menambah kebahagiaan, seekor naga putih mematuk pantatku.

            “Awwwaw!!” jeritku kaget sambil tertawa. “Siapa kamu?”

            “Ha-ha-ha, Naga Putih.”

            “Jangan bercanda kamu. Kulitmu hitam begitu.”

            “Ha-ha-ha. Ini lulur dodol!”

            “Lulur? Ha-ha-ha.”

            “Hei! Jangan tertawa mengejek seperti itu,” kata Naga Putih agak sewot. “Tapi..tak apa-apa, ha-ha-ha,” celotehnya kemudian.

            “Sekarang kamu mau apa?” tanyaku.

            “Berkelahi.”

            “Ha-ha-ha,” tawaku makin keras. “Aku diutus untuk ke neraka.”

            “Aku tahu. Aku diutus untuk berkelahi denganmu.”

            “Ha-ha-ha. Aku tidak bisa berkelahi. Aku sedang bahagia begini,” ujarku merendahkan diri.

            “Ha-ha-ha..kamu pasti takut, bukan..ha-ha-ha.”

            “Aku tidak takut pada siapa pun termasuk kamu dekil, ha-ha-ha.”

            “Sudahlah. Kita berkelahi,” minta Naga Putih memaksa.

            “Baiklah,” aku menarik nafas. “Pukul aku sekarang.”

Naga Putih memandangku bingung. Ia memilin-milin kumisnya. Ekornya dikibas-kibaskan. Aku tertawa melihatnya. 

            “Sebentar,” kata Naga Putih bimbang dan wajah yang tiba-tiba memerah.

Aku semakin yakin Naga Putih tidak akan berani memukulku. Akan tetapi, melihat wajahnya yang semakin memerah nyaliku jadi ciut. Jangan-jangan dia benar-benar akan memukulku. Lalu aku akan terkapar bersimbah darah. Mati. Ah, perjalananku ke neraka akan gagal. Akhirnya aku pasang kuda-kuda. Siap menghadapi pukulan Naga Putih. Aku menduga-duga dimana Naga Putih akan mendaratkan pukulan. Muka, dada, pantat, kaki, atau…? Aku tidak bisa membayangkan kalau pukulan Naga Putih mendarat persis di alat kelaminku. Keringat dinginku keluar. Aku bertambah siap siaga. Posisi kuda-kuda aku ubah jadi posisi tengu-tengu. Berjalan mundur, mundur, mundur dengan pelan.

Aku memperhatikan Naga Putih dengan fokus. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan dugaan.

            “Bangsat! Dimana toilet?!” teriak Naga Putih histeris.
Aku tercengang.

            “Aku lagi mencret, cuk. Dimana toilet?! Takut kapicirit!”

            “Ini di atas laut, goblok. Tinggal crot di sebelah sana, sana…” Aku menunjuk supaya dia agak menjauh dariku. Hidungku mulai kututup dengan tangan. Brengsek sekali ini naga, batinku. 

            Naga Putih menjauh dariku sekitar sepuluh meter. Tanpa pikir panjang Naga Putih mengeluarkan semua isi perutnya yang mencair. Aromanya sangat busuk. Sampai-sampai masih menembus hidungku yang kututup lebih rapat menggunakan kedua telapak tangan. Apa yang dimakan Naga Putih itu hingga aroma beraknya busuknya minta ampun? Manusiakah, ikankah, burungkah, aku tak habis pikir. 

            Yang paling menjengkelkanku kepada Naga Putih, dia nyengir saat menekan kuat-kuat beraknya dari dalam perut. Sepertinya dia sudah merasa menang denganku walaupun belum adu jotos. Sayangnya aku sedang di atas laut. Tak kutemukan batu untuk kulempar ke mukanya. Oh, badai singkirkan aroma busuk beraknya jauh-jauh dariku. 

            Setelah cebok dengan air laut yang dingin, Naga Putih kembali mendatangiku. Masih dengan nyengir yang menyebalkan. Dia terlihat puas dan siap menerkamku.

            “Ha-ha-ha, leganya,” Naga Putih girang. Aku memasang kembali kuda-kuda.

            “Kenapa kamu tegang begitu?” tanya Naga Putih melihat sikapku.

            “Bukankah kamu akan berkelahi denganku? Cepat hajar aku. Waktuku tak banyak meladenimu. Aku harus cepat-cepat ke neraka.”

            “Ha-ha-ha. Kamu percaya diri sekali sanggup mengalahkanku. Kamu akan mati di sini. Cukup sampai di sini perjalananmu.”

            “Aku tidak rela mati oleh naga yang terserang diare. Cihh…! Harga diriku melorot.”

            “Ha-ha-ha…Ha-ha-ha.”

            “Tunjukkan kemampuan maksimalmu.”

            “Ha-ha-ha.”

            “Ha-ha-ha,” kali ini aku tertawa dibuat-buat. ”Itu saja yang kamu bisa lakukan: tertawa.”

            “Santai, musuhku. Bagaimana kalau kita menghisap ganja dulu?”

            Tawaran Naga Putih menarik perhatianku. Tampaknya Naga Putih tidak serius menatangku.  Ia mengeluarkan satu linting ganja. Badai tidak menghentikan usahanya membakar lintingan ganja. Dengan sekali semburan api dari mulutnya, lintingan ganja itu terbakar. Akan tetapi, lintingan ganja itu malah terbakar seluruhnya karena semburan apinya terlalu besar.

            “Bodoh sekali kamu naga,” ejekku.

            “Ha-ha-ha..”

Akhirnya Naga Putih mengeluarkan lintingan ganja kedua. Kali ini Naga Putih mencoba mengatur semburan api dari mulutnya. 

            “Usahakan apinya seperti api dari korek api,” kataku sedikit memerintah.

            “Bawel.”

Mulut Naga Putih menyemburkan api kecil persis api yang keluar dari korek. Ujung lintingan ganja terbakar. Naga Putih menghisap kuat-kuat. 

            “Sini,” panggil Naga Putih kepadaku untuk mendekat. Ia mengulurkan lintingan ganja padaku. Aku tak menolak. Ikut menghisapnya.

            Aku dan Naga Putih tertawa-tawa sepuasnya di tengah kecamuk badai dan lautan yang tidak terkendali. Setiap kalimat yang terucap dari mulut kami adalah bahan tertawa yang gurih. Aku melupakan sejenak tugas tidak suci untuk ke neraka. Langit yang gelap gulita dan kehidupan yang sudah runtuh tiba-tiba berubah menjadi warna-warni. Aku dan Naga Putih tiduran telentang memandang langit. Warna yang keluar sangat mencolok, dari biru, berganti ungu, berganti merah, dan seterusnya. Awan-awannya bukan putih tapi gradiasi warna yang sangat indah. Bulan terlihat seperti bola salju yang menggelinding di antara warna-warna langit. 

            “Naga Putih,” sapaku.

            “Ha-ha-ha.”

            “Aku akan ke neraka.”

            “Ha-ha-ha.” Naga Putih masih tertawa.

            “Benar. Aku akan ke neraka.

            “Kita berkelahi dulu, ha-ha-ha,” jawab Naga Putih.

            “Itu yang tidak bisa kita lakukan.”

            Lalu, kami tertawa keras berdua: Ha-ha-ha-ha.***

  
Bisa Bersambung, Bisa Tidak…                  
Share:

Sabtu, 09 Juli 2016

Dulmakir

Oleh : Mugianto

Selepas lulus kuliah Dulmakir nganggur. Dia tetap masih mengutuki negara. Bedebah! Negara tidak bertanggung jawab! Makinya dalam hati. Dulmakir berpikiran nasib dirinya karena negara. Negaralah yang membuatnya lontang-lantung. Negaralah yang hingga kini menjadikannya seonggok berak di atas kasur kamar kontrakan. Lagi, negaralah sumber dari kemarahan orang tuanya karena masih meminta dikirimi uang. Dulmakir tidak tahu: negara sejenis monster yang mengerikan. Tidak ada harapan bergantung dan meminta hidup kepada monster. 

Telpon pintarnya berdering. Mamanya menelponnya.

            “Dul,” sapa mamanya dari jauh kota sana.

            “Iya, Ma,” jawab Dulmakir uring-uringan. Disapunya ketep di sudut matanya dengan jarinya. Jam 12 siang dia bangun tidur.

            “Cobalah buat lamaran kerja,” perintah mamanya. “Mama dengar Chevron buka lowongan kerja. Anak teman mama, kamu ingatkan, Stefano, dia saja baru kirim surat lamaran pagi tadi. Dia bilang ada juga untuk posisi lulusan sarjana politik.”

            “Ah, Dul tidak ingin bekerja di perusahaan, Ma, apalagi asing! Mereka itu imperialis yang merampok sumber daya alam kita.”

            “Dul, dengerin mama. Yang terpenting kamu kerja, dapat gaji besar, dan buat bangga orang tua.” Mamanya diam sejenak, lalu berkata lagi. “Dul, kamu tidak ikutan organisasi teroris ‘kan? Kamu semakin aneh akhir-akhir ini, bicaranya tidak jelas, sulit mama pahami.”

            “Tidak, Ma. Dul tidak sejalan saja dengan pikiran mama.”

            “Mama tidak minta apa-apa sama kamu, Dul. Mama cuma ingin kamu mandiri dan kerja. Itu saja. Mama malu dan bingung kalau saudara dan tetangga nanyain kamu setelah lulus.”

            “Jawab saja, Ma. Dul kerja sebagai ahli sedot WC.”

            “Serius mama, Dul.”

            “Dul juga serius. Sudahlah, Ma. Dul mau tidur lagi.”

Dul! Dul! Mamanya masih manggil-manggil di telpon sebelum Dulmakir mematikannya. Telpon pintarnya di lempar  ke keranjang pakaian kotor. Ia membenamkan mukanya ke bantal. Tangan kanannya masuk ke dalam celana kolornya. Mulai menggaruk daerah ‘vitalnya’.

Kamar Dulmakir berantakan dan jorok. Sisa nasi dan cemilan berserakan di lantai. Banyak semut dan kecoanya. Baju, celana, dan kancut  kotor ada dimana-mana, termasuk di bawah badannya. Buku-buku yang kebanyakan tentang teori dan praktik revolusi sosial ala Marxis pun tidak tertata di rak buku. Berceceran. Mungkin inilah yang menyebabkan Dulmakir suka menggaruk-garuk daerah ‘vitalnya’. Kuman-kuman mencintai Dulmakir.

Dulmakir tertekan oleh kata-kata mamanya barusan. Pikirannya kacau. Berkali-kali ia membolak-balikkan badannya di atas kasur. Ia ingin esok terjadi revolusi, buruh-buruh bebas dari majikannya, semua pabrik jadi milik klas buruh, dan jam kerja dipendekkan. Dulmakir membayangkan dirinya menjadi pembebas sejati, dihormati dan dipuji oleh klas buruh, namanya dikutip di berbagai buku, dan foto dirinya di pajang di setiap tembok rumah klas buruh. Ia menempati istana negara, minum bir, dan berdansa. Sesekali turun ke lahan pertanian, berpose mencangkul, wartawan memfotonya, lalu dimuat di harian yang dikendalikan penuh dirinya. Tanpa sengaja tangan Dulmakir menyentuh mouse kecil laptopnya. Ia kaget laptopnya semalam belum dimatikan. Terlihat jendela video adegan porno belum dia tutup. Seketika lamunan dirinya jadi buyar. Ia segera mematikan laptopnya.

Untuk saat ini Dulmakir berpikir mencari jalan keluar dari masalah pengangguran yang dituduhkan padanya. Dulmakir merasa dia bukan pengangguran, tapi pekerja rakyat. Dari desa ke desa, dia mengumpulkan kaum tani untuk berorganisasi. Dari pabrik ke pabrik, dia mengumpulkan kaum buruh untuk berserikat. Ya, Dulmakir, sosok pembebas! Orang-orang justru harus menghormatinya sebagaimana mereka mencintai Soekarno. Dulmakir duduk menerawang di sudut kamar sambil menghisap rokok merk Gudang Garam.

Masyarakat yang Dulmakir anggap diracuni ide-ide liberalisme tidak paham bahwa dirinya seorang pejuang. Sebagaimana pejuang, dia tentu tidak hidup normal. Jarang pulang rumah karena tur padat menggerakkan orang-orang demonstrasi. Makan satu atau dua kali sehari, tanpa meja makan, karena harus merasakan penderitaan rakyat. Rambut panjang karena lupa keterusan pergi ke tukang cukur. Hanya satu kata dipikiran Dulmakir: revolusi!.

Dulmakir pernah menulis sajak pendek. Ditulis di bawah pohon sengon, di pinggir kali, di dekat kerbau yang sedang istirahat. 

—Bila perempuan datang padaku, secantik apapun itu,
            Kukatakan, aku hanya untuk revolusi
 Bila orang tuaku datang padaku, sebaik apapun itu,
            Kukatakan, aku adalah anak revolusi
  
Dulmakir oh Dulmakir! Dia masih menikmati kepulan demi kepulan asap rokoknya. Sementara, hujan sore mulai turun. Udara menjadi dingin. Dulmakir tak menghiraukan detik dan menit waktu. Dadanya makin bergemuruh mengingat kembali setiap perkataan dan permintaan orang tuanya. Betapa memalukan orang tuanya memintanya untuk bekerja kepada imperialis. Dulmakir tidak akan mengambil keputusan menjadi seorang buruh. Andil bagian dalam sistem kerja kapitalis yang menghisap. Ini menghinakan! Bodoh! Dulmakir adalah pembebas! Dulmakir adalah pejuang! Dulmakir adalah pelayan rakyat dan harus hidupnya dibiayai massa rakyat.  Jika perlu, berak di toilet berbayar pun harus dibiayai massa rakyat. Bensin motor untuk mobilitas kerjanya juga dibiayai massa rakyat. Tidak peduli massa rakyat dari petani miskin dan buruh miskin itu. Asal dijejali harapan tanah, upah, dan sebagainya, mereka akan rajin bayar iuran organisasi, meski uang saku anaknya sekolah dipangkas.

Senyum Dulmakir mengembang saat keputusan jalan hidupnya dinilai paling benar. Untuk apa dirinya mengikuti ribuan orang antri melamar pekerjaan di acara-acara job fair. Untuk apa dirinya pergi ke kantor pos melihat papan pengumuman lowongan kerja. Untuk apa semuanya, jika akhirnya jadi pelayan kapitalis. Diperas tenaganya. Jalan Dulmakir dinilai cukup, yakni hidup dibiayai massa rakyat. Maka dari itu, Dulmakir pikir harus lebih banyak baca buku kiri, melihaikan komunikasi propaganda, memperbanyak anggota-anggota demi memperbesar iuran dan aset-fasilitas, sehingga akan membawa kemakmuran bagi dirinya. Oh, Dulmakir brilian!

Kecamuk pikir, ide yang silih berganti, dan perasaan kuat jalan membawa kemakmuran dirinya melalui kotak pandora ideologi, tiba-tiba lenyap kala telpon pintarnya berdering kembali. Dulmakir masih belum mengangkat telpon pintarnya dari keranjang pakaian kotor. Dia duga mamanya menghubunginya lagi untuk hal-hal yang tidak penting. Panggilan pertama berhenti. Dilanjutkan panggilan kedua dan kali ini Dulmakir merangkak mengambil telpon pintarnya. Dilayar terlihat, Rohim memanggil, anak buahnya.

            “Kamerad,” suara Rohim memanggil.

            “Ada apa, bung?”

            “Bung punya uang. Pinjam.”

           “Bulan ini belum dikirim, bung. Sepertinya saya akan menghadapi masalah keuangan.”

            “Saya lapar, bung. Uang tidak pegang.”

            “Kamu sekarang dimana?”

            “Lagi nempelin pamlet di kampus-kampus, bung. Seruan aksi massa. Sesuai perintah, bung.”

            “Cepat selesaikan. Kita ke desa, ke serikat tani, minta makan.”

            “Ok bung.”

Dulmakir tersenyum lepas. Idenya cukup brilian. Dirinya pun lapar. Dulmakir bangkit, melepas kaos, dan menyambar handuk. Dulmakir pergi ke kamar mandi.***
Share: