Minggu, 20 Desember 2015

Mengejar Keuntungan



Salah satu yang sulit—jika tidak “enggan”—diakui oleh manusia adalah soal mengejar keuntungan pribadi. Di dalam masyarakat tidak sedikit orang gampang mencibir orang-orang yang dianggap ‘cuma mementingkan keuntungan pribadi’. Orang tamak. Akan tetapi, penuduh sendiri tidak betul-betul yakin dirinya bebas dari kepentingan pribadi. Entah itu berlaku implisit.

Urusan mengejar keuntungan pribadi memang takkan gamblang diutarakan untuk sebuah kepedulian untuk orang lain. Meminjam bahasa politisi disebutnya ‘untuk rakyat’. Meskipun pada tataran tertentu, ambisi mengejar keuntungan pribadi, seringkali berimbas pada keuntungan bagi orang lain. Oleh karena manusia satu dengan yang lain terhubung, bekerja sama, dan berinteraksi. Istilah jawanya: kecipretan.

Apabila dalam komunitas, lebih luas masyarakat, tidak ada salah satu individu yang berkobar-kobar meraih keinginan lewat ambisinya menyatakan atau mendapatkan sesuatu yang Tuhan anugerahkan pada manusia, maka mendeg-lah peradaban. Bagaimana pun manusia menghidari hidup seperti kera primitif (hidup monoton) yang berebut makan dengan dasar-dasar kolektivisme. Antara yang benar-benar bekerja dan pura-pura bekerja sukar dibedakan, tapi dipaksa berkumpul dalam satu meja makan. Di sinilah keculasan prinsip-prinsip kolektif karena jalan terbaik kelahiran ‘kuman parasit’.

Tuhan pencipta menitipkan ketidak-pastian di setiap jengkal perjalanan ciptaan-Nya. Benar tidaknya kitab-kitab agama selalu menganjurkan tuntunan kebahagiaan dunia akhirat. Saat itulah, setiap kelahiran dipaksakan untuk pemeliharaan diri dari berjubalnya miliaran manusia yang sedang sama-sama memelihara dan memuliakan diri. Darinya hasrat mengejar keuntungan, baik dari sesama manusia sendiri maupun kekayaan alam yang Tuhan sediakan, inheren pada jiwa manusia. Analisa determinasi ekonomi dan struktural sanggup menipu tentang hakikat Keberadaan.

Kesejahteraan Karena Semangat Mencari Untung

Dampak dari ambisi keuntungan pribadi juga merembes pada kelimpahan barang dan kesejahteraan masyarakat. Setiap individu bebas memilih dan memiliki barang-jasa yang beredar di pasar. Di tingkat minimal, ketamakan pribadi atas keuntungan menciptakan rantai produksi dan pekerjaan baru, yang artinya tiap-tiap individu terbuka peluang atas kepemilikan alat bayar (baca: uang) dari unit pekerjaan tertentu. Cukup terlihat di setiap desa yang mempunyai basis produksi tertentu dari ide kapitalis jauh lebih baik dari desa yang sama sekali tidak memiliki basis produksi (rata-rata warganya merantau ke kota atau jadi pelayan di negeri orang). 

Mengejar keuntungan pribadi yang didasari hak kepemilikan pribadi atas alat produksi setidaknya memicu pertumbuhan ekonomi dan kontribusi positif terhadap perkembangan masyarakat. Ini terjadi tanpa disadari bagaikan tangan-tangan Tuhan yang bergerak menyelamatkan penderitaan dan kemiskinan kaum dhuafa. Semangat mencari untung, diakui atau tidak, selalu menyeret kepada keuntungan-keuntungan lainnya. Tidak semua orang dapat melihat peluang dan keuntungan dari dia hidup dengan manusia lain atau dari dia melihat alam. Perbedaan ini membutuhkan keunikan dari seseorang yang mempunyai hasrat dan ambisi mendapatkan kekayaan dan keuntungan.

Film animasi Adit, Jarwo, dan Sopo cukup mewakili pandangan keuntungan pribadi dan kesejahteraan. Tokoh Sopo yang tidak pintar akhirnya terbantu hidupnya oleh tokoh Jarwo yang terkenal licik, cerdik, sekaligus pandai mencari peluang mendapatkan keuntungan dari setiap dia melihat sesuatu. Walaupun dalam eksekusi idenya Jarwo selalu mendapatkan masalah. Akan tetapi, film animasi ini memberi perspektif adanya perbedaan yang natural di antara sifat dan tabiat manusia. Dan, di dalam kehidupannya nyata, secara pribadi saya mengamini diperlukan seseorang seperti Jarwo. 

Kesejahteraan dan kebahagiaan sangatlah privasi. Penganut Jainism yang mengabdikan dirinya untuk Tuhannya di Pegunungan Himalaya tidak bisa dipaksa untuk hidup di rumah beton, dirias ornamen cantik, dan dilengkapi peralatan elektronik. Tapi ini kekecualian. Pada yang normal segenap manusia membutuhkan tingkat kebahagiaan dan kesejateraan tertentu. Yang tidak sama. Maka dari itu, apa yang dikerjakan oleh manusia untuk mengejar keuntungan demi kebahagiaan sungguh mulia. Masalah-masalah kepeduliaan terhadap sesama manusia akan datang dengan sendirinya berbanding seberapa besar keuntungan yang dikumpulkannya.

Di dalam hal makro, mencari keuntungan melalui perombakan lembaga-lembaga yang dikuasai negara melalui privatisasi atau swastanisasi, baik di sektor pendidikan, sosial dan ekonomi, adalah optimisme masa depan yang perlu dijaga untuk meraih kesejahteraan umum yang meluas. Lebih meyakinkan hal tersebut memangkas dan mendepak tindak korupsi yang menjangkiti negeri ini. Siapa yang mau pemilik saham pribadi, aset dan kekayaan bisnisnya digondol oleh maling di dalam perusahaannya? Sekali lagi, semangat mencari dan mendapatkan keuntungan akan lebih mendisiplinkan sistem dan kontrol yang ketat.  Kepemilikan pribadi melahirkan tanggang jawab dan fokus yang lebih daripada dikuasai dan dikelola negara. Bukankah barang milik pribadi lebih terjaga dari barang yang diklaim milik bersama?

Akuilah Diri Sendiri

Akuilah diri sendiri bahwa kita mencari keuntungan dari setiap perkawanan dan perkataan. Tidak ada orang yang benar-benar memikirkan dan memperjuangkan orang lain, seperti politisi yang mengumbar omong kosong di depan kamera atau dimuat koran. Seberapa pun mengharukan orasi-orasi tentang kerakyatan terselip mata pisau, yakni kepentingan pribadi mencari keuntungan. Keuntungan dalam berbagai hal. Kepercayaan diri dan pemeliharaan diri secara pribadi adalah penyelamatan terbaik dari ketidak-pastian dan rahasia Tuhan semenjak kehidupan diciptakan. Pandai-pandailah mencari dan membuat keuntungan. Berani jujur untuk itu.
Share:

0 comments:

Posting Komentar