Minggu, 29 November 2015

Rahasia Pedagang Buah



Cerpen Mugianto

            Di pasar selalu terdengar mereka yang ribut menawar harga. Atau, sebaliknya, mereka yang berisik berteriak menawarkan dagangan. Ada pula yang hanya diam hilang gairah mencari untung. Bagi mereka yang dagangannya laku, tempatnya dipenuhi derit timbangan dan ocehan yang membuat iri pedagang lainnya. Iri acapkali hadir di hati mereka yang dagangannya sepi. Maka, menghasut adalah jalan mudah bagi pedagang yang kesepian untuk menarik pembeli.
            “Tomat di sini lebih bagus dan segar. Di sana tomat busuk dan kering. Harganya jauh lebih mahal ketimbang di sini.”
            Perkataan menghasut itu sering tanpa bukti yang kuat. Sekedar bualan untuk   mematikan dagangan lawan usahanya. Tapi di pasar itu sah-sah saja. Semua mengerti dan mengakui sebagai kebiasaan turun-temurun kaum dagang. Sehingga, seperti ada sebuah kesepakatan perjudian moral pedagang di pasar. Kebaikan telah dipertaruhkan di meja dagangan.
            Aku membaca buku bahwa kebebasan hadir di ruang kaum dagang. Kebebasan berkembang ketika perdagangan dimulai di kota-kota pelabuhan yang jauh dari koersif negara. Begitulah Eropa di abad-abad awal kemajuannya dan menyebar ke dunia bersama ditemukannya kompas. Kebebasan telah menjadi pusaka di antara pedagang Eropa untuk berhubungan dengan berbagai negeri.
            Mungkin, itu bukan alasan, kenapa ayahku memilih jadi pedagang di pasar. Ia bukan dengan sadar memilih berdagang untuk kebebasan, tapi tuntutan hidup yang memaksanya memilih berdagang. Ia harus menghidupi aku, ibu, dan kedua adikku. Memberi tempat tinggal, pakaian, makanan, kesehatan dan pendidikan yang layak. Karena itu, ayahku berdagang ikan asin dan sayuran di pasar. Ia menyewa kios dan membayar pajak harian ke negara. Sebagai gantinya, ayahku memperoleh keamanan berjualan di pasar.
            Setiap hari aku atau ibu membantu ayah di pasar. Dan, aku perlahan mengenal  sifat dan hubungan sosial yang terbentuk di pasar. Setiap orang berhubungan didasari oleh kepentingan dagang. Kita sukar mempercayai seorang itu baik dan berbudi luhur. Jika orang itu baik, maka dialah yang pertama kali akan berkhianat. Sebaliknya, orang jahat akan menampakkan keberadaan yang memang jujur. Ayahku telah memiliki pengalaman demikian berkali-kali. Ia mengatakan padaku bahwa di sini hidup adalah permusuhan secara diam-diam.
***
            Kios sebelah telah ditempati pedagang baru tiga hari lalu. Ia pedagang buah, masih muda dan ramah. Sehabis membuka kios tiap pagi, ia akan datang ke kios kami. Sekedar menanyakan kabar kesehatan. Lalu, saat beranjak siang, ia akan datang lagi menanyakan keberuntungan. Ayahku menanggapi seperlunya.
            Kini, aku semakin mengenal pedagang buah itu. Dia sarjana muda. Pilihan hidupnya adalah membuka usaha. Pengetahuan ekonominya luas dan dalam. Ia rendah hati. Aku nyaman bercakap-cakap bersamanya karena dia terbuka dan tipe pembicara yang luwes.
            Dagangan buahnya terus berkembang, makin banyak pelanggan. Pedagang buah yang lain mulai menggunjingnya. Katanya, dia pakai jimat pesugihan atau dagangannya diberi jampi-jampi. Keterangan palsu ini menjadi perbicangan hangat akhirnya. Aku merasa keadaan sudah berlebihan menyerang pedagang buah itu. Meskipun dia seakan tenang, tidak peduli dan terus berbuat baik.
            Setiap sore dia akan menyapu sampai halaman kios lain. Termasuk halaman kios ayahku. Kadang membersihkan selokan yang tertutup sampah-sampah pasar. Akan tetapi, malah semakin menimbulkan banyak gosip yang bukan-bukan. Pedagang buah yang lain bertambah iri dan makin gencar memberi hasutan buruk ke pelanggan buahnya di belakang.
            “Kamu sudah dijampi-jampi pesugihannya. Hati-hati,” hasut seorang pedagang buah.
            Sementara, yang lainnya melakukan hal serupa.
            “Awas, buah busuk dan asam. Jangan mau tertipu. Dia bermental bajingan.”
            Aku meragukan pedagang buah itu mampu bertahan dalam udara yang penuh hasutan di pasar. Di sini, kesuksesan seseorang berarti memperbanyak musuh. Musuh-musuh itu berlindung di balik senyum keramahan. Main belakang. Begitulah, suasana seakan biasa saja, tapi pedagang yang sukses harus waspada pedagang di samping kanan-kirinya.
***
            Dua hari ini, aku tidak melihatnya berjualan. Kiosnya tertutup rapat. Tidak ada keterangan apapun darinya tentang kiosnya yang tiba-tiba tutup. Banyak pelanggannya menanyakan, tapi aku jawab tidak tahu. Sementara, pedagang buah yang lain memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebar informasi sembarangan. Pedagang buah yang dagangannya sepi sangat senang menebar teror ke pelanggan pedagang buah itu. Katanya, si pemilik kios sedang memberi sesaji ke gunung, bertemu dengan setan, dan meminta kekayaannya ditambah lewat pesugihan.
            Ini permainan yang menyakitkan apabila terdengar pedagang buah itu. Semestinya, orang sadar bahwa persaingan bagaikan sungai mengalir, pemancing tidak pernah tahu keberadaan ikan, tapi terus berusaha agar umpannya disambar ikan. Aku menjadi penasaran apa yang tengah dilakukan pedagang buah itu. Di saat pelanggannya bertambah, dirinya malah menutup kios. Bisa-bisa pelanggannya lari ke pedagang buah yang lain.
            Baru minggu berikutnya, pedagang buah itu membuka kios buahnya. Ia membagi-bagikan kotak nasi berisi gulai dan sate. Katanya, anak pertamanya lahir, dan dia baru saja menggelar akikah. Aku sangat senang mendengarnya dan makin percaya bahwa dia pedagang yang berbeda. Moralnya baik dan tulus. Akan tetapi, kebanyakan pedagang makin yakin dia menggunakan pesugihan. Kotak makanan yang dibagi-bagikan dianggap sebagai caranya mencari tumbal.
            Kini, pedagang yang lain semakin terbuka menyindir pedagang buah itu.
            “Ini makanan buat menyenangkan iblis, toh, Mas. Biar dagangannya laris manis…” ujarnya.
            “Bukan. Itu lagi cari tumbal pesugihan,” timpal yang lain.
            Pedagang buah itu tetap tenang. Tidak marah. Malah menanggapinya dengan bercanda dan tertawa.
            “Iya, kalian nanti buat makan iblis, he-he.”
            Aku menghampirinya di kios saat terlihat tidak ada pembeli yang datang. Dia sedang membaca koran. Saat dilihat aku menuju ke arahnya, ia segera bangkit mempersilahkanku duduk. Aku mengatakan bahwa kemarin banyak pelanggan yang menanyakan dirinya. Ia tersenyum ramah seperti tidak mempedulikan pelanggan-pelanggannya yang merasa kecewa karenanya. Malah, ia menawarkan es teh kepadaku. Tapi aku tolak.
            “Kenapa setiap aku menawarimu sesuatu selalu kau tolak? Takut, ada jampi-jampinya,” guraunya.
            Aku menjawab, tidak, sambil tersenyum. Memberi alasan bahwa aku tidak mau membuat repot. Tapi ia sedikit kurang senang mendengar penjelasanku. Lalu, ia menceritakan anak pertamanya berkelamin laki-laki. Bobot tubuhnya sewaktu lahir lumayan berat. Istrinya sangat senang proses kelahirannya lancar. Setiap malam kini ia harus terbangun untuk mengganti popok anaknya. Ia sangat menikmati hari barunya sebagai ayah.
            Ketika ia sudah kehabisan cerita, kesempatanku untuk mempertanyakan sesuatu yang telah lama aku pendam. Dengan hati-hati, memilih kata-kata yang baik, dan mempertimbangkan kemungkinan jawabannya, barulah aku bertanya. Ia nampak berpikir untuk memberi jawaban.
            “Aku mengira suatu saat akan ada yang bertanya seperti kamu. Itu tepat. Kau tentu sudah lama di pasar daripada aku. Bagaimana pun, pasar adalah bentuk paling sederhana dari kebebasan. Selagi tidak ada otoritas yang mengontrol. Aku tahu, setiap orang di sekitarku mempergunjingkanku, menghasut orang agar tidak membeli daganganku dan menebar fitnah. Tapi, itulah wujud dari keberadaan manusia dalam kebebasan. Kenapa kita harus marah? Apakah diperlukan aturan khusus anti pergunjingan, hasutan dan fitnah? Bukankah kita juga bisa membalasnya? Sehingga, ini urusan pilihan moral.”
            “Apa yang membuat kamu tenang dan daganganmu tetap laku dan banyak pelanggan?” tanyaku penasaran.
            “Karena aku telah memilih moral tertentu. Kebanyakan orang menyuguhkan sesuatu yang menarik, manis dan memabukkan kepada pembeli di awal. Tapi, aku tidak. Aku menawarkan kemungkinan keburukan barang daganganku kepada pembeli. Apakah kau percaya?”
            “Itu akan menghancurkan daganganmu?”
            “Siapakah yang menilai barang dagangan? Penjual atau pembeli. Tentulah pembeli. Belum tentu aku mengatakan buah kualitas buruk sama buruknya bagi pelanggan. Aku bukan menawarkan kebaikan barang dagangan tapi kemungkinan keburukan. Sementara kebanyakan pedagang menawarkan kebaikan sesaat, namun keburukkan bagi pembeli akan terjadi selamanya. Sedangkan menawarkan keburukan sesaat, akan mengalir kebaikan dan kepercayaan selamanya. Barang dagangan yang baik adalah bersifat apa adanya, tidak banyak mengobral kebaikan.”
            “Maksudmu, berkata buruk hanya wujud dari kerendahan hati dan kejujuran?”
            “Tepat. Seandainya aku mengatakan kepada pelanggan buah jerukku paling manis, tapi saat ia menikmatinya di rumah—asam, betapa kecewanya dia. Berani taruhan dia tidak akan datang lagi ke tokoku. Tetapi, jika aku selalu menunjukkan kemungkinan keburukan dari daganganku, pada batas tertentu pelanggan akan mendapat dua penilaian dan pilihan. Di situlah kita menempatkan kemerdekaan konsumen untuk memilih dan menilainya sendiri. Adakalanya baik itu tidak perlu ditunjukan.”
            “Aku mengerti.”
            Sejak aku mendapatkan apa yang dia pikirkan, aku lebih menghormatinya. Ia tidak pernah mempertaruhkan kebaikan. Justru sebaliknya.

Selesai
Share:

0 comments:

Posting Komentar