Sabtu, 07 Februari 2015

Patung

                                                                    : Mugianto
Di sebuah perumahan elit terjadi kegemparan oleh penemuan patung. Mutali, yang baru sebulan menjabat Ketua RW, jadi sasaran kamera dan pertanyaan wartawan.
“Bagaimana awal patung ini ditemukan, Pak?” tanya seorang wartawan.

“Itu dari rumah salah satu warga kami. Rumahnya lagi dibangun septik tank baru. Ketika tanah di belakang rumahnya digali tukang, tiba-tiba ditemukan sebuah patung.”

“Kira-kira patung apa itu, Pak?”

“Saya tidak tahu. Saya bukan orang kebudayaan. Saya orang kantoran.”

“Ada yang bilang patung Erlangga, benar itu, Pak?”

“Saya tidak tahu, tanya saja pada pakarnya, di sini orang-orang sibuk kerja semua.”

Wartawan itu merasa percuma mewawancarai Mutali. Ia mundur. Rekan-rekannya yang lain masih berebut mengajukan pertanyaan. Mutali terlihat senang-senang saja. Meskipun kalau ditanya soal patung apa, usianya berapa tahun, dan bagaimana ke depannya, dia jawab tidak tahu.
Seisi perumahan yang rata-rata sibuk dengan dunianya sendiri, acuh tak acuh, mendadak membanjiri jalan gang, saling tanya, gara-gara patung purba itu. Semua ingin menyaksikan benda yang sangat jauh dari gaya hidupnya.  Yang selama ini, tidak ada benda seni paling menarik bagi kesehatan jiwanya kecuali uang.
Perumahan elit ini sudah sepuluh tahun berdiri. Orang-orang berpenghasilan selangitlah yang sanggup menikmati kemewahan dan kenyamanan perumahan ini. Seratus satpam berjaga dan berkeliling tiap harinya. Tembok beton tinggi dan penuh kawat berduri mengelilingi kompleks perumahan. Kamera CCTV tersebar rahasia di segala penjuru perumahan. Tiap kali orang asing masuk perumahan wajahnya difoto dan ditahan identitasnya. Tak ada maling dan pemulung yang berani mendekat.
Penemuan patung itu mengubah pemandangan sehari-hari di perumahan. Orang-orang menyeruak keluar, heran, kagum, dan penuh rasa ingin tahu. Anak-anak elit yang tiap hari duduk diam menikmati aneka fasilitas rumah kali ini keluar dan berlarian. Polisi dan para profesor berdatangan ingin memeriksa, menyelidiki, dan memperoleh informasi. Alendrof, pemilik rumah tempat patung ditemukan, belum tahu yang harus diperbuat. Ia juga jadi sasaran kamera dan pertanyaan wartawan.
“Patung ini mau diapakan?” tanya wartawan.
“Belum tahu. Kalau artefak kuno mungkin dimuseumkan,” jawab Alendrof kalem.
“Tidak ingin dilelang atau dijual?”
“Kalau benar-benar benda antik dan kuno, punyai nilai jual tinggi, barangkali saya lebih tertarik uangnya. Saya masih menunggu hasil pemeriksaan dari profesor arkeologi nasional.”
“Dugaan sementara, patung apa dan sudah berapa tahun terkubur?”
“Menurut Profesor Dayat, patung Hayam Wuruk, raja Majapahit dulu. Tinggal dihitung antara masa Hayam Wuruk ke masa sekarang berapa abad.”
“Kalau diklaim jadi benda sejarah milik pemerintah bagaimana?”
“Ya, saya tunduk pada hukum saja. Tapi, sekali lagi, kalau patung itu mahal, barangkali saya berunding dengan pemerintah, he-he.”
Patung itu diletakkan di atas meja di rumah Alendrof. Juru kamera berulang kali memotretnya. Orang-orang sekitar juga berebutan mengambil gambar patung tersebut pakai kamera handphone. Alendrof masih sibuk menjawab pertanyaan wartawan. Polisi menjaga dan mengatur orang-orang kaya yang rela berdesakkan melihat patung.
Kabar patung kuno itu secepat kilat menyebar ke masyarakat luas. Cukup banyak yang berdatangan ingin melihat langsung patung itu. Akan tetapi, selain warga perumahan, dilarang masuk. Ditakutkan nanti membuat kegaduhan, menyampah, dan mencari kesempatan dalam keramaian untuk menggarong harta benda. Kalangan warga biasa, seniman, dan budayawan yang berbondong-bondong ingin melihat langsung hanya berdiri di luar pagar perumahan dengan penjagaan ketat satpam.
Seorang yang sangat kecewa karena dilarang masuk ke lokasi mengomel kepada temannya.
“Kamu tahu, kita di sini seperti alien atau hama, percuma saja kita ke sini!”
“Ya. Padahal kita cuma mau lihat patung, patung! Benda kebudayaan nenek moyang kita sendiri,” sahut temannya turut mengomel tanpa arah.
“Terkutuk perumahan ini, seperti sudah bikin negara sendiri.”
“Terkutuk! Sama-sama manusia, sama-sama orang Indonesia, lihat patung saja dilarang. Kita justru orang yang melek kebudayaan, melek sejarah, rela datang jauh-jauh, kalau perlakuannya begini, ini keterlaluan.”
Dua orang itu terus mengomel, meluapkan kekecewaannya, dan pergi dari keramaian. Satpam masih menjaga pintu gerbang dengan membentuk barisan anti huru-hara. Di dalam, hanya wartawan tertentu, polisi, dan profesor yang diperbolehkan melihat patung itu.
Kemudian terlihat iring-iringan mobil pejabat melambat hendak memasuki perumahan itu. Mungkin Gubernur, Menteri, atau Bupati. Orang-orang biasa hanya bisa memanjangkan leher saja. Mobil-mobil pejabat itu segera memasuki perumahan.
Dua jam setelah iring-iringan mobil pejabat pemerintah masuk ke perumahan, di televisi disiarkan langsung konferensi pers tentang patung kuno yang ditemukan di sekitar rumah Alendrof. Terlihat di belakang meja konferensi berturut-turut, Alendrof, Profesor Dayat, Profesor Utami, Menteri Kebudayaan, dan Bupati. Patung itu terlihat di layar kaca, diletakkan di tengah meja konferensi. Patung itu terbuat dari batu, agak hijau berlumut, dan nampak wajah patung di beberapa bagian batunya sudah terkikis.
Profesor Dayat berbicara:
“Menurut hasil penyelidikan kami sementara, yang terdiri dari pakar arkeologi dan sejarah, patung ini adalah Raja Hayam Wuruk. Patung ini terpendam di tanah selama berabad-abad lamanya, dipahat secara baik, dan diperkirakan masih ada patung-patung lain di kompleks perumahan ini.”
Selanjutnya Menteri Kebudayaan memberikan pernyataannya:
“Setelah berunding dengan pemilik rumah, disepakati bahwa patung ini sementara menjadi hak milik kekayaan kebudayaan negara. Patung ini akan dirawat dan dijaga di dalam Museum Nasional. Sebagai gantinya, Bapak Alendrof, akan mendapatkan imbalan dari negara karena telah menemukan patung ini.”
Alendrof tersenyum-senyum mendengar ‘imbalan’ dari Menteri. Meskipun sesungguhnya yang patut mendapatkannya adalah tukang gali septik tank di rumahnya.
Siaran langsung konferensi pers tentang ditemukannya patung kuno telah membuat Tarpan dan beberapa temannya tertawa terbahak-bahak. 
“Akhirnya Jo, patung yang kita buat dulu di kampung lama, dipendam baru sepuluh tahun, sudah jadi patung antik dan masuk museum, ha-ha-ha,” ujar Tarpan kepada Parjo.
“Ha-ha-ha,” Parjo masih tertawa. Segera tawanya redup ketika ada masa lalu yang diingatnya.  “Kita memang terusir dari kampung kita dulu karena perumahan elit itu, tetapi kita tidak boleh mati dalam berkesenian pahat, terus berkarya.” 
Parjo melanjutkan.
“Kita tahu bahwa banyak orang yang masih buta kebudayaan, karya seni yang perlu diuri-uri, dan menghargai karya orang lain. Akan tetapi, bagaimanapun, generasi yang melek kebudayaan, melek sejarah, dan melek jati diri harus terus berkembang. Apapun situasinya dan apapun kelakuan pemerintah yang kurang peduli terhadap nasib kita ini.”
Tarpan, Parjo, dan lainnya masih terus berdiskusi. Mereka adalah para pemahat patung, mewarisi nenek moyangnya, dan berkesenian dari sejak kecil. Kampung mereka, disebut Kampung Pemahat, pindah agak menjauh ke sebelah timur laut dari benteng tinggi kokoh perumahan elit. Mereka digusur paksa dengan ganti rugi yang rendah oleh pembangunan perumahan elit itu.***

Ilustrasi: deviantart.com
Share: