Minggu, 20 Desember 2015

Mengejar Keuntungan



Salah satu yang sulit—jika tidak “enggan”—diakui oleh manusia adalah soal mengejar keuntungan pribadi. Di dalam masyarakat tidak sedikit orang gampang mencibir orang-orang yang dianggap ‘cuma mementingkan keuntungan pribadi’. Orang tamak. Akan tetapi, penuduh sendiri tidak betul-betul yakin dirinya bebas dari kepentingan pribadi. Entah itu berlaku implisit.

Urusan mengejar keuntungan pribadi memang takkan gamblang diutarakan untuk sebuah kepedulian untuk orang lain. Meminjam bahasa politisi disebutnya ‘untuk rakyat’. Meskipun pada tataran tertentu, ambisi mengejar keuntungan pribadi, seringkali berimbas pada keuntungan bagi orang lain. Oleh karena manusia satu dengan yang lain terhubung, bekerja sama, dan berinteraksi. Istilah jawanya: kecipretan.

Apabila dalam komunitas, lebih luas masyarakat, tidak ada salah satu individu yang berkobar-kobar meraih keinginan lewat ambisinya menyatakan atau mendapatkan sesuatu yang Tuhan anugerahkan pada manusia, maka mendeg-lah peradaban. Bagaimana pun manusia menghidari hidup seperti kera primitif (hidup monoton) yang berebut makan dengan dasar-dasar kolektivisme. Antara yang benar-benar bekerja dan pura-pura bekerja sukar dibedakan, tapi dipaksa berkumpul dalam satu meja makan. Di sinilah keculasan prinsip-prinsip kolektif karena jalan terbaik kelahiran ‘kuman parasit’.

Tuhan pencipta menitipkan ketidak-pastian di setiap jengkal perjalanan ciptaan-Nya. Benar tidaknya kitab-kitab agama selalu menganjurkan tuntunan kebahagiaan dunia akhirat. Saat itulah, setiap kelahiran dipaksakan untuk pemeliharaan diri dari berjubalnya miliaran manusia yang sedang sama-sama memelihara dan memuliakan diri. Darinya hasrat mengejar keuntungan, baik dari sesama manusia sendiri maupun kekayaan alam yang Tuhan sediakan, inheren pada jiwa manusia. Analisa determinasi ekonomi dan struktural sanggup menipu tentang hakikat Keberadaan.

Kesejahteraan Karena Semangat Mencari Untung

Dampak dari ambisi keuntungan pribadi juga merembes pada kelimpahan barang dan kesejahteraan masyarakat. Setiap individu bebas memilih dan memiliki barang-jasa yang beredar di pasar. Di tingkat minimal, ketamakan pribadi atas keuntungan menciptakan rantai produksi dan pekerjaan baru, yang artinya tiap-tiap individu terbuka peluang atas kepemilikan alat bayar (baca: uang) dari unit pekerjaan tertentu. Cukup terlihat di setiap desa yang mempunyai basis produksi tertentu dari ide kapitalis jauh lebih baik dari desa yang sama sekali tidak memiliki basis produksi (rata-rata warganya merantau ke kota atau jadi pelayan di negeri orang). 

Mengejar keuntungan pribadi yang didasari hak kepemilikan pribadi atas alat produksi setidaknya memicu pertumbuhan ekonomi dan kontribusi positif terhadap perkembangan masyarakat. Ini terjadi tanpa disadari bagaikan tangan-tangan Tuhan yang bergerak menyelamatkan penderitaan dan kemiskinan kaum dhuafa. Semangat mencari untung, diakui atau tidak, selalu menyeret kepada keuntungan-keuntungan lainnya. Tidak semua orang dapat melihat peluang dan keuntungan dari dia hidup dengan manusia lain atau dari dia melihat alam. Perbedaan ini membutuhkan keunikan dari seseorang yang mempunyai hasrat dan ambisi mendapatkan kekayaan dan keuntungan.

Film animasi Adit, Jarwo, dan Sopo cukup mewakili pandangan keuntungan pribadi dan kesejahteraan. Tokoh Sopo yang tidak pintar akhirnya terbantu hidupnya oleh tokoh Jarwo yang terkenal licik, cerdik, sekaligus pandai mencari peluang mendapatkan keuntungan dari setiap dia melihat sesuatu. Walaupun dalam eksekusi idenya Jarwo selalu mendapatkan masalah. Akan tetapi, film animasi ini memberi perspektif adanya perbedaan yang natural di antara sifat dan tabiat manusia. Dan, di dalam kehidupannya nyata, secara pribadi saya mengamini diperlukan seseorang seperti Jarwo. 

Kesejahteraan dan kebahagiaan sangatlah privasi. Penganut Jainism yang mengabdikan dirinya untuk Tuhannya di Pegunungan Himalaya tidak bisa dipaksa untuk hidup di rumah beton, dirias ornamen cantik, dan dilengkapi peralatan elektronik. Tapi ini kekecualian. Pada yang normal segenap manusia membutuhkan tingkat kebahagiaan dan kesejateraan tertentu. Yang tidak sama. Maka dari itu, apa yang dikerjakan oleh manusia untuk mengejar keuntungan demi kebahagiaan sungguh mulia. Masalah-masalah kepeduliaan terhadap sesama manusia akan datang dengan sendirinya berbanding seberapa besar keuntungan yang dikumpulkannya.

Di dalam hal makro, mencari keuntungan melalui perombakan lembaga-lembaga yang dikuasai negara melalui privatisasi atau swastanisasi, baik di sektor pendidikan, sosial dan ekonomi, adalah optimisme masa depan yang perlu dijaga untuk meraih kesejahteraan umum yang meluas. Lebih meyakinkan hal tersebut memangkas dan mendepak tindak korupsi yang menjangkiti negeri ini. Siapa yang mau pemilik saham pribadi, aset dan kekayaan bisnisnya digondol oleh maling di dalam perusahaannya? Sekali lagi, semangat mencari dan mendapatkan keuntungan akan lebih mendisiplinkan sistem dan kontrol yang ketat.  Kepemilikan pribadi melahirkan tanggang jawab dan fokus yang lebih daripada dikuasai dan dikelola negara. Bukankah barang milik pribadi lebih terjaga dari barang yang diklaim milik bersama?

Akuilah Diri Sendiri

Akuilah diri sendiri bahwa kita mencari keuntungan dari setiap perkawanan dan perkataan. Tidak ada orang yang benar-benar memikirkan dan memperjuangkan orang lain, seperti politisi yang mengumbar omong kosong di depan kamera atau dimuat koran. Seberapa pun mengharukan orasi-orasi tentang kerakyatan terselip mata pisau, yakni kepentingan pribadi mencari keuntungan. Keuntungan dalam berbagai hal. Kepercayaan diri dan pemeliharaan diri secara pribadi adalah penyelamatan terbaik dari ketidak-pastian dan rahasia Tuhan semenjak kehidupan diciptakan. Pandai-pandailah mencari dan membuat keuntungan. Berani jujur untuk itu.
Share:

Minggu, 29 November 2015

Rahasia Pedagang Buah



Cerpen Mugianto

            Di pasar selalu terdengar mereka yang ribut menawar harga. Atau, sebaliknya, mereka yang berisik berteriak menawarkan dagangan. Ada pula yang hanya diam hilang gairah mencari untung. Bagi mereka yang dagangannya laku, tempatnya dipenuhi derit timbangan dan ocehan yang membuat iri pedagang lainnya. Iri acapkali hadir di hati mereka yang dagangannya sepi. Maka, menghasut adalah jalan mudah bagi pedagang yang kesepian untuk menarik pembeli.
            “Tomat di sini lebih bagus dan segar. Di sana tomat busuk dan kering. Harganya jauh lebih mahal ketimbang di sini.”
            Perkataan menghasut itu sering tanpa bukti yang kuat. Sekedar bualan untuk   mematikan dagangan lawan usahanya. Tapi di pasar itu sah-sah saja. Semua mengerti dan mengakui sebagai kebiasaan turun-temurun kaum dagang. Sehingga, seperti ada sebuah kesepakatan perjudian moral pedagang di pasar. Kebaikan telah dipertaruhkan di meja dagangan.
            Aku membaca buku bahwa kebebasan hadir di ruang kaum dagang. Kebebasan berkembang ketika perdagangan dimulai di kota-kota pelabuhan yang jauh dari koersif negara. Begitulah Eropa di abad-abad awal kemajuannya dan menyebar ke dunia bersama ditemukannya kompas. Kebebasan telah menjadi pusaka di antara pedagang Eropa untuk berhubungan dengan berbagai negeri.
            Mungkin, itu bukan alasan, kenapa ayahku memilih jadi pedagang di pasar. Ia bukan dengan sadar memilih berdagang untuk kebebasan, tapi tuntutan hidup yang memaksanya memilih berdagang. Ia harus menghidupi aku, ibu, dan kedua adikku. Memberi tempat tinggal, pakaian, makanan, kesehatan dan pendidikan yang layak. Karena itu, ayahku berdagang ikan asin dan sayuran di pasar. Ia menyewa kios dan membayar pajak harian ke negara. Sebagai gantinya, ayahku memperoleh keamanan berjualan di pasar.
            Setiap hari aku atau ibu membantu ayah di pasar. Dan, aku perlahan mengenal  sifat dan hubungan sosial yang terbentuk di pasar. Setiap orang berhubungan didasari oleh kepentingan dagang. Kita sukar mempercayai seorang itu baik dan berbudi luhur. Jika orang itu baik, maka dialah yang pertama kali akan berkhianat. Sebaliknya, orang jahat akan menampakkan keberadaan yang memang jujur. Ayahku telah memiliki pengalaman demikian berkali-kali. Ia mengatakan padaku bahwa di sini hidup adalah permusuhan secara diam-diam.
***
            Kios sebelah telah ditempati pedagang baru tiga hari lalu. Ia pedagang buah, masih muda dan ramah. Sehabis membuka kios tiap pagi, ia akan datang ke kios kami. Sekedar menanyakan kabar kesehatan. Lalu, saat beranjak siang, ia akan datang lagi menanyakan keberuntungan. Ayahku menanggapi seperlunya.
            Kini, aku semakin mengenal pedagang buah itu. Dia sarjana muda. Pilihan hidupnya adalah membuka usaha. Pengetahuan ekonominya luas dan dalam. Ia rendah hati. Aku nyaman bercakap-cakap bersamanya karena dia terbuka dan tipe pembicara yang luwes.
            Dagangan buahnya terus berkembang, makin banyak pelanggan. Pedagang buah yang lain mulai menggunjingnya. Katanya, dia pakai jimat pesugihan atau dagangannya diberi jampi-jampi. Keterangan palsu ini menjadi perbicangan hangat akhirnya. Aku merasa keadaan sudah berlebihan menyerang pedagang buah itu. Meskipun dia seakan tenang, tidak peduli dan terus berbuat baik.
            Setiap sore dia akan menyapu sampai halaman kios lain. Termasuk halaman kios ayahku. Kadang membersihkan selokan yang tertutup sampah-sampah pasar. Akan tetapi, malah semakin menimbulkan banyak gosip yang bukan-bukan. Pedagang buah yang lain bertambah iri dan makin gencar memberi hasutan buruk ke pelanggan buahnya di belakang.
            “Kamu sudah dijampi-jampi pesugihannya. Hati-hati,” hasut seorang pedagang buah.
            Sementara, yang lainnya melakukan hal serupa.
            “Awas, buah busuk dan asam. Jangan mau tertipu. Dia bermental bajingan.”
            Aku meragukan pedagang buah itu mampu bertahan dalam udara yang penuh hasutan di pasar. Di sini, kesuksesan seseorang berarti memperbanyak musuh. Musuh-musuh itu berlindung di balik senyum keramahan. Main belakang. Begitulah, suasana seakan biasa saja, tapi pedagang yang sukses harus waspada pedagang di samping kanan-kirinya.
***
            Dua hari ini, aku tidak melihatnya berjualan. Kiosnya tertutup rapat. Tidak ada keterangan apapun darinya tentang kiosnya yang tiba-tiba tutup. Banyak pelanggannya menanyakan, tapi aku jawab tidak tahu. Sementara, pedagang buah yang lain memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebar informasi sembarangan. Pedagang buah yang dagangannya sepi sangat senang menebar teror ke pelanggan pedagang buah itu. Katanya, si pemilik kios sedang memberi sesaji ke gunung, bertemu dengan setan, dan meminta kekayaannya ditambah lewat pesugihan.
            Ini permainan yang menyakitkan apabila terdengar pedagang buah itu. Semestinya, orang sadar bahwa persaingan bagaikan sungai mengalir, pemancing tidak pernah tahu keberadaan ikan, tapi terus berusaha agar umpannya disambar ikan. Aku menjadi penasaran apa yang tengah dilakukan pedagang buah itu. Di saat pelanggannya bertambah, dirinya malah menutup kios. Bisa-bisa pelanggannya lari ke pedagang buah yang lain.
            Baru minggu berikutnya, pedagang buah itu membuka kios buahnya. Ia membagi-bagikan kotak nasi berisi gulai dan sate. Katanya, anak pertamanya lahir, dan dia baru saja menggelar akikah. Aku sangat senang mendengarnya dan makin percaya bahwa dia pedagang yang berbeda. Moralnya baik dan tulus. Akan tetapi, kebanyakan pedagang makin yakin dia menggunakan pesugihan. Kotak makanan yang dibagi-bagikan dianggap sebagai caranya mencari tumbal.
            Kini, pedagang yang lain semakin terbuka menyindir pedagang buah itu.
            “Ini makanan buat menyenangkan iblis, toh, Mas. Biar dagangannya laris manis…” ujarnya.
            “Bukan. Itu lagi cari tumbal pesugihan,” timpal yang lain.
            Pedagang buah itu tetap tenang. Tidak marah. Malah menanggapinya dengan bercanda dan tertawa.
            “Iya, kalian nanti buat makan iblis, he-he.”
            Aku menghampirinya di kios saat terlihat tidak ada pembeli yang datang. Dia sedang membaca koran. Saat dilihat aku menuju ke arahnya, ia segera bangkit mempersilahkanku duduk. Aku mengatakan bahwa kemarin banyak pelanggan yang menanyakan dirinya. Ia tersenyum ramah seperti tidak mempedulikan pelanggan-pelanggannya yang merasa kecewa karenanya. Malah, ia menawarkan es teh kepadaku. Tapi aku tolak.
            “Kenapa setiap aku menawarimu sesuatu selalu kau tolak? Takut, ada jampi-jampinya,” guraunya.
            Aku menjawab, tidak, sambil tersenyum. Memberi alasan bahwa aku tidak mau membuat repot. Tapi ia sedikit kurang senang mendengar penjelasanku. Lalu, ia menceritakan anak pertamanya berkelamin laki-laki. Bobot tubuhnya sewaktu lahir lumayan berat. Istrinya sangat senang proses kelahirannya lancar. Setiap malam kini ia harus terbangun untuk mengganti popok anaknya. Ia sangat menikmati hari barunya sebagai ayah.
            Ketika ia sudah kehabisan cerita, kesempatanku untuk mempertanyakan sesuatu yang telah lama aku pendam. Dengan hati-hati, memilih kata-kata yang baik, dan mempertimbangkan kemungkinan jawabannya, barulah aku bertanya. Ia nampak berpikir untuk memberi jawaban.
            “Aku mengira suatu saat akan ada yang bertanya seperti kamu. Itu tepat. Kau tentu sudah lama di pasar daripada aku. Bagaimana pun, pasar adalah bentuk paling sederhana dari kebebasan. Selagi tidak ada otoritas yang mengontrol. Aku tahu, setiap orang di sekitarku mempergunjingkanku, menghasut orang agar tidak membeli daganganku dan menebar fitnah. Tapi, itulah wujud dari keberadaan manusia dalam kebebasan. Kenapa kita harus marah? Apakah diperlukan aturan khusus anti pergunjingan, hasutan dan fitnah? Bukankah kita juga bisa membalasnya? Sehingga, ini urusan pilihan moral.”
            “Apa yang membuat kamu tenang dan daganganmu tetap laku dan banyak pelanggan?” tanyaku penasaran.
            “Karena aku telah memilih moral tertentu. Kebanyakan orang menyuguhkan sesuatu yang menarik, manis dan memabukkan kepada pembeli di awal. Tapi, aku tidak. Aku menawarkan kemungkinan keburukan barang daganganku kepada pembeli. Apakah kau percaya?”
            “Itu akan menghancurkan daganganmu?”
            “Siapakah yang menilai barang dagangan? Penjual atau pembeli. Tentulah pembeli. Belum tentu aku mengatakan buah kualitas buruk sama buruknya bagi pelanggan. Aku bukan menawarkan kebaikan barang dagangan tapi kemungkinan keburukan. Sementara kebanyakan pedagang menawarkan kebaikan sesaat, namun keburukkan bagi pembeli akan terjadi selamanya. Sedangkan menawarkan keburukan sesaat, akan mengalir kebaikan dan kepercayaan selamanya. Barang dagangan yang baik adalah bersifat apa adanya, tidak banyak mengobral kebaikan.”
            “Maksudmu, berkata buruk hanya wujud dari kerendahan hati dan kejujuran?”
            “Tepat. Seandainya aku mengatakan kepada pelanggan buah jerukku paling manis, tapi saat ia menikmatinya di rumah—asam, betapa kecewanya dia. Berani taruhan dia tidak akan datang lagi ke tokoku. Tetapi, jika aku selalu menunjukkan kemungkinan keburukan dari daganganku, pada batas tertentu pelanggan akan mendapat dua penilaian dan pilihan. Di situlah kita menempatkan kemerdekaan konsumen untuk memilih dan menilainya sendiri. Adakalanya baik itu tidak perlu ditunjukan.”
            “Aku mengerti.”
            Sejak aku mendapatkan apa yang dia pikirkan, aku lebih menghormatinya. Ia tidak pernah mempertaruhkan kebaikan. Justru sebaliknya.

Selesai
Share:

Sabtu, 07 Februari 2015

Patung

                                                                    : Mugianto
Di sebuah perumahan elit terjadi kegemparan oleh penemuan patung. Mutali, yang baru sebulan menjabat Ketua RW, jadi sasaran kamera dan pertanyaan wartawan.
“Bagaimana awal patung ini ditemukan, Pak?” tanya seorang wartawan.

“Itu dari rumah salah satu warga kami. Rumahnya lagi dibangun septik tank baru. Ketika tanah di belakang rumahnya digali tukang, tiba-tiba ditemukan sebuah patung.”

“Kira-kira patung apa itu, Pak?”

“Saya tidak tahu. Saya bukan orang kebudayaan. Saya orang kantoran.”

“Ada yang bilang patung Erlangga, benar itu, Pak?”

“Saya tidak tahu, tanya saja pada pakarnya, di sini orang-orang sibuk kerja semua.”

Wartawan itu merasa percuma mewawancarai Mutali. Ia mundur. Rekan-rekannya yang lain masih berebut mengajukan pertanyaan. Mutali terlihat senang-senang saja. Meskipun kalau ditanya soal patung apa, usianya berapa tahun, dan bagaimana ke depannya, dia jawab tidak tahu.
Seisi perumahan yang rata-rata sibuk dengan dunianya sendiri, acuh tak acuh, mendadak membanjiri jalan gang, saling tanya, gara-gara patung purba itu. Semua ingin menyaksikan benda yang sangat jauh dari gaya hidupnya.  Yang selama ini, tidak ada benda seni paling menarik bagi kesehatan jiwanya kecuali uang.
Perumahan elit ini sudah sepuluh tahun berdiri. Orang-orang berpenghasilan selangitlah yang sanggup menikmati kemewahan dan kenyamanan perumahan ini. Seratus satpam berjaga dan berkeliling tiap harinya. Tembok beton tinggi dan penuh kawat berduri mengelilingi kompleks perumahan. Kamera CCTV tersebar rahasia di segala penjuru perumahan. Tiap kali orang asing masuk perumahan wajahnya difoto dan ditahan identitasnya. Tak ada maling dan pemulung yang berani mendekat.
Penemuan patung itu mengubah pemandangan sehari-hari di perumahan. Orang-orang menyeruak keluar, heran, kagum, dan penuh rasa ingin tahu. Anak-anak elit yang tiap hari duduk diam menikmati aneka fasilitas rumah kali ini keluar dan berlarian. Polisi dan para profesor berdatangan ingin memeriksa, menyelidiki, dan memperoleh informasi. Alendrof, pemilik rumah tempat patung ditemukan, belum tahu yang harus diperbuat. Ia juga jadi sasaran kamera dan pertanyaan wartawan.
“Patung ini mau diapakan?” tanya wartawan.
“Belum tahu. Kalau artefak kuno mungkin dimuseumkan,” jawab Alendrof kalem.
“Tidak ingin dilelang atau dijual?”
“Kalau benar-benar benda antik dan kuno, punyai nilai jual tinggi, barangkali saya lebih tertarik uangnya. Saya masih menunggu hasil pemeriksaan dari profesor arkeologi nasional.”
“Dugaan sementara, patung apa dan sudah berapa tahun terkubur?”
“Menurut Profesor Dayat, patung Hayam Wuruk, raja Majapahit dulu. Tinggal dihitung antara masa Hayam Wuruk ke masa sekarang berapa abad.”
“Kalau diklaim jadi benda sejarah milik pemerintah bagaimana?”
“Ya, saya tunduk pada hukum saja. Tapi, sekali lagi, kalau patung itu mahal, barangkali saya berunding dengan pemerintah, he-he.”
Patung itu diletakkan di atas meja di rumah Alendrof. Juru kamera berulang kali memotretnya. Orang-orang sekitar juga berebutan mengambil gambar patung tersebut pakai kamera handphone. Alendrof masih sibuk menjawab pertanyaan wartawan. Polisi menjaga dan mengatur orang-orang kaya yang rela berdesakkan melihat patung.
Kabar patung kuno itu secepat kilat menyebar ke masyarakat luas. Cukup banyak yang berdatangan ingin melihat langsung patung itu. Akan tetapi, selain warga perumahan, dilarang masuk. Ditakutkan nanti membuat kegaduhan, menyampah, dan mencari kesempatan dalam keramaian untuk menggarong harta benda. Kalangan warga biasa, seniman, dan budayawan yang berbondong-bondong ingin melihat langsung hanya berdiri di luar pagar perumahan dengan penjagaan ketat satpam.
Seorang yang sangat kecewa karena dilarang masuk ke lokasi mengomel kepada temannya.
“Kamu tahu, kita di sini seperti alien atau hama, percuma saja kita ke sini!”
“Ya. Padahal kita cuma mau lihat patung, patung! Benda kebudayaan nenek moyang kita sendiri,” sahut temannya turut mengomel tanpa arah.
“Terkutuk perumahan ini, seperti sudah bikin negara sendiri.”
“Terkutuk! Sama-sama manusia, sama-sama orang Indonesia, lihat patung saja dilarang. Kita justru orang yang melek kebudayaan, melek sejarah, rela datang jauh-jauh, kalau perlakuannya begini, ini keterlaluan.”
Dua orang itu terus mengomel, meluapkan kekecewaannya, dan pergi dari keramaian. Satpam masih menjaga pintu gerbang dengan membentuk barisan anti huru-hara. Di dalam, hanya wartawan tertentu, polisi, dan profesor yang diperbolehkan melihat patung itu.
Kemudian terlihat iring-iringan mobil pejabat melambat hendak memasuki perumahan itu. Mungkin Gubernur, Menteri, atau Bupati. Orang-orang biasa hanya bisa memanjangkan leher saja. Mobil-mobil pejabat itu segera memasuki perumahan.
Dua jam setelah iring-iringan mobil pejabat pemerintah masuk ke perumahan, di televisi disiarkan langsung konferensi pers tentang patung kuno yang ditemukan di sekitar rumah Alendrof. Terlihat di belakang meja konferensi berturut-turut, Alendrof, Profesor Dayat, Profesor Utami, Menteri Kebudayaan, dan Bupati. Patung itu terlihat di layar kaca, diletakkan di tengah meja konferensi. Patung itu terbuat dari batu, agak hijau berlumut, dan nampak wajah patung di beberapa bagian batunya sudah terkikis.
Profesor Dayat berbicara:
“Menurut hasil penyelidikan kami sementara, yang terdiri dari pakar arkeologi dan sejarah, patung ini adalah Raja Hayam Wuruk. Patung ini terpendam di tanah selama berabad-abad lamanya, dipahat secara baik, dan diperkirakan masih ada patung-patung lain di kompleks perumahan ini.”
Selanjutnya Menteri Kebudayaan memberikan pernyataannya:
“Setelah berunding dengan pemilik rumah, disepakati bahwa patung ini sementara menjadi hak milik kekayaan kebudayaan negara. Patung ini akan dirawat dan dijaga di dalam Museum Nasional. Sebagai gantinya, Bapak Alendrof, akan mendapatkan imbalan dari negara karena telah menemukan patung ini.”
Alendrof tersenyum-senyum mendengar ‘imbalan’ dari Menteri. Meskipun sesungguhnya yang patut mendapatkannya adalah tukang gali septik tank di rumahnya.
Siaran langsung konferensi pers tentang ditemukannya patung kuno telah membuat Tarpan dan beberapa temannya tertawa terbahak-bahak. 
“Akhirnya Jo, patung yang kita buat dulu di kampung lama, dipendam baru sepuluh tahun, sudah jadi patung antik dan masuk museum, ha-ha-ha,” ujar Tarpan kepada Parjo.
“Ha-ha-ha,” Parjo masih tertawa. Segera tawanya redup ketika ada masa lalu yang diingatnya.  “Kita memang terusir dari kampung kita dulu karena perumahan elit itu, tetapi kita tidak boleh mati dalam berkesenian pahat, terus berkarya.” 
Parjo melanjutkan.
“Kita tahu bahwa banyak orang yang masih buta kebudayaan, karya seni yang perlu diuri-uri, dan menghargai karya orang lain. Akan tetapi, bagaimanapun, generasi yang melek kebudayaan, melek sejarah, dan melek jati diri harus terus berkembang. Apapun situasinya dan apapun kelakuan pemerintah yang kurang peduli terhadap nasib kita ini.”
Tarpan, Parjo, dan lainnya masih terus berdiskusi. Mereka adalah para pemahat patung, mewarisi nenek moyangnya, dan berkesenian dari sejak kecil. Kampung mereka, disebut Kampung Pemahat, pindah agak menjauh ke sebelah timur laut dari benteng tinggi kokoh perumahan elit. Mereka digusur paksa dengan ganti rugi yang rendah oleh pembangunan perumahan elit itu.***

Ilustrasi: deviantart.com
Share: