Senin, 17 November 2014

Thymos


Dia selalu di depan cermin. Kala pagi dan sore. Apa pun cermin itu. Bisa dari kaca jendela, kaca lemari, kaca spion, dan kaca lain. Asal berguna untuk bercermin. Apabila bosan cermin kaca, dia akan pergi ke kolam ikan di taman. Dia bercermin dari air yang bening. Cukup lama. ya cukup lama, dia memandangi dirinya.

Aku tahu itu karena kami bertetangga. Sudah enam bulan ini aku memperhatikannya. Tiap bercermin dia merapikan rambut. Meraba wajahnya. Menyelidiki detail mata, hidung, mulut, pipi, jidat, dagu, dan alis. Barangkali dia takut kena jerawat, panu, dan komedo. Akan tetapi, aku lihat dia tampan bersih, putih, dan cerah. Siapa perempuan tidak jatuh hati memandang parasnya. Termasuk, aku. Dia lebih dalam dari sekedar memandangi fisiknya.

Sebagai perempuan, aku jujur terhadap hati. Meski untukku sendiri. Memandangnya adalah gairahku. Dia diam-diam menyeretku ke palung hatinya. Yang tampak gelap dan dingin. Aku meniti kemauanku. Sementara, orang-orang menghakiminya sakit jiwa. Aku lepaskan kehendakku, kebebasanku, dan pikiranku untuk pesonanya.

Pertemuan aneh ini tanpa percakapan. Dia seperti biasanya. Sejauh ini pula aku cuma mengintipnya dari teras rumahku. Rumah kami saling berpandangan di antara jalan setapak. Baru tiga minggu aku di rumah ini. Dan, seminggu lalu aku, orang tuaku, dua adikku, baru saja dicatat resmi di buku warga Ketua RT.

Dia memiliki kucing kurus yang menguntitnya setiap saat. Kucingnya turut memandanginya ketika dia bercermin. Lalu, dia mengusap punggung kucingnya sebentar. Kemudian hanyut ke dalam cerminnya kembali.

    “Cukup! Hentikan itu!” teriak perempuan tua sebelum melesat pergi dengan sepeda motornya.

      “Hei gila! Masuk rumah!” teriak pria tua setelah lima menit perempuannya berlalu. Dia pun pergi dengan vespa bututnya.

       Dua pria muda berteriak pula padanya berturut-turut sebelum pergi ke luar rumah:

       “Dasar tak berguna!” 
 
       “Sampah busuk!”

Akan tetapi, dia masih saja bercermin, tak ada yang dipedulikan. Sekali diusapnya kaca cermin yang dipakainya. Di kaca jendela rumahnya dia melihat dirinya. Kadang menyeret lemari ke luar rumah, lantas berdiri di depan kaca lemari. Jika ada sepeda motor dia duduk di jok dan berkaca di spion.

Perlahan aku semakin mengenali peringainya. Setiap urutan tindakannya aku hapal betul. Aku membuat ikatan emosi dengannya. Selain, aku mencintainya tanpa bentuk. Gairahku mengeras menyesakkan dada. Aku salurkan menjadi burung kertas yang ‘ku terbangkan melintasi pagar rumahnya. Dia sama sekali tak bergeming terhadap burung-burung kertasku. Dibiarkan berserakan di halaman, sesekali disapu karena dianggap sampah.

Setiap hari, aku jadi pencemburu kaca cermin. Aku iri dengannya. Bayangkan saja, dia yang aku anggap kekasih, menghabiskan waktu bersama kaca cermin. Tanpa lelah memandanginya. Bilamana buram karena kotor atau embun, cermin itu diusapnya berkali-kali. Kesetiannya di depan cermin, sekali lagi, membuatku cemburu. Bagaimana mungkin aku menjadi cermin untuknya?

Kecemburuanku berubah menjadi kebencian pada cermin. Aku tidak lagi melihat wajahku. Aku tidak lagi berias. Aku purna dari bedak, lipstik, dan semua zat kimia yang melekat di wajahku. Cerminku hanya pikiranku. Pikiranku ada dalam perasaanku. Aku tinggalkan cermin, jasad fisikku, dan bersemayan di tahta rohku. Kini, rohku, kebebasanku, mencari persetujuan dan kesetiaan atas roh yang sedang ditimang-timang di depan cermin.

Aku sudah tak peduli penampilanku. Dia masih setia bercermin. Wajahnya yang putih memucat seperti sakit. Aku terbangkan burung kertas. Tapi kali ini menabrak pagar. Aku gelisah di depan teras. 
 
        “Bercerminlah. Riaslah. Datangi dengan kecantikanmu! Katakan perasaanmu!” ujar Thymos yang menyeruak keluar.

         “Jangan. Diamlah. Kau tidak perlu pengakuan apa pun!” bantah rohnya.

         “Tidak! Mana mungkin kau hidup tanpa pengakuan. Itu sudah jadi sejarah!”

         “Kembalilah pada roh. Itulah kebenaran, keabadian, dan esensi yang mutlak berkuasa!”

    “Ingat-ingatlah perkataan Socrates, ”Saya merasa senang dengan perasaan.” Luapkan! Lepaskan hasratmu. Biar perang sekalipun!” Thymos bersikukuh. 

        “Tetaplah berada pada kebebasanmu.”

Aku menutup mata dalam gemuruh perdebatan diri. Dia tetap memandangi kaca. Aku melangkah bertekad mendekatinya. Dua langkah kemudian tertahan. Aku ingin masih seperti ini: penuh bayang-bayang, rohku sebebasnya melintasi ruang dimensi, dan perasaan-perasaan menguasaiku. Dan, pengakuan adalah tanda habisnya kebebasan. Karena, lahir keterikatan-keterikatan dan memudarnya segala pesona tarik-ulur penderitaan dan kebahagiaan. Aku duduk kembali di kursi teras.

Segerombolan anak yang membawa layang-layang menghina dia di luar pagar. 
 
             “Gila! Sinting! Monyet!” teriak anak-anak serempak.

Aku tiba-tiba naik darah. Aku bentak anak-anak itu untuk pergi. Anak-anak melarikan diri. Di saat itulah, pertama kali, dia menoleh ke arahku. Apakah dia kaget? Terganggu oleh bentakanku kepada anak-anak? Aku merasa bersalah, tapi kubalas pandang. Aku bagai berubah seperti kaca, dia di dalamku, dia sedang mengamati dirinya sendiri. Sedangkan, aku merasa bahwa separuh dirinya adalah aku yang turut diamatinya selekat-lekatnya. Bulir keringatku jatuh meresap ke tanah. Dia masih mengamatiku seperti kaca. Begitu pun aku berdiri seakan sedang menuruti kehendaknya: menjadi cermin.

Aku berjalan menghampirinya. Semakin dekat, dia semakin menundukkan diri. Lalu, tepatlah aku berdiri persis di hadapannya. Dia membenamkan kepalanya. Tanganku memegang pundaknya.

             “Kau sakit?” sapaku.

Dia diam. Pundaknya terasa dingin.

           “Maaf, a-ku mengganggumu.”

          “Tak apa.” Aku kaget dia menjawab walaupun sangat pelan.

     “Hm…boleh kubantu masuk?” tanyaku ragu. “Maksudku, ‘e...ya maksudku, kau perlu istirahat.”

         “Jangan.”

         “Kau telah banyak bercermin.”

        “Itulah aku.”

         “Ada yang salah?”

         “Tidak.”

Aku kehabisan kata-kata. Dia mengangkat wajahnya. Sama sekali tidak menatapku.

         “Untuk apa ke sini?” Dia berkata curiga. Sekejap saja melihatku.

        “Barangkali kau perlu bantuan,” jawabku sekenanya.

        “Benarkah itu? Pergilah.”

        “Jujur, bukan itu, aku membawa perasaanku.”

       “Perasaan?”

       “Ya. Kau tahu itu.”

       “Pergilah.”

      “Kenapa?”

      “Pergilah!”

Aku mundur menjauhinya. Dia membenamkan kepalanya lagi. Tidak lama kemudian menatap kaca jendela, mengusap wajahnya, dan memelototinya. Aku benar-benar heran. Aku bergegas kembali ke bangku teras rumah. Satu per satu perkataan tadi direnungkan kembali. Tak puas akan keberadaanku saat ini, aku ambil cermin besar di kamar. Aku bercermin setelah lama tidak kulakukan, diriku jauh di sana, dan kudapati segenap rohku. 
 
Aku damai bersama cerminku. Aku menemukan diriku sendiri. Aku mengubah diriku sendiri. Aku bebas bersama ide dan rohku sendiri. Meskipun ‘kuakui hanya ada di dalam cerminku. Gairah atas pengakuan demi pengakuan, Thymos, sedikitnya ‘kuredakan. Karena, aku hanya mengakui diri sendiri atas kehidupan dan kematian. Aku tundukkan kepalaku kepada setiap keberadaan benda hidup dan mati demi penghormatan dan kebebasan. Aku menyedikitkan berbicara pada orang lain karena kata adalah keterikatan dan komitmen. Akan tetapi, aku akan banyak berbicara pada rohku di dalam cerminku.

Minggu berikutnya, ketika aku bercermin, tangan kekar mencengkramku. Dengan kasar menyeretku. Aku meronta untuk dilepaskan dari cerminku. Tangan itu tetap kasar menarikku. Aku lemas oleh cairan yang mendadak masuk ke darahku. Aku tidak sadarkan diri.

Aku mendapati diriku di rumah sakit jiwa. Aku menepuk-nepuk pipiku: apa aku gila? Tidak! Di luarlah penuh orang gila. Aku waras. Lepaskan! Lepaskan! Tak ada sambutan. Jeruji besi mengurungku. Aku perlu cermin! Aku perlu cermin! Akhirnya aku pasrah, selonjor di lantai.

Dimana dia? Dimana dia? Apakah masih bercermin? Aku berdiri dan berputar-putar di dalam ruangan ketika mendapatkan tenaga lagi. Dia ada di dalam cerminku, oh, cermin! Berikan aku cermin!

Di luar berdiri orang tua yang menangis memandangiku. Aku memanggilnya untuk memberikan cermin. Tapi, diam saja. Aku memperhatikan bening air matanya. Di sanalah aku dapat bercermin. Ya, dia di sana, aku juga demikian.

Kau telah banyak mengajariku pembebasan dan cinta. Kekasihku. 

 
Purwokerto, 17 November 2014.
Ilustrasi : amiodo.blogspot.com 
Share: