Kamis, 02 Oktober 2014

Pers, Pergerakan dan Perubahan

   Pramoedya Ananta Toer berhasil menggali sejarah terpendam puluhan tahun lewat Sang Pemula. Dia adalah penulis dan peneliti ulet yang ditangannya Tirto Adi Suryo ‘dihidupkan’ kembali. Tirto merupakan tokoh dan perintis pers pribumi di awal abad 20. Sebelumnya tidak banyak yang tahu tentang Tirto karena rezim Hindia Belanda mencoba ‘menyembunyikan/menghilangkan’ namanya dari sejarah. Akan tetapi, tulisan tidak mati, abadi, selagi tidak termakan alam atau sengaja dimusnahkan oleh manusia. Berangkat dari tulisan-tulisan Tirto Adi Suryo pada koran-koran terbitannya, Pram menelusuri kehidupan Tirto dan perannya di dalam Kebangkitan Nasional. Kerja dan hasrat Pram terhadap T.A.S (inisial Tirto Adi Suryo) ini menginspirasi pula menulis sosok Minke dalam tetralogi roman masterpiece-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).
 
            Sang Pemula adalah buku yang memuat fakta-fakta sejarah tentang T.A.S, terdiri dari 418 halaman, diterbitkan oleh Hasta Mitra Jakarta 1985. Pada 176 halaman awal dihabiskan untuk analisis kehidupan T.A.S dan sisa halaman berikutnya menghadirkan karya fiksi dan non fiksi T.A.S yang sudah disarikan kembali oleh Pram. Menurut Pram, T.A.S adalah manusia pribumi pertama yang dapat menerbitkan koran. Terbitan T.A.S menggunakan bahasa—yang dikatakan Pram—melayu lingua franca atau disebut bahasa ‘bangsa yang terperintah’.  

Karir awalnya dimulai ketika T.A.S dikeluarkan dari STOVIA, lalu menjadi redaktur Pembrita Betawi. Orang yang paling berpengaruh terhadap T.A.S menurut Pram ialah Karel Wijbrans. Pendatang baru dari negeri Belanda yang mengambil alih harian baru terbit, De Sumatra Post. Di tangan Wijbranlah, T.A.S banyak dididik, dibangun perspektifnya, dan diarahkan pada pers yang berani membela kebenaran dan keadilan. Tugas jurnalistik tidak hanya menyampaikan berita belaka, tapi ‘mengawal pikiran umum’.

            Kerja T.A.S memajukan pers pribumi dan mengawal pikiran umum (pers yang mengarahkan/membela) akhirnya melibatkan diri pada organisasi pergerakan awal masa itu.  Bahkan, Pram merujuk pada data yang ada, Sarikat Dagang Islamiah justru pertama kali insiatif dan didirikan oleh T.A.S dengan beberapa saudagar kaya seperti Syekh Achmad bin Abdoerachman Bedjenet, bukan H. Soemanhudi. SDI berdiri pertama di Boetenzorg (Bogor) sekaligus menjadi kantor pusatnya. Usaha Gubermen melalui Penasihat Urusan Pribumi Dr. D.A. Rinkes tampaknya dicurigai sebagai siasat menyingkirkan T.A.S dengan memunculkan H. Soemanhudi dari Solo. Bersamaan itu, ada perubahan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga SDI termasuk perubahan nama menjadi Sarikat Islam. Diam-diam ada penyusup di dalam SDI, salah satu arsiteknya Dr. D.A.Rinkes.

            Kiprah T.A.S dalam memajukan kesadaran dan kebudayaan pribumi merelakannya menanggalkan status kebangsawanannya. Beberapa kali dia mengalami hukuman pembuangan karena kerja jurnalistiknya. Sejak mendirikan koran pertamanya, Soenda Berita, T.A.S telah menuntut perhatian Gubermen. Terlebih ketika T.A.S mendirikan harian terbesar pribumi pada masanya, yakni Medan Prijaji, T.A.S beberapa kali mendapatkan gugatan dan kasus hukum, hingga dia dibuang ke Lampung dan Ambon. Namun, semangatnya tidak pernah pudar, setiap selesai menjalani hukuman pembuangan, dia merintis kembali usaha medianya. Tak hanya itu, T.A.S dan Medan Prijaji juga melayani bantuan hukum/advokasi secara cuma-cuma kepada orang yang lemah/miskin. Jadi, sekilas tampak, antara kerja jurnalisitik dan kerja sosial dalam bentuk pergerakan, perubahan, dan perjuangan terhadap hak demokratis rakyat tidak terpisahkan. Itulah yang dicontohkan oleh T.A.S, Bapak Pers Nasional, yang sudah tidak lagi ditemui pada media-media sekarang ini, kecuali nafsu bisnis.

         T.A.S pun dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan pribumi dengan memberikan ruang untuk mereka, termasuk membantu mendirikan organisasi dan majalah perempuan, Poetri Hindia, yang telah mengobarkan semangat kepenulisan dan pendidikan kaum perempuan, bahkan berpengaruh kuat terhadap terbitan-terbitan corong perempuan di wilayah–wilayah Hindia Belanda.

            Demikian sekilas tentang buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, yang memiliki kelebihan-kelebihan terutama referensi data yang banyak dan kuat, selain memiliki kekurangan seperti terpotongnya beberapa data karena fakta otentiknya telah hilang, istilah-istilah yang banyak dan padat tetapi tidak pakai footnote sehingga menyita perhatian pembaca karena harus membolak-balik halaman ke belakang (endnote), dan tulisan kurang nyaman dibaca—hal ini seperti diakui Pram sendiri—karena telah melemahnya kemampuan fisik di usia senja.

            Bagi wartawan atau seorang yang sangat menyukai jurnalisitik, buku Sang Pemula sangat baik untuk menambah pengetahuan dan perspektif jurnalistik. Pengalaman-pengalaman T.A.S barangkali masih banyak yang relevan untuk diterapkan saat ini, di tengah serbuan media yang kurang memihak pada hak rakyat (buruh, kaum tani, perempuan dan rakyat tertindas lainnya) dan redaksi yang mudah dibeli oleh segelintir orang dengan uang. T.A.S yang hidup dan bekerja untuk rakyatnya, tulisannya yang tajam, ancaman dan hukuman yang rela dijalaninya, kematiannya yang sepi dan terasing karena orang-orang memusuhinya, dan dia rela seluruh nama baik, harta benda, serta martabatnya hilang demi kemajuan bumiputera.

            …Kelakuan menggunakan pengaruh pekerjaan untuk mendapatkan uang memang tercela sekali, terutama bagi seorang yang bekerja mengawal pikiran umum…T.A.S **                                                                  
Share:

0 comments:

Posting Komentar