Sabtu, 02 Agustus 2014

Pengorbanan, Tanah Air dan Revolusi

          Keluarga Gerilya, sebuah novel lama yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Diterbitkan oleh PT Pembangunan Jakarta pada tahun 1955. Jumlah halaman 239 yang terdiri dari  13 bab. Masing-masing bab menceritakan babak cerita, mulai dari diculiknya Saaman hingga kematian Saaman—tokoh utama. Pram sendiri merangkai ceritanya dalam alur tempo 3 hari 3 malam. Ide yang cemerlang menurut saya, menjadikan novel ini terasa padat.
            Novel ini ditulis oleh Pram ketika di penjara di Bukit Duri tahun 1949. Tak heran jika deskripsi, konflik batin, interaksi tokoh, dalam Kelurga Gerilya begitu kuat. Tampaknya Pram merasakan sangat dalam kondisi dan perasaan saat menjadi tahanan politik di penjara. Kondisi dan situasi yang dihadapi penulis inilah yang memungkinkan menghadirkan tokoh Saaman dan Keluarga Gerilya. Ia menggambarkan sangat baik nasib sebuah keluarga di era 1949-an atau agresi militer Belanda.
            Saaman adalah salah satu anak lelaki dari tujuh bersaudara (Tjanimin, Kartiman, Salamah, Salami, Patimah, Hasan) dalam keluarga Amilah—‘perempuan simpanan’ di tangsi militer KNIL. Masa-masa revolusi membuat keluarga ini berada dalam kehidupan yang sulit dan miskin. Aman—panggilan Saaman—merupakan lelaki yang telah jadi tulang punggung keluarganya selama ini. Sedangkan, Tjanimin dan Kartiman telah mengabdikan jiwa dan raganya untuk tanah air dengan menjadi prajurit gerilya.
            Pram menceritakan bahwa Aman ditangkap oleh M.P (militer) Belanda tiba-tiba. Sontak membuat keluarga jadi kalang-kabut dan Amilah (ibunya) mulai terganggu jiwanya. Setiap hari Amilah hanya melamun, histeris, marah-marah dan mencari-cari keberadaan Aman. Tapi, anak yang jadi tulang punggung keluarga itu, tidak juga ketemu keberadaannya.
            Penangkapan Aman—sebelum agresi dia jadi pegawai Kementerian Kemakmuran, setelahnya dia jadi tukang becak—didakwa karena turut terlibat gerilya membunuhi serdadu Belanda, bahkan bapaknya sendiri: Sersan Paidjan yang memihak KNIL Belanda. Inilah kehebatan Pram dalam mengolah konflik batin, ironi, dan tragedi di dalam cerita. Aman sendiri mengakui ‘dosanya’ itu, dan dia meneguhkan akan menebus dosa itu.
            Yang jadi perdebatan menarik dalam novel ini ialah benarkah yang dilakukan Aman itu ‘dosa’? Ketika tanah air, bangsa, kemerdekaan, dan revolusi memintanya. Moral mana yang membenarkan pembunuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat mengalir dalam dialog yang padat di dalam babak  Pengakuan. Penuh konflik batin yang sanggup menggugah perasaan dan nalar pembaca ketika Saaman meneguhkan pendapatnya dan pendiriannya tentang pengorbanan, tanah air, dan revolusi kepada rekan pesakitannya di penjara.
“…Biarlah aku mati muda. Aku baru berumur dua puluh empat tahun. Dan tahun depan aku dua puluh lima. Tapi mengapa aku takut mati? Seperempat abad kurang sedikit aku telah hidup di dunia ini. Biarlah. Rupanya sudah takdir Tuhan. Namun—yakinlah aku: segala dosa yang sudah kujalankan itu adalah dosa perseorangan yang akan menguntungkan perjuangan. Aku sendiri tidak tahu betapa besar-kecilnya keuntungan itu, namun sudah kuhancurkan hampir-hampir satu seksi serdadu. Jiwa ragaku telah kugadaikan pada perjuangan.” (KG, 104).
                Cuplikan di atas nampak keteguhan dan pendirian tokoh Saaman. Ada gesekan nilai humanisme dan harapan perjuangan yang mesti dipecahkan di dalam kemerdekaan. Perjuangan revolusi kemerdekaan yang membutuhkan ‘darah’, kekerasan, dan anti-humanis. Sementara, humanisme yang menuntut kearifan budi, hak asasi, dan menolak segala atribut revolusi. Akan tetapi, Pram lewat tokoh Aman, meyakinkan bahwa setiap upaya perjuangan revolusi, ‘membunuh’ adalah dosa pribadi, tapi hal tersebut menguntungkan perjuangan tanah air. Babak Pengakuan, menurut saya, merupakan puncak dari konflik cerita.
            Seperti dua saudaranya, Tjanimin dan Kartiman, yang gugur di medan perang, Aman pun gugur di kayusula oleh regu penembak. Sebelum matinya, Aman sempat menolak beberapa kebaikan Direktur penjara: Karel van Keerling yang ditawarkan padanya termasuk grasi. Nampak watak keras, teguh pendirian dan kerja keras sendiri, dominan dalam keluarga Amilah ini. Pribadi tokoh-tokoh keluarga Saaman mengajarkan pada pembaca untuk tidak sesekali punya watak suka meminta-minta, penjlilat, baik kebaikan atau harta benda orang lain. Semua kepuasan dan kualitas hidup, sejati jika dilakukan berdasarkan usaha dan kekuatan sendiri.
            Pram dalam Keluarga Gerilya rupanya tidak memberikan ruang sedikit pun kepada pembaca untuk merasakan kebahagiaan kisah cerita. Semua Pram gambarkan dalam tragedi yang menyedihkan. Lihat saja, usai Saaman dihukum tembak, justru rumah Amilah kebakaran dan ibunya sendiri jadi gila.  Belum adiknya, Salamah yang ditipu oleh seorang sersan dan diperkosa di Bogor. Keluarga dan adik-adiknya jadi hidup bertambah menderita. Untungnya, muncul tokoh Darsono—calon suami Salamah—yang bersedia memberikan bantuan dan kasih sayangnya kepada adik-adik iparnya, termasuk janji tetap menikahi Salami meskipun sudah tidak suci lagi.
            Keluarga Gerilya, novel Pram yang cukup baik mengajarkan nilai kehidupan melalui sastra. Penuh pesan moral, prinsip, pengorbanan, dan pembelajaran berharga yang mengolah rasa dan nalar kita.
            Terakhir sebuah pesan dari surat Saaman untuk adik-adiknya (mungkin untuk pembaca sekalian):                                                                                       
“…Engkau semua masih muda, dan umur muda itu mahal harganya, adik-adikku! Sekarang ini belum lagi kau rasai itu. Tapi, kelak, sekiranya engkau menyia-nyiakan umur muda itu untuk memburu hal yang bukan-bukan, dan bila engkau sudah tua dan dalam keadaan kocar-kacir, barulah engkau mengetahui harga umur mudamu itu. Karena itu, pergunakanlah dia baik-baik. Jangan tidak…” (KG, 187).
Share:

0 comments:

Posting Komentar