Senin, 04 Agustus 2014

Hindia Raja



           Kita kenal—teknik dasar catur—pembelaan Hindia Raja. Pemain catur yang pakai gaya ini akan lebih banyak mencari keuntungan. Tapi, dia lupa, gaya ini justru membuat lawan tambah solid, kompak, dan penuh dukungan. Gaya Hindia Raja terbuka dan frontal, ini kadang menjatuhkan mental lawan. Bersamaan tiap langkah itu, bisa jadi blunder atau bisa jadi menang.
         Membaca berita: massa Prabowo segel KPU. Dan, sekutunya PKS gagah akan bubarkan KPK. Ada yang membuli berita itu, ada yang membela. Begitu besarnya nafsu kuasa mereka. Berbarengan segepok gugatan Pemilu ke MK.
      Nafsu kuasa yang besar tidak membohongi perilaku politiknya yang frontal. Memang bukan baru, jauh sudah terjadi ketika lawan politiknya deklarasi—Jokowi. Sah-sah saja, tapi ‘kebebasan positif’-nya bisa jadi muak. Di saat orang-orang memulai perdebatan, tumbuh kesadaran politiknya, ‘berharap-harap’, ‘berakar rumput’, menata posisi, kala rezim baru (Jokowi-JK) akan tiba.
       Konflik politik demokrasi borjuis bagai pepatah maling teriak maling. Sama-sama tahu bahwa sistem itu tidak akan menjamin orang jujur, suci, dan paling beradab. Kompetisi lebih membuat orang berpikir licik. Atau bahkan, politik praktis, selamanya begitu. Untuk itulah, Machiavelli menyusun Il Principe. Tiap politisi harus sadar itu. Dua kubu yakin curang dan licik. Pemenang selamanya tidak akan membuka kelicikan yang kalah, sebaliknya orang kalah mati-matian membuka kedok pemenang.
         Hak memperoleh keadilan hukum boleh saja. Gugatan kubu Prabowo ke MK adalah hak konstitusinya. Akan tetapi, ranah hukum seringkali tak sejalan pada situasi sosiologis. MK tentu harus mempertimbangkan itu. Sehingga, eskalasi konflik ke arah perpecahan, keributan, chaos, tidak menyeret rakyat. Selain, merugikan rakyat, kelak rakyat yang harus membayar konflik elit itu sendiri. Sementara, dalam konflik kelasnya, hak demokratis rakyat terus-menerus dikebiri dan perjuangan tertatih-tatih.
     Gaya main Prabowo yang frontal, ‘pembelaan Hindia Raja-nya’, adalah bentuk mode strategis konflik—konsep G. Pruitt bersama Jeffrey Z. Rubin— contending. Mode ini pernah dipakai Presiden Reagan untuk memukul tuntutan serikat buruh pengatur lalu-lintas penerbangan, Patco. Mode ini intinya memaksa kehendak atas pihak lain untuk menang dari konflik. Strategis contending memakai sikap contentious (bertengkar). Prabowo melakukan contending atas lawannya, Jokowi.
     Contending Prabowo berisiko meningkatkan eskalasi konflik. Jokowi menanggapinya dengan mode withdrawing (menarik diri) dan inaction (diam). Hal ini tersirat dalam pidato kemenangannya, ia menyerukan agar massa pendukungnya kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas biasa. Prabowo dicuekin saja. Cara Jokowi menanggapi konflik adalah bentuk langkah konsekuensi dari contending: tak sedikit relawan masih terorganisir, dukungan meningkat, ‘harapan-harapan’ menyala dari aktor yang apolitis. Sudah banyak fenomena politik ini diulas penulis lain.
      Pada prosesnya, mode problem solving bukanlah solusi yang ingin dicapai. Isu rekonsiliasi yang bergulir adalah hal buruk dalam hitungan matematis politik bagi pihak yang kalah. Benturan konflik ini berada pada contending dan memiliki implikasi eskalasi. Bila eskalasi meluas, kecil kemungkinan de-eskalasi terjadi. Ini akan memberi kesempatan militer ambil alih, dan rezim yang berkuasa saat ini menguatkan status quo. Rakyat dirugikan atas perjuangan demokrasi selama dasawarsa lebih.
          Dari mulai quick count hingga hasil resmi KPU, mode konflik cenderung stabil pada bentuk contending. Satu hal yang sangat diwaspadai mode konflik ini ialah mudah sekali berada pada manajemen konflik rezim yang berkuasa. Konflik ini dapat dimanfaatkan dan dikelola cukup baik oleh rezim berkuasa. Konflik Sambas semasa Orba adalah satu dari sekian contoh contending yang justru dikelola rezim.
          Apakah gaya bermain Hindia Raja Prabowo akan menang? Melihat mode konflik dan situasi sosiologis kemungkinan kalah. Karena dukungan selain rakyat, yakni bisnis dan bankir—‘pemain bayangan’ sudah besar. Mulai dari Asosiasi Kamar Dagang AS hingga borjuasi lokal. Klik SBY mulai merapat ke bakal kabinet Jokowi. Terakhir, SBY akan mengundang Jokowi membicarakan perekonomian ke depan—sedikit menebak: stabilitas mega proyek MP3EI. Bukankah gejolak rakyat makin terlihat? Inilah, sekali lagi, konsekuensi bermain Hindia Raja. Diam-diam lawan telah kuat.
         Pendukung-Pendukung itu hanya butuh dua hal: stabilitas dan keamanan. Apalagi dilihat rupiah menguat dan indeks IHSG pun demikian pasca Jokowi terpilih. SBY tercekal. Dia tidak mungkin memanfaatkan konflik ini untuk status quo. Yang bisa dia lakukan ialah jadi mentor Jokowi dan oportunis sebesar mungkin. Anak (SBY) yang dididik oleh tuannya (imperialis AS) sungkan untuk bikin kerusuhan dan keributan. Sang tuan butuh tidur tenang panjang, sementara dolar terus mengalir ke rekeningnya.
            Itu ‘mungkin’. Pemain catur yang memakai gaya pembelaan Hindia Raja, juga terbuka bisa menang. Barangkali.                       
Share:

0 comments:

Posting Komentar