Kamis, 29 Mei 2014

Nyai Roro Kidul Membela Kaum Tani

Ilustrasi
 “Ngger...awane mlayu ngidul//semribit angine wis padha kumpul//eh,eh...sandekala, ayuh bocah mlebu umah//sregep-sregep sinau mben ora dilomboni tuan tanah//nek wis gede ayuh padha nglawan//aja meneng mengko dadi bakwan...” sumringah Roro bernyayi usai keluar dari bilik mandi kecil berdinding daun kelapa. Bokongnya bergoyang genit. Rambutnya yang basah berkali-kali diusap pakai kain jarit.        

       Gadis ayu itu melenggang ke ruang belakang yang mepet dengan dapur.  Tubuhnya yang berbalut kain mirip serbet disembunyikannya dari balik lemari. Ia mengambil celana dalam hijau, kutang hijau, jarit hijau, dan kebaya hijau dekil penuh noda getah pisang dari lemari. Semua serba hijau, supaya selaras dengan daun padi yang baru menghijau di sawah.

             Tepat ketika Roro akan memakai celana dalam, dari luar Sukmi Rayati memanggil keras.

            “Ro, cepat! Prajurit dan anjing kerajaan akan datang!”

            “Ya! Bentar!” teriak Roro dari dalam.

            Sukmi, kawan karibnya itu, membuat Roro kepuntal. Hari ini perjuangan kembali mempertahankan tanah.

            “Aduh! Kebalik lagi pakai celana dalamnya,” gerutu Roro sambil menurunkan lagi celana dalamnya karena memakai terbalik. Di luar, Sukmi semakin menjadi-jadi nada panggilannya. “Iya bentar!” balas Roro.

            Tak ada kupu siang itu. Kambing yang kenyang tidur di bawah pohon pisang di barat daya rumah Roro. Roro keluar dari rumahnya yang hampir roboh. Sukmi masih tegang berdiri memandanginya. Lima anak ayam tetangga yang  berak persis di depan pintu digebah Roro supaya pergi.

            “Lama,” keluh Sukmi.

            “Maaf. Mari lekas pergi,” ajak Roro.

            “Tunggu dulu,” Sukmi menghentikan langkah Roro. “Kita harus punya kata-kata yang baik untuk mengusir aparat itu.”

            “Tak ada kata-kata baik untuk mereka.”

            “Maksudmu?”

            “Ah, kau, perawan terlalu udik. Tahulah bahwa mereka tidak kenal kata baik kita. Mereka akan tetap mengusir kita. Selagi perintah Raja Mataram di belakang pantat mereka.”

            “Ya. Apakah kau siap?”

            “ Sedari tadi. Yang penting massa kaum tani bersatu. Ingat, percaya pada massa dan kekuatan mereka.”

            Mereka berdua meninggalkan rumah Roro. Matahari tertutup awan, jadi bayang mereka berjalan tak nampak. Orang-orang dusun sudah bergegas pergi di mulut jalan menghadang aparat. Harta benda ditinggalkan begitu saja. Rumah-rumah lengang tanpa penghuni. Hanya tersisa orang tua lanjut usia yang sudah hilang daya juangnya. Pikun. Lansia-lansia cuma duduk memandangi dunia yang sudah terlihat membosankan. Usang. Satu dua lansia memandingi Roro dan Sukmi yang berjalan tegap beriringan. Gelora dan marah dua perempuan muda itu siap ditumpahkan ke muka aparat.

            “Roro,” sapa Sukmi dalam perjalanan. Roro yang sedang memandang tajam ke depan memalingkan ke Sukmi di samping kirinya.

            “Ada apa?”

            “Apakah kita akan menang?”

            “Niscaya.”

            “Hm,” gumam Sukmi menggigit bibir. “Tapi aku ragu.”

            “Masukan ke saku keraguanmu. Itu yang membuat perjuangan seringkali kalah telak.”

            Sesaat keduanya diam. Sukmi yang lebih muda 10 tahun dari Roro suka pandangi hidung Roro. Bangir. Pipinya montok kemerahan karena kena panas matahari. Dagunya bulat dan lehernya jenjang membentuk sebuah lipatan. Andeng kecil menghias di kening. Roro cantik alami. Kecantikannya tumbuh dari ladang dan sawah.

            Sukmi membuka topik percakapan lain.

            “Benar kau tolak lamaran Sutowijoyo?” tanya Sukmi sedikit malu.

            Roro kaget mendengarnya. Untuk apa Sukmi bertanya sesuatu yang dibenci selama ini. Roro melayangkan pandang ke arah Gunung Marapi. Gunung yang menyusui kehidupan kaum tani.

            “Maaf kalau pertanyaanku mengganggumu,” ujar Sukmi seakan bersalah.

            “Tidak,” sahut Roro cepat. “Sama sekali tidak. Aku memang menolaknya.”

            “Kenapa?”

            “Sikap politik.”

            Melihat air muka Sukmi berubah asam dan bingung, Roro menjelaskan ucapannya.

            “Politik. Jiwa terdalam manusia. Ia bisa tumbuh dari cawan dan tawa bajingan bangsawan istana atau luka perih kehilangan tenaga dan tanah seperti kita ini.  Pernikahan tak sekedar bersetubuh dalam kamar, tetapi menetapkan dan menyamakan sikap politik. Antara Sutowijoyo dan aku, jelas-jelas sudah bertentangan sikap politiknya. Bukankah dia lahir dan mewarisi watak kelas tuan tanah?”

            “Kau sungguh keras orangnya. Jika kau berhasil menikah dengan anak raja yang manja dan kekanak-kanakan itu, mungkin kau bisa mempengaruhi kebijakan mertuamu untuk melepaskan tanah dusun ini digarap kaum tani. Kau bisa memanfaatkan Sutowijoyo.”

            ‘Tidak mungkin! Mereka tak akan rela melepaskan begitu saja hak milik atas alat produksinya. Sejarah mengajarkan perjuangan kelas.”

            “Ah, kau ini pandai berkilah.”

            “Pandanganmu kurang benar, Sukmi. Jangan kita jadi orang yang hobi menjilati pantat orang lain demi cari-cari kesempatan dan peluang, itu tandanya kita menyerahkan kemanusiaan kita pada ketek siluman. Percaya saja pada usaha dan kekuatan sendiri.”

            “Aku mengerti.”

            “Percepat jalan kita.”

                                                                       ***

            Kaum tani berbaris rapi berpegangan tangan menghadang aparat Mataram yang bersenjatakan tombak dan pedang. Sutowijoyo berdiri di atas kereta kuda sambil ngupil. Kaum tani dan prajurit bersitegang, saling hujat dan maki, tetapi dari belakang Roro muncul membelah barisan. Sutowijoyo terperanjat melihat perempuan pujaannya muncul dan mengambil posisi memimpin aksi di depan.

            “Tetap berpegangan erat kaum tani. Satukan barisan jangan sampai terpecah! Kita hadapi kekuasaan yang hendak merampas tanah sumber hidup kita! Kita pun menolak upeti dan segala bentuk penghisapan dan penindasan atas kerja kaum tani!” teriak orasi Roro. Sementara, Sukmi berada di tengah barisan menyemangati kaum tani dengan yel-yel.

            Pangeran Sutowijoyo tertegun melihat kemolekan sekaligus kegarangan Roro. Pikiran jorok Sutowijoyo pun muncul, membayangkan bagaimana kegarangan Roro di atas ranjang saat berhasil diperistri nanti. Sedap benar, pikir Sutowijoyo. Ia lupa niat semula, memberangus perjuangan kaum tani. Sutowijoyo lupa daratan, melayang tinggi, dan berangan-angan. Prajurit-prajuritnya bersitegang dengan muka merah akibat diolok-olok massa tani. Perintah tak kunjung datang. Sutowijoyo asyik mengamati kecantikan Roro.

            Kaki tangannya, Raga Kemangsang, geram mendatangi Sutowijoyo.

            “Bos,” Sutowijoyo tak bergeming, “Bos!” ulang Raga Kemangsang.

            “Babi!” seru Sutowijoyo kaget. “Sembrono! Apa?!”

            “Perintah, bos. Eh, maksudnya, apa perintah bos untuk kita?”

            “Perintah? Terserah.”

            “Tidak bisa begitu. Tuan besar nanti marah. Dikira kita main tindak sendiri.”

            Sutowijoyo baru berpikir. Ia ingat kembali tentang pesan ayahnya. Dusun supaya dibakar ketika kaum tani masih membangkang. Para lelaki dihunus tombak atau pedang, sedangkan perempuan-perempuan dibawa ke istana. Sutowijoyo ngupil lagi. Ia melihat balita  masih menete ibunya yang sedang berteriak lantang “tanah untuk rakyat.” Sutowijoyo beralih memandangi bocah tanpa celana yang satu di antaranya ‘burungnya’ mulai berambut.          

            Sutowijoyo turun dari kereta kudanya. Ia berjalan mendekati barisan kaum tani.

            “Rakyatku,” katanya penuh wibawa. “Ketahuilah bahwa seluruh tanah ini adalah milik kerajaan. Bulan depan, tanah ini akan dikelola tuan Van der Kijlk jadi perkebunan tebu dan pabrik gula. Toh, kalian bisa bekerja pada tuan Van der Kijlk nantinya.  Jika kalian tidak mundur, maka terpaksa prajurit akan menindak tegas dan keras.”

            Perkataan Sutowijoyo memancing gejolak juang lebih besar dalam barisan. Beberapa orang merangsak maju ke depan sambil mengacungkan arit. Sontak barisan paling depan menahan mereka. Roro segera pimpin barisan.

            “Tenang semua. Jangan terpancing kata-kata dari mulut banci. Tetap berpegangan erat. Satu komando,” seru Roro.

            Sutowijoyo merasa malu, merasa dikebiri kejantanannya, dan merasa bumi menertawainya karena dibilang banci. Mukanya merah bukan marah tapi malu dihadapan Roro. Perempuan idamannya itu.

            “Sutowijoyo!” bentak Roro. “Kau banci! Mandul! Impoten! Kami minta kalian segera pergi dari tanah ini. Cuma banci yang tega merebut tanah hidup kaum tani. Kami ingin kemerdekaan, kedaulatan sejati, dan keselarasan dengan alam. Bukan pabrik dan kuli! ”

            Sutowijoyo bertahan menghadapi cacian Roro, meski hatinya terbakar dan harga dirinya hilang. Gejolak cintanya pada Roro telah menyirami amarahnya. Sutowijoyo benar-benar gila dengan menganggap semua perkataan Roro itu adalah ucapan termanis. Ya, cinta buta, kata orang-orang. 

            “Kau tuli, Sutowijoyo! Cepat! Bawa pergi pasukanmu itu ke istana.”

            Raga Kemangsang tahu bahwa Sutowijoyo telah terlena oleh Roro. Ia kembali memperdaya Sutowijoyo agar ingat pesan ayahnya.

            “Bos, lekas perintahkan pasukan sebagaimana titah ayahmu. Ini sudah keterlaluan. Roro telah berbohong padamu. Bos jelas pejantan tangguh. Bukankah malam kemarin…” Raga berpikir sejenak, “ Ya,ya, bos sanggup melayani tiga perempuan sekaligus,” Raga tertawa sendiri. “Cepat, bos. Perintahkan pasukan untuk bakar dusun dan habisi mereka kecuali perempuan,” hasut Raga Kemangsang pelan.

            “Tahan, Raga.”

            “Sekarang waktunya. Lupakan Roro. Kejayaan Mataram di atas segalanya.”

            “Aku bilang tahan!”

            Raga Kemangsang sebentar melunak. Ia berpikir ulang kata-kata yang tepat untuk mempengaruhi Sutowijoyo ambil sikap. Kali ini dia menghadapi pangeran yang keras kepala dan mabuk cinta.

            Sejak kecil, Sutowijoyo sangatlah dimanja. Pada ulang tahun ke-17 tahun, sintingnya, ayahnya justru memberikan hadiah perawan cantik. Akibatnya kini Sutowijoyo memiliki nafsu birahi melebihi kuda. Sedikit lihat perempuan cantik, ‘ekor depannya’ tegang dan berontak.  Dia lemah dihadapan perempuan.

            Telinga Raga Kemangsang makin panas mendengar makian massa kaum tani.

            “Iblis! Perampas! Pembunuh! Penindas! Penghisap!” teriak massa kaum tani.

            “Tanah untuk petani, bukan untuk badut istana,” orasi Roro, “Siapa yang memberi makan badut? Siapa yang menjadikan biji jadi beras? Siapa yang  mengubah tanah tandus jadi subur? Cangkul dan arit hanya jadi alat, tanpa tenaga manusia, tenaga kaum tani, mustahil badut istana dapat makan kenyang. Mustahil kehidupan manusia dapat berjalan, “ Roro mengambil nafas sebentar. “Anehnya, kaum tani malah kelaparan, dirundung penderitaan, penyakit, dan direndahkan dalam peradaban. Tanahnya direbut atas nama kerajaan. Tuhan tidak sekeji itu dan Tuhan Maha Penyayang. Teranglah bahwa raja dan antek-anteknya-lah yang telah merampas hasil kerja kita. Merekalah manusia paling keji!”

            “Orang-orang asing mulai berdatangan, berjabat tangan dan berbagi perempuan. Itu artinya, kita, kaum tani, harus siap membela dan mempertahankan tanah kita. Ganyang segala bentuk perampasan tanah! Begitu pun kekuatan dan kehendak kita mesti membesar!” lanjut orasi Roro yang penuh semangat.

            Raga Kemangsang sudah mengepal tangan. Ia kesal terhadap Roro yang pandai membangkitkan gairah perlawanan kaum tani. Orasi-orasinya makin membuat massa kaum tani perlahan bergerak ke depan, sehingga terjadi saling dorong dengan prajurit. Di saat itulah, Raga Kemangsang memiliki ide yang dianggap tepat untuk mempengaruhi Sutowijoyo mengambil keputusan.

            Raga Kemangsang kembali mendekati Sutowijoyo yang sedang asyik mengamati Roro.

            “Bos, ada ide bagus,” ujar Raga Kemangsang, “Kalau kita diam begini, kita rugi.”

            “Kenapa?” jawab Sutowijoyo singkat dengan pandangan tak teralihkan.

            “Semua tahu…” ucap Raga sedikit ragu. “Bos cinta mati sama Roro.”

            “Tidak usah ikut campur.”

            “Bukan itu yang hamba maksud. Tapi, ini kesempatan bagus untuk bos  mendapatkan Roro.”

            Barulah Sutowijoyo tertarik pada perkataan Raga Kemangsang. Ia menatap Raga Kemangsang dengan rasa penasaran.

            “Biar hamba jelaskan,” Raga membetulkan ikat kepalanya. “Jalankan perintah raja. Dengan begitu, bos akan terbukti setia pada perintah sekaligus dapat mendapatkan Roro. Ingat, ayah bos hanya ingin menghabisi pembangkang, itupun yang berjenis kelamin laki-laki. Setelah itu, seluruh dusun disuruh dibakar. Perempuan-perempuan akan dibawa ke istana, yang cantik jadi selir, sisanya dijadikan budak. He-he-he, bos sudah bisa tebak sendiri bukan?”

            “Betul juga idemu, Raga. Hasratku sudah tak terbendung lagi. Bagaikan lautan membuncah, matahari menabrak bulan dan angin topan besar,” Sutowijoyo tersenyum puas sambil ngupil. “Baiklah. Jika caramu itu cepat membawa Roro kepangkuanku, laksanakan perintah raja.”

            Terompet dibunyikan, tanda perintah datang. Prajurit siap siaga dengan tombak, pedang, dan perisai. Di sisi lain, massa kaum tani tanpa henti menyuarakan tuntutan. Roro masih di depan barisan ketika prajurit bergerak brutal merobek perut dan menggorok leher para lelaki. Satu per satu tumbang. Jeritan kematian menggema, air mata bercucuran dari para perempuan yang disekap dan diikat. Mereka menyaksikan suami dan kerabatnya tergeletak mati. Tanah penuh darah. Bocah kecil ikut dibantai secara keji.

            Roro meronta dan melawan prajurit yang mengikat tangannya. Ia digendong paksa ke kereta kuda. Sutowijoyo manggut-manggut melihat kekalahan mereka. Sebagian kaum tani yang membawa arit, cangkul, dan golok masih mencoba melawan prajurit. Ada dua-tiga prajurit Mataram yang mati oleh arit dan golok kaum tani. Akan tetapi, arit dan golok tidak bisa membawa kemenangan, tetap saja mereka juga akhirnya mati.

            Api mulai menjalar ke penjuru dusun. Rumah-rumah terbakar. Para lansia merasa kaget kematian menjemputnya. Sekejap saja, rumah-rumah tinggal puing-puing arang yang rata dengan tanah. Prajurit bersorak senang karena kemenangan. Mayat-mayat tergeletak sembarang dengan mata terbuka menyembunyikan dendam.

                                                                          ***

            Malam yang malu-malu menatap Roro berlari ke arah selatan. Burung hantu mengawasi dari dahan pohon beringin. Roro kabur dari cinta buta Sutowijoyo. Ia cukup hati-hati agar tak satu pun orang melihatnya. Berkali-kali air matanya diseka, berkali-kali pula ia menghindari cahaya bulan. Roro butuh kegelapan, karena di sanalah mungkin jalan kebenaran.

            Di dalam kamar yang penuh bunga mawar merah dan putih, Sutowijoyo tertidur pulas. Ia telah mencapai kemenangan: merampas tanah rakyat dan merampas keperawanan. Ia tak tahu pengantinnya melesat pergi demi kemerdekaan. Ya, kemerdekaan diri, meskipun telah kalah telak. Barangkali itulah satu-satunya yang dapat digenggam, dibawa sampai mati, ketika harapan dan cita-cita perlu ditata ulang.

            Ombak menggulung di atas badan laut. Roro terengah-engah di atas tebing pantai selatan. Cakrawala terlihat jauh dan bumi seperti sebidang kaca datar. Sekujur tubuh Roro terkena sinar bulan. Kecantikannya sama sekali tidak pudar. Walaupun kepedihan telah berminggu-minggu menjadi kabut di wajahnya, Roro tetap jelita dan mempesona.

            Di dalam gemuruh ombak, Roro masih mendengar rintihan kematian kaum tani, dan tangis tiada henti perempuan-perempuan yang disekap di istana untuk melayani dan memuluskan diplomasi politik jalur kelamin. Roro menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ia marah pada dirinya sendiri.

            Sutowijoyo menjerit mendapati Roro telah tiada di sampingnya, sementara jendela kamar terbuka dan udara pagi yang dingin merambati seluruh ruangan. Prajurit berhamburan ke dalam kamar memeriksa keadaan.

            “Prajurit!” bentak Sutowijoyo. “Cari sampai ketemu istriku!”

            Sutowijoyo bangkit dari ranjang, menggaruk-garuk pantat, dan melihat ke luar jendela.

            “Kemana kau, Roro,” ucap Sutowijoyo. “Aku seperti hidup tanpa udara,” lanjutnya berlebihan.

     Sampai berminggu-minggu, Roro hilang misterius. Tak ada yang berhasil menemukannya. Sutowijoyo merasa malu pada tiap gunjingan orang-orang. Rakyat pun menerima kabar itu, dan membicarakan bahwa Sutowijoyo adalah pangeran lemah dan tidak bertanggungjawab terhadap istri. Ayah Sutowijoyo merasa khawatir kelak anaknya tidak bisa dipercayai rakyat. Padahal setahun lagi, Sutowijoyo akan menggantikan kedudukannya sebagai raja.  Adalah payah bila kekuasaan berdiri tanpa kepercayaan rakyat. Lama-lama akan ambruk.

            “Panggil pujangga,” perintah Sutowijoyo di tengah kekacauan batinnya kepada seorang kurir.

            Datanglah seorang pujangga yang dikenal sangat ahli menulis dongeng. Selain itu, bayarannya sangat tinggi, dia memang menulis untuk uang. Pujangga itu menundukkan badan menghadap Sutowijoyo. Ia bernama Empu Clamit.

            “Tegaplah, Empu Clamit.”

            “Hatur sembah dan terima kasih, tuanku.”

            “Aku undang kau ke sini untuk menjalankan sebuah pekerjaan rahasia, Empu Clamit,” Sutowijoyo mengambil dua gelas anggur, yang satu diberikan pada Empu Clamit. “Aku ingin,” Sutowijoyo meneguk minumannya, tatapannya tajam ke depan. “Kau menulis sebuah kisah dongeng tentang istriku. Aku malu dituduh lelaki lemah. Ceritakan bahwa Roro, istriku, telah menjalani pertapaan berat di pantai selatan. Dia dipercaya oleh Dewa Laut untuk menjaga wilayah selatan. Ya, dia bergelar Nyai Roro Kidul. Tapi, ingat, tuliskan pula bahwa cinta antara aku dan dia abadi, dia datang ke istana kapan saja, menjaga istana dan kekuasaan Mataram. Roro tidak kabur, tapi dia menjalani tugas dewa. Buat rakyat ketakutan terhadap Nyai Roro Kidul, hingga tidak ada lagi kaum tani atau rakyat jelata memberontak terhadap raja. Jika ada rakyat yang melawan kerajaan, berarti dia melawan kekuatan maha dahsyat Nyai Roro Kidul.”

            “Itu mudah, tuanku.”

            “Bagus, ha-ha-ha.”

            Akhirnya, cerita Nyai Roro Kidul cepat menyebar ke penjuru jagad setelah Empu Clamit merampungkan naskahnya. Sutowijoyo bangga dengan kerja Empu Clamit. Selama Sutowijoyo berkuasa jadi raja, tak satu pun pemberontakan muncul, biarpun kemelaratan merajalela. Semua takut Nyai Roro Kidul akan mengutuk, merasuki, atau membununya sebagai tumbal karena berbuat kekacauan. Rakyat pun mengenal cinta sejati antara Sutowijoyo dan Nyai Roro Kidul, meskipun di dunia yang berlainan.

            Di tempat lain…

            Roro menyeka keringat di bawah caping lebar di tengah ladang. Dia berada di dusun jauh, masih bersama kaum tani, dan membela kaum tani.**

Sumber ilustrasi: theuncarvedblog.com.

Purwokerto, 29 Mei 2014

"Imajinasi Progresif"                               
Share:

0 comments:

Posting Komentar