Minggu, 09 Februari 2014

Gering

:Mugianto
           
Orang kaya di Wedana yang terdiri atas para tuan tanah, tengkulak dan rentenir gelisah. Pasalnya Gering sehari kemarin keluar penjara. Raut muka yang garang mengancam kedamaian orang kaya tersebut. Gering adalah penarik pajak kedua setelah negara. Jika Si Muka Dajjal—panggilan orang-orang kaya—berkeliaran lagi, otomatis sehari mesti setor ‘uang persaudaraan’ (sebutan Gering) sepuluh ribu. Belum kalau Gering minta tambah, bisa sampai dua-tiga puluh ribu bahkan lebih.
            Bagi orang kaya di Wedana, uang sepuluh hingga tiga puluh ribu tidak jadi soal. Asal Gering tidak menganggu keselamatan keluarganya. Itu uang receh, ada yang berkata. Tapi, yang bikin giris—isunya uang itu dibelanjakan Gering untuk seember minuman keras oplosan. Kabar tersebut tentu memancing amarah orang-orang kaya yang rajin sembahyang. Kafir Fir’aun! Dajjal! Ifrit! kutuk mereka. Termasuk Abah Lilit yang paling sengit melihat tabiat Gering. Lilit adalah nama julukan, yang berarti ‘Paling Pelit’atau kadang malah Silit—Si Pelit.
            Kepulangan Gering juga kebahagiaan Rungipah. Janda sebatang kara yang tinggal di ujung jalan kampung. Tiga rumah dari kediaman Abah Lilit. Sudah setahun asam urat menyerang kakinya. Ipah yang berumur hampir empat puluh enam tahun harus mengerang sendirian ketika penyakitnya kambuh. Ia tak mampu lagi mengangkat caping dan keluyuran mencari butir padi sisa panen. Pada Geringlah, Ipah menyandarkan bahu. Ya, pada pemabuk!
            Senja kekasih malam itu mengantarkan Gering di depan pintu rumah Ipah yang remang meski kawat listrik menjulur melintasi atap rumahnya. Ipah belum pasang listrik. Tiga tahun lalu sempat menyalur listrik dari rumah Sudarman. Tapi, pedagang ikan asin itu memutus aliran listriknya lantaran Ipah tidak bayar iuran dua bulan. Ipah membiarkan listrik yang hanya untuk satu lampu di rumahnya diputus secara diam-diam. Biarlah, Ipah merendahkan hati, manusia memang sukar bersaudara jika di samping orang miskin.
         Gering memanggil-manggil Rungipah. Ia tampak bersemangat. Meskipun Rungipah bukan kerabat, tapi Gering—Si Muka Dajjal itu, anggap Rungipah orang tuanya sendiri.
            “Kowe, Gering?” sapanya dari dalam.
            “Iya. Aku sudah bebas. Aku bawa beras, Ma,” sahut Gering bangga. Ia tidak sungkan untuk memangil Ipah: Mama.
            “Buka saja pintunya. Tidak dikunci.”
            Gering mendorong gagang pintu. Benarlah pintu tidak dikunci dari dalam. Siapa yang mau curi rumah janda miskin. Isinya cuma kursi, lemari dan meja kayu. Ipah terlihat sedang mengurut-urut betis kakinya dengan minyak dilem. Gering langsung saja menyambar tangannya bersalaman.
            “Kowe, bocah gemblung. Apa polisi tidak mencarimu ke sini?”
            “Aku resmi bebas, Ma. Ada suratnya.”
            “Kowe memang bebas penjara tapi kowe belum bebas jadi pergunjingan orang.”
            “Apa yang dimau?”
            “Orang-orang kaya itu pengin kowe tetap di sel. Sebabnya kowe dajjal. Tidak boleh berkeliaran. Takut maksiat merajalela.”
            “Lebih menakutkan lagi Mama dilantarkan, sementara samping kanan-kiri orang penuh harta benda.”
            “Gusti…sebegitu pedulinya kowe padaku. Kowe patut memikirkan dirimu sendiri, hari akheratmu. Sudah besar kawak begini kowe juga belum beristeri. Mama yang malu bila tetangga ngomong mengada-ada. Katanya, aku manfaatkan kowe, memilihara gigolo, janda girang dan sebagainya,” Ipah berubah sedih. Ia menatap Gering tajam.
            Lanjutnya, “Kowe sudah dewasa. Minuman keras apapun sudah pernah kowe tenggak. Apa tidak bosan-bosan kowe gentayangan tiap malam. Gedor-gedor pintu rumah orang kaya minta jatah yang kamu bilang ‘uang persaudaraan’. Berhenti! berhenti! Jangan kowe pedulikan aku ini. Kowe bukan siapa-siapa!”
            Ipah menundukkan muka. Terlihat benar dia menahan tangis. Biar dianggap biasa saja dia mulai mengurut-ngurut lagi kakinya. Gering bercakap diri ketika dibentak-bentak kasar oleh Ipah. Bukankah selama ini uang hasil jual bau mulut, mata merah dan garang diserahkan tiga perempat sendiri untuk keperluan Ipah. Bukankah ketika Ipah mati rasa, tidak sanggup jalan, terus masuk buaya rumah sakit, ‘uang persaudaraan’ itulah yang menebusnya keluar dari mulut buaya rumah sakit. Kenapa Ipah menyuruh berhenti, untuk jadi baik, dan dia sendiri tidak percaya orang baik bisa berbuat baik.
            Gering yang tubuhnya kurus tiap waktu dadanya terbakar alkohol selonjor di lantai plester semen yang berlubang-lubang. Ia tak sanggup berkata-kata. Gering tak menyesali sedikit pun aroma penjara, digebuki sipir dan ditendangi preman penjara. Ia justru menyesal jika tak sanggup membelikan Ipah beras, minyak dan seunting kangkung. Inilah yang dia sesalkan bila melihat manusia dibiarkan menderita. Ia ingin membagi harta benda orang-orang kaya yang diperolehnya dari menghisap kerja orang lain. Walaupun Gering tak pernah maksud tentang keadilan. Gering cukup tahu bahwa tidak ada orang kaya karena kerja keras sendirian.
            Lamat-lamat Gering sadar bahwa orang yang ditolongnya sudah tidak mau ditolong lagi. Ipah menolak tolong-menolong yang tidak mensyaratkan kebaikan. Sedangkan, Gering tetap penjahat dan dajjal yang tidak diakui mengemban kebaikan.
            Ipah masih sibuk memijit-mijit kakinya. Nyala petromak di samping kiri atas kepalanya kembang-kempis kehabisan minyak. Gering bangkit berdiri sambil membersihkan celana belakangnya yang kotor. Ia ingin memperjelas pendirian Ipah.
            “Mama sudah tak mau aku tolong?” tanyanya tegas. Ipah diam. Gering mengulangi lebih keras. Ipah tetap diam.
            “Baiklah. Mama sudah tidak butuh pertolonganku. Aku tetap menjadi diriku. Jangan harap omonganmu menghentikanku.”
            Gering cepat mengambil langkah pergi. Tapi, Ipah menghentikannya.
            “Bawalah beras yang kowe bawa tadi.”
            Di Wedana, Gering memang hanya ditakuti oleh orang-orang kaya. Orang kaya yang harta bendanya dimana-mana. Sedangkan, orang-orang miskin, yang dapurnya hanya diisi garam, sebaliknya sangat akrab dan hangat dengan Gering. Tiba-tiba saja Gering sering nongol di muka pintu dengan badan sempoyongan mengulurkan beras.  Tidak satu dua orang miskin yang membicarakan kebaikan Gering. Suatu ketika Tarman diuluri uang oleh Gering untuk membayar biaya persalinan isterinya di bidan agar dapat membawa bayinya pulang. Umaroh diselamatkan Gering dari ancaman hutang Abah Lilit saat dia membutuhkan uang untuk menebus ijazah sekolah anaknya. Masih banyak lagi yang menerima uluran tangan Gering.
            Kini Gering melangkah meninggalkan rumah Ipah yang remang-remang itu. Ia kecewa dengan sikap Ipah. Di kepalanya terulang-ulang perkataan kasar Ipah. Kowe bukan siapa-siapa! Kowe bukan siapa-siapa! Berkelebat seperti kelelawar-kelelawar mencari buah. Cihh, Gering meludah. Di dalam kegelapan sebuah jalan dia berhenti, memungut batu dan melemparkannya ke kebun singkong. Ia berkata lirih seperti ditunjukkan ke batu itu.
            “Jembut! Kowe bukan siap-siapa, dia bilang. Apa dia kira aku bukan manusia, binatang! Jadi bukan saudara. Apa dia kira orang sekitarnya mempedulikannya. Apa dia tidak merasa betapa direndahkannya dia oleh tetangganya—memberinya sayur sudah basi. Bacin. Padahal satu hari lalu   tetangganya yang bergelimang harta benda itu masak sayur berlebih. Tapi, kenapa baru dikasih ketika sudah basi?! Apa itu persaudaraan? Apa itu saudaramu bila lebih senang menghina sakitmu daripada membawamu ke dokter?”
            Gering memungut batu lagi. Kali ini dilemparkannya ke tiang listrik sehingga membuat bunyi yang mengagetkan kucing. Ia berbalik lagi ketika sempat terpikir untuk ke rumah Abah Lilit. Gering ingin minum oplosan. Dia butuh uang.
            Lampu taman rumah Abah Lilit mati. Lampu ruang depan juga mati. Di dalam tampak sepi. Jam masih belum menginjak sembilan malam. Gering paham bahwa jam segini belum saatnya menggiring Abah Lilit bergumul dengan dua isterinya di kasur tidur.  Jika tidak membaca qur’an, biasanya mengoreksi slip upah buruh kebunnya agar sebisa mungkin kena potongan. Apapun itu alasannya. Tapi, malam ini sepi.
            Empat jam yang lalu…
            Abah Lilit itu mendengar kebebasan Gering dari penjara. Perasaannya gelisah. Dia tahu malam ini pasti Gering akan memungut pajak. Gering pasti tidak punya uang karena habis di penjara. Dia terpojok, tidak ada orang yang bakal membelanya, semua pemuda jelas takut berhadapan dengan Gering. Mau dibayar berapa pun asal mau bekerja menjaga dan melindungi harta benda Abah Lilit, para pemuda tetap menolak. Mereka lebih berpihak pada Gering. Selain takut beradu fisik karena tersiar kabar Gering kebal kena bacokkan (meski posturnya kurus), para pemuda yang rata-rata dari kalangan orang miskin juga telah bersimpati terhadap jiwa  sosial yang selama ini Gering lakukan.
            Abah Lilit menghembuskan asap rokok sembari berpikir menghindar dari Gering. Munah, istri keduanya, bekas penyanyi dangdut, memberi saran.
            “Panggil polisi, Bah. Ciduk saja lagi Gering itu,” ujar Munah.
Istri pertamanya, Siti, guru SD, tak mau kalah beri masukan ke suaminya.
            “Duh, bahaya Bah kalau panggil polisi itu. Iya Gering masuk penjara, tapi kalau dia tahu kita lapor polisi, sehabis masa hukumannya selesai dia bakal luapin balas dendamnya. Bisa-bisa dia nekad bunuh Abah. Dajjal mana mungkin tahu belas kasihan.”
            Merasa sarannya dibantah, Munah sedikit sewot.
            “Saran guru SD memang picik. Buat apa kalau ada polisi terus tidak diberi kerja. Makan gaji buta mereka. Tugas polisi ya menangkap penjahat,” mata Munah melirik Siti dan bibirnya ditarik ke kanan. Mengejek.
            “Hei! Dasar penyanyi dangdut murahan! Untung saja bokong dan susumu besar sehingga bikin daya tarik Abah,” suara Siti menggelegar. Munah menantangnya. “Jangan bawa…,” belum sempat Munah membela sudah dipotong Siti.
            “Apa?! Hah! Kamu yang mulai duluan. Apa maksudnya bawa-bawa guru SD, mengatakan picik, hah! Saranmu itu selalu rendahan. Bau mulut penyanyi dangdut bagusnya untuk lelaki belang di panggung, bukan buat beri saran suami!”
            Abah Lilit melerai kedua istrinya yang mulai menajam.
            “Sudah! Kalian selalu saja bertengkar! Keputusannya malam ini kita tidur awal. Semua lampu depan dimatikan.”
            Benar saja seusai magrib rumah Abah Lilit depannya gelap, orang mengira sedang pergi ke luar kota. Gering masih melongok rumah orang terkaya di Wedana itu. Sebentar-bentar mengetok gerendel pagar besi.
            Setelah lama menunggu jawaban, Gering terpaksa membuka pagar. Ia melintasi halaman yang penuh mangga busuk. Pohon mangga yang besar merindangi halaman depan rumah Abah Lilit. Selama pohon itu berbuah, selama itu pula manusia tidak boleh memakannya. Mangga-mangga itu dibiarkan masak, dimakan kelelawar dan busuk di tanah.
             Gering mengetuk kasar pintu rumah karena sejak tadi tidak ada suara dari dalam rumah. Di dalam, Abah Lilit dan dua isterinya meringkuk di bawah selimut. Mereka mendengar panggilan Gering. Dua anak yang masih kecil-kecil dari Munah disuruh berdiam di kamar. Sementara, Siti yang tidak memiliki anak selalu curiga anak-anak Munah akan mewarisi seluruh harta benda Abah Lilit. Perbedaan-perbedaan Siti dan Munah senantiasa memancing keributan.
            “Bah, kasih saja dua puluh ribu kan beres,” usul Siti.
            “Tapi, Sit, “ perkataan Abah dipotong dulu Munah. “Mental orang boros begitu. Panggil polisi, Bah,” sergah Munah.
            “Stop! Kalian diam. Dengar,” Abah Lilit menajamkan telinga. Pandangnya  menerawang ke langit-langit. “Gering semakin keras menggedor pintu.”
            Setelah berpikir matang-matang daripada rumahnya ambruk di gedor-gedor Gering, Abah Lilit memutuskan untuk menemuinya. Ia diikuti kedua isterinya.
            Saat pintu terbuka, Gering tersenyum melihat kepanikan Abah Lilit. Tanpa pikir panjang, Abah Lilit langsung menawar.
            “Berapa?”
            “Dua ratus lima puluh tiga seratus dua puluh sembilan ribu,” kata Gering menggoda.
            “Pasnya? Jangan melucu.”
            “Orang kaya yang saya hormati,” Gering melambaikan tangan membungkuk, “Dajjal telah datang ke sini. Dia membawa keinginan yang harus dipenuhi. Mengambil sebagian hartamu, ya sebagian, sebagian, sebagian…dan…sebagian..he-he-he.” Gering terkekeh-kekeh. Matanya yang cekung seperti masuk ke dalam.
            Dua istri Abah Lilit itu masing-masing memegangi tangan suaminya.
            “Cepat, katakan maumu?”
            “He-he, tidak sabaran,” tiba-tiba tangan Gering menarik kerah kemeja Abah Lilit. Wajah Gering didekatkan ke wajahnya. Ia melotot ke Abah Lilit. Dua istri Abah Lilit gemetaran termasuk suaminya sendiri. Mulut Gering begitu dekat dengan hidung Abah Lilit.
            “Selain, ‘uang persaudaraan’ dua ratus ribu, ada satu hal yang ingin aku minta,” Gering  memuntir kerah kemeja Abah Lilit dengan keras, hingga leher Abah Lilit seperti tercekik. “Bila alasanmu dulu mengawini Munah untuk jadi isteri kedua karena mengikuti sunah rosul, maka aku minta kawinilah Ipah. Dia janda sebatang kara yang membutuhkan pertolongan. Selepas itu, aku tidak akan pernah datang kemari lagi meminta sebagian harta bendamu. Biarlah itu kamu berikan kepada kehidupan Ipah.”
            “E-e..ma-na mung-kin,” ujar Abah Lilit terputus-putus. Badannya makin bergetar.
         Dia ingat bagaimana dulu nafsu binatangnya meronta manakala melihat goyangan Munah dari panggung ke panggung. Abah Lilit pun tahu bahwa Gering pun tergila-gila cinta dengan Munah. Biar nama baiknya terjaga, kealimannya tetap dipandang suci, maka alasan berpoligami adalah untuk menjalankan sunah rosul. Abah Lilit memahami masyarakat begitu membenci poligami. Jika alasannya sunah rosul tentu sedikit orang dapat menerimanya. Tak lama, uang telah mengantarkan badan Munah padanya. Munah pun merasa senang, sementara Siti selalu sewot.
            “Mana mungkin?” Gering meremas kelamin Abah Lilit. “Tidak ingatkah bahwa rosul berpoligami untuk menolong para janda yang menderita akibat perang. Begini-begini, aku pernah membaca buku.”
            “Dajjal!” bentak Abah Lilit.
            Gering melepaskan pelintiran kerah kemeja Abah Lilit. Ia masih menatap tajam.
            “Jika kemauanku tidak dilakukan, maka dajjal akan selalu datang kemari,” kata Gering mengancam.
            Dia segera minta uang. Munah mengambilkan uang dua ratus ribu. Gering melesat pergi menuju pedagang minuman keras oplosan. Beberapa kawannya diajak merayakan kebebasannya dari penjara. Malam dan minuman. Semakin malam semakin sinting. Aneka bahan yang dapat menambah rasa mabuk dan rasa halusinasi tinggi dicampur termasuk daun kecubung sampai deterjen.
      Gering merasa melayang, memiliki sayap dan mengepak-ngepak di antara gugusan Bimasakti. Kepakannya semakin meninggi hingga menabrak komet yang sedang terburu-buru. Warna-warna planet begitu indah. Warna itu menyatu, berputar hingga hanya gelap. Setitik cahaya kemudian membias jadi terang benderang. Lalu, muncullah malaikat membawa Gering untuk selama-lamanya.
            Ipah tak menyangka, senja adalah pertemuan terakhirnya.**

Ilustrasi: Vijnana.org
            9/2/2014
Share: