Senin, 17 November 2014

Thymos


Dia selalu di depan cermin. Kala pagi dan sore. Apa pun cermin itu. Bisa dari kaca jendela, kaca lemari, kaca spion, dan kaca lain. Asal berguna untuk bercermin. Apabila bosan cermin kaca, dia akan pergi ke kolam ikan di taman. Dia bercermin dari air yang bening. Cukup lama. ya cukup lama, dia memandangi dirinya.

Aku tahu itu karena kami bertetangga. Sudah enam bulan ini aku memperhatikannya. Tiap bercermin dia merapikan rambut. Meraba wajahnya. Menyelidiki detail mata, hidung, mulut, pipi, jidat, dagu, dan alis. Barangkali dia takut kena jerawat, panu, dan komedo. Akan tetapi, aku lihat dia tampan bersih, putih, dan cerah. Siapa perempuan tidak jatuh hati memandang parasnya. Termasuk, aku. Dia lebih dalam dari sekedar memandangi fisiknya.

Sebagai perempuan, aku jujur terhadap hati. Meski untukku sendiri. Memandangnya adalah gairahku. Dia diam-diam menyeretku ke palung hatinya. Yang tampak gelap dan dingin. Aku meniti kemauanku. Sementara, orang-orang menghakiminya sakit jiwa. Aku lepaskan kehendakku, kebebasanku, dan pikiranku untuk pesonanya.

Pertemuan aneh ini tanpa percakapan. Dia seperti biasanya. Sejauh ini pula aku cuma mengintipnya dari teras rumahku. Rumah kami saling berpandangan di antara jalan setapak. Baru tiga minggu aku di rumah ini. Dan, seminggu lalu aku, orang tuaku, dua adikku, baru saja dicatat resmi di buku warga Ketua RT.

Dia memiliki kucing kurus yang menguntitnya setiap saat. Kucingnya turut memandanginya ketika dia bercermin. Lalu, dia mengusap punggung kucingnya sebentar. Kemudian hanyut ke dalam cerminnya kembali.

    “Cukup! Hentikan itu!” teriak perempuan tua sebelum melesat pergi dengan sepeda motornya.

      “Hei gila! Masuk rumah!” teriak pria tua setelah lima menit perempuannya berlalu. Dia pun pergi dengan vespa bututnya.

       Dua pria muda berteriak pula padanya berturut-turut sebelum pergi ke luar rumah:

       “Dasar tak berguna!” 
 
       “Sampah busuk!”

Akan tetapi, dia masih saja bercermin, tak ada yang dipedulikan. Sekali diusapnya kaca cermin yang dipakainya. Di kaca jendela rumahnya dia melihat dirinya. Kadang menyeret lemari ke luar rumah, lantas berdiri di depan kaca lemari. Jika ada sepeda motor dia duduk di jok dan berkaca di spion.

Perlahan aku semakin mengenali peringainya. Setiap urutan tindakannya aku hapal betul. Aku membuat ikatan emosi dengannya. Selain, aku mencintainya tanpa bentuk. Gairahku mengeras menyesakkan dada. Aku salurkan menjadi burung kertas yang ‘ku terbangkan melintasi pagar rumahnya. Dia sama sekali tak bergeming terhadap burung-burung kertasku. Dibiarkan berserakan di halaman, sesekali disapu karena dianggap sampah.

Setiap hari, aku jadi pencemburu kaca cermin. Aku iri dengannya. Bayangkan saja, dia yang aku anggap kekasih, menghabiskan waktu bersama kaca cermin. Tanpa lelah memandanginya. Bilamana buram karena kotor atau embun, cermin itu diusapnya berkali-kali. Kesetiannya di depan cermin, sekali lagi, membuatku cemburu. Bagaimana mungkin aku menjadi cermin untuknya?

Kecemburuanku berubah menjadi kebencian pada cermin. Aku tidak lagi melihat wajahku. Aku tidak lagi berias. Aku purna dari bedak, lipstik, dan semua zat kimia yang melekat di wajahku. Cerminku hanya pikiranku. Pikiranku ada dalam perasaanku. Aku tinggalkan cermin, jasad fisikku, dan bersemayan di tahta rohku. Kini, rohku, kebebasanku, mencari persetujuan dan kesetiaan atas roh yang sedang ditimang-timang di depan cermin.

Aku sudah tak peduli penampilanku. Dia masih setia bercermin. Wajahnya yang putih memucat seperti sakit. Aku terbangkan burung kertas. Tapi kali ini menabrak pagar. Aku gelisah di depan teras. 
 
        “Bercerminlah. Riaslah. Datangi dengan kecantikanmu! Katakan perasaanmu!” ujar Thymos yang menyeruak keluar.

         “Jangan. Diamlah. Kau tidak perlu pengakuan apa pun!” bantah rohnya.

         “Tidak! Mana mungkin kau hidup tanpa pengakuan. Itu sudah jadi sejarah!”

         “Kembalilah pada roh. Itulah kebenaran, keabadian, dan esensi yang mutlak berkuasa!”

    “Ingat-ingatlah perkataan Socrates, ”Saya merasa senang dengan perasaan.” Luapkan! Lepaskan hasratmu. Biar perang sekalipun!” Thymos bersikukuh. 

        “Tetaplah berada pada kebebasanmu.”

Aku menutup mata dalam gemuruh perdebatan diri. Dia tetap memandangi kaca. Aku melangkah bertekad mendekatinya. Dua langkah kemudian tertahan. Aku ingin masih seperti ini: penuh bayang-bayang, rohku sebebasnya melintasi ruang dimensi, dan perasaan-perasaan menguasaiku. Dan, pengakuan adalah tanda habisnya kebebasan. Karena, lahir keterikatan-keterikatan dan memudarnya segala pesona tarik-ulur penderitaan dan kebahagiaan. Aku duduk kembali di kursi teras.

Segerombolan anak yang membawa layang-layang menghina dia di luar pagar. 
 
             “Gila! Sinting! Monyet!” teriak anak-anak serempak.

Aku tiba-tiba naik darah. Aku bentak anak-anak itu untuk pergi. Anak-anak melarikan diri. Di saat itulah, pertama kali, dia menoleh ke arahku. Apakah dia kaget? Terganggu oleh bentakanku kepada anak-anak? Aku merasa bersalah, tapi kubalas pandang. Aku bagai berubah seperti kaca, dia di dalamku, dia sedang mengamati dirinya sendiri. Sedangkan, aku merasa bahwa separuh dirinya adalah aku yang turut diamatinya selekat-lekatnya. Bulir keringatku jatuh meresap ke tanah. Dia masih mengamatiku seperti kaca. Begitu pun aku berdiri seakan sedang menuruti kehendaknya: menjadi cermin.

Aku berjalan menghampirinya. Semakin dekat, dia semakin menundukkan diri. Lalu, tepatlah aku berdiri persis di hadapannya. Dia membenamkan kepalanya. Tanganku memegang pundaknya.

             “Kau sakit?” sapaku.

Dia diam. Pundaknya terasa dingin.

           “Maaf, a-ku mengganggumu.”

          “Tak apa.” Aku kaget dia menjawab walaupun sangat pelan.

     “Hm…boleh kubantu masuk?” tanyaku ragu. “Maksudku, ‘e...ya maksudku, kau perlu istirahat.”

         “Jangan.”

         “Kau telah banyak bercermin.”

        “Itulah aku.”

         “Ada yang salah?”

         “Tidak.”

Aku kehabisan kata-kata. Dia mengangkat wajahnya. Sama sekali tidak menatapku.

         “Untuk apa ke sini?” Dia berkata curiga. Sekejap saja melihatku.

        “Barangkali kau perlu bantuan,” jawabku sekenanya.

        “Benarkah itu? Pergilah.”

        “Jujur, bukan itu, aku membawa perasaanku.”

       “Perasaan?”

       “Ya. Kau tahu itu.”

       “Pergilah.”

      “Kenapa?”

      “Pergilah!”

Aku mundur menjauhinya. Dia membenamkan kepalanya lagi. Tidak lama kemudian menatap kaca jendela, mengusap wajahnya, dan memelototinya. Aku benar-benar heran. Aku bergegas kembali ke bangku teras rumah. Satu per satu perkataan tadi direnungkan kembali. Tak puas akan keberadaanku saat ini, aku ambil cermin besar di kamar. Aku bercermin setelah lama tidak kulakukan, diriku jauh di sana, dan kudapati segenap rohku. 
 
Aku damai bersama cerminku. Aku menemukan diriku sendiri. Aku mengubah diriku sendiri. Aku bebas bersama ide dan rohku sendiri. Meskipun ‘kuakui hanya ada di dalam cerminku. Gairah atas pengakuan demi pengakuan, Thymos, sedikitnya ‘kuredakan. Karena, aku hanya mengakui diri sendiri atas kehidupan dan kematian. Aku tundukkan kepalaku kepada setiap keberadaan benda hidup dan mati demi penghormatan dan kebebasan. Aku menyedikitkan berbicara pada orang lain karena kata adalah keterikatan dan komitmen. Akan tetapi, aku akan banyak berbicara pada rohku di dalam cerminku.

Minggu berikutnya, ketika aku bercermin, tangan kekar mencengkramku. Dengan kasar menyeretku. Aku meronta untuk dilepaskan dari cerminku. Tangan itu tetap kasar menarikku. Aku lemas oleh cairan yang mendadak masuk ke darahku. Aku tidak sadarkan diri.

Aku mendapati diriku di rumah sakit jiwa. Aku menepuk-nepuk pipiku: apa aku gila? Tidak! Di luarlah penuh orang gila. Aku waras. Lepaskan! Lepaskan! Tak ada sambutan. Jeruji besi mengurungku. Aku perlu cermin! Aku perlu cermin! Akhirnya aku pasrah, selonjor di lantai.

Dimana dia? Dimana dia? Apakah masih bercermin? Aku berdiri dan berputar-putar di dalam ruangan ketika mendapatkan tenaga lagi. Dia ada di dalam cerminku, oh, cermin! Berikan aku cermin!

Di luar berdiri orang tua yang menangis memandangiku. Aku memanggilnya untuk memberikan cermin. Tapi, diam saja. Aku memperhatikan bening air matanya. Di sanalah aku dapat bercermin. Ya, dia di sana, aku juga demikian.

Kau telah banyak mengajariku pembebasan dan cinta. Kekasihku. 

 
Purwokerto, 17 November 2014.
Ilustrasi : amiodo.blogspot.com 
Share:

Kamis, 02 Oktober 2014

Pers, Pergerakan dan Perubahan

   Pramoedya Ananta Toer berhasil menggali sejarah terpendam puluhan tahun lewat Sang Pemula. Dia adalah penulis dan peneliti ulet yang ditangannya Tirto Adi Suryo ‘dihidupkan’ kembali. Tirto merupakan tokoh dan perintis pers pribumi di awal abad 20. Sebelumnya tidak banyak yang tahu tentang Tirto karena rezim Hindia Belanda mencoba ‘menyembunyikan/menghilangkan’ namanya dari sejarah. Akan tetapi, tulisan tidak mati, abadi, selagi tidak termakan alam atau sengaja dimusnahkan oleh manusia. Berangkat dari tulisan-tulisan Tirto Adi Suryo pada koran-koran terbitannya, Pram menelusuri kehidupan Tirto dan perannya di dalam Kebangkitan Nasional. Kerja dan hasrat Pram terhadap T.A.S (inisial Tirto Adi Suryo) ini menginspirasi pula menulis sosok Minke dalam tetralogi roman masterpiece-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).
 
            Sang Pemula adalah buku yang memuat fakta-fakta sejarah tentang T.A.S, terdiri dari 418 halaman, diterbitkan oleh Hasta Mitra Jakarta 1985. Pada 176 halaman awal dihabiskan untuk analisis kehidupan T.A.S dan sisa halaman berikutnya menghadirkan karya fiksi dan non fiksi T.A.S yang sudah disarikan kembali oleh Pram. Menurut Pram, T.A.S adalah manusia pribumi pertama yang dapat menerbitkan koran. Terbitan T.A.S menggunakan bahasa—yang dikatakan Pram—melayu lingua franca atau disebut bahasa ‘bangsa yang terperintah’.  

Karir awalnya dimulai ketika T.A.S dikeluarkan dari STOVIA, lalu menjadi redaktur Pembrita Betawi. Orang yang paling berpengaruh terhadap T.A.S menurut Pram ialah Karel Wijbrans. Pendatang baru dari negeri Belanda yang mengambil alih harian baru terbit, De Sumatra Post. Di tangan Wijbranlah, T.A.S banyak dididik, dibangun perspektifnya, dan diarahkan pada pers yang berani membela kebenaran dan keadilan. Tugas jurnalistik tidak hanya menyampaikan berita belaka, tapi ‘mengawal pikiran umum’.

            Kerja T.A.S memajukan pers pribumi dan mengawal pikiran umum (pers yang mengarahkan/membela) akhirnya melibatkan diri pada organisasi pergerakan awal masa itu.  Bahkan, Pram merujuk pada data yang ada, Sarikat Dagang Islamiah justru pertama kali insiatif dan didirikan oleh T.A.S dengan beberapa saudagar kaya seperti Syekh Achmad bin Abdoerachman Bedjenet, bukan H. Soemanhudi. SDI berdiri pertama di Boetenzorg (Bogor) sekaligus menjadi kantor pusatnya. Usaha Gubermen melalui Penasihat Urusan Pribumi Dr. D.A. Rinkes tampaknya dicurigai sebagai siasat menyingkirkan T.A.S dengan memunculkan H. Soemanhudi dari Solo. Bersamaan itu, ada perubahan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga SDI termasuk perubahan nama menjadi Sarikat Islam. Diam-diam ada penyusup di dalam SDI, salah satu arsiteknya Dr. D.A.Rinkes.

            Kiprah T.A.S dalam memajukan kesadaran dan kebudayaan pribumi merelakannya menanggalkan status kebangsawanannya. Beberapa kali dia mengalami hukuman pembuangan karena kerja jurnalistiknya. Sejak mendirikan koran pertamanya, Soenda Berita, T.A.S telah menuntut perhatian Gubermen. Terlebih ketika T.A.S mendirikan harian terbesar pribumi pada masanya, yakni Medan Prijaji, T.A.S beberapa kali mendapatkan gugatan dan kasus hukum, hingga dia dibuang ke Lampung dan Ambon. Namun, semangatnya tidak pernah pudar, setiap selesai menjalani hukuman pembuangan, dia merintis kembali usaha medianya. Tak hanya itu, T.A.S dan Medan Prijaji juga melayani bantuan hukum/advokasi secara cuma-cuma kepada orang yang lemah/miskin. Jadi, sekilas tampak, antara kerja jurnalisitik dan kerja sosial dalam bentuk pergerakan, perubahan, dan perjuangan terhadap hak demokratis rakyat tidak terpisahkan. Itulah yang dicontohkan oleh T.A.S, Bapak Pers Nasional, yang sudah tidak lagi ditemui pada media-media sekarang ini, kecuali nafsu bisnis.

         T.A.S pun dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan pribumi dengan memberikan ruang untuk mereka, termasuk membantu mendirikan organisasi dan majalah perempuan, Poetri Hindia, yang telah mengobarkan semangat kepenulisan dan pendidikan kaum perempuan, bahkan berpengaruh kuat terhadap terbitan-terbitan corong perempuan di wilayah–wilayah Hindia Belanda.

            Demikian sekilas tentang buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, yang memiliki kelebihan-kelebihan terutama referensi data yang banyak dan kuat, selain memiliki kekurangan seperti terpotongnya beberapa data karena fakta otentiknya telah hilang, istilah-istilah yang banyak dan padat tetapi tidak pakai footnote sehingga menyita perhatian pembaca karena harus membolak-balik halaman ke belakang (endnote), dan tulisan kurang nyaman dibaca—hal ini seperti diakui Pram sendiri—karena telah melemahnya kemampuan fisik di usia senja.

            Bagi wartawan atau seorang yang sangat menyukai jurnalisitik, buku Sang Pemula sangat baik untuk menambah pengetahuan dan perspektif jurnalistik. Pengalaman-pengalaman T.A.S barangkali masih banyak yang relevan untuk diterapkan saat ini, di tengah serbuan media yang kurang memihak pada hak rakyat (buruh, kaum tani, perempuan dan rakyat tertindas lainnya) dan redaksi yang mudah dibeli oleh segelintir orang dengan uang. T.A.S yang hidup dan bekerja untuk rakyatnya, tulisannya yang tajam, ancaman dan hukuman yang rela dijalaninya, kematiannya yang sepi dan terasing karena orang-orang memusuhinya, dan dia rela seluruh nama baik, harta benda, serta martabatnya hilang demi kemajuan bumiputera.

            …Kelakuan menggunakan pengaruh pekerjaan untuk mendapatkan uang memang tercela sekali, terutama bagi seorang yang bekerja mengawal pikiran umum…T.A.S **                                                                  
Share:

Rabu, 01 Oktober 2014

Ke Kota Kretek

Kudus (19-26 November 2012) - Tak seperti yang dibayangkan bahwa kota kretek ini dipenuhi aroma rokok. Sejak menginjak kota Kudus, pandanganku hanya menyapu kondisi kota yang lumayan bersih.Pusat kota dipenuhi pedagang kaki lima (angkringan) dan berdiri megah mall yang memisahkan dua bahu jalan. Sisanya memang pabrik-pabrik rokok, termasuk yang sudah berumur. Di Kudus,bukan hanya Djarum, banyak pabrik rokok merek lain. Malahan usianya lebih tua dari Djarum. Sebagian memang sudah tutup, tinggal bangunan pabrik tua.


Pagi itu bersama kawan, Jaffar, aku berkesempatan mengunjungi masjid bersejarah Kudus. Di situ ada pula makam Sunan Kudus yang menjadi tujuan peziarah dari berbagai kota atau pulau. Sewaktu aku di masjid Kudus, tampak sepi dari peziarah. Banyak sekali pedagang yang mencoba mencari keberuntungan. Oleh karena waktu terbatas, aku tidak sempat masuk ke masjid.


Seminggu, aku di Kudus. Selain bertugas liputan OPI di Area PLN Kudus, aku perlahan mengenal sedikit makanan khas dan kehidupan di kota ini. Wilayah timur Jawa Tengah dengan logat bicara jawa yang berbeda dari tempat kelahiranku, Banyumas. Penduduknya ramah-ramah dan mayoritas masyarakat kota bekerja di pabrik rokok.

Share:

Senin, 04 Agustus 2014

Hindia Raja



           Kita kenal—teknik dasar catur—pembelaan Hindia Raja. Pemain catur yang pakai gaya ini akan lebih banyak mencari keuntungan. Tapi, dia lupa, gaya ini justru membuat lawan tambah solid, kompak, dan penuh dukungan. Gaya Hindia Raja terbuka dan frontal, ini kadang menjatuhkan mental lawan. Bersamaan tiap langkah itu, bisa jadi blunder atau bisa jadi menang.
         Membaca berita: massa Prabowo segel KPU. Dan, sekutunya PKS gagah akan bubarkan KPK. Ada yang membuli berita itu, ada yang membela. Begitu besarnya nafsu kuasa mereka. Berbarengan segepok gugatan Pemilu ke MK.
      Nafsu kuasa yang besar tidak membohongi perilaku politiknya yang frontal. Memang bukan baru, jauh sudah terjadi ketika lawan politiknya deklarasi—Jokowi. Sah-sah saja, tapi ‘kebebasan positif’-nya bisa jadi muak. Di saat orang-orang memulai perdebatan, tumbuh kesadaran politiknya, ‘berharap-harap’, ‘berakar rumput’, menata posisi, kala rezim baru (Jokowi-JK) akan tiba.
       Konflik politik demokrasi borjuis bagai pepatah maling teriak maling. Sama-sama tahu bahwa sistem itu tidak akan menjamin orang jujur, suci, dan paling beradab. Kompetisi lebih membuat orang berpikir licik. Atau bahkan, politik praktis, selamanya begitu. Untuk itulah, Machiavelli menyusun Il Principe. Tiap politisi harus sadar itu. Dua kubu yakin curang dan licik. Pemenang selamanya tidak akan membuka kelicikan yang kalah, sebaliknya orang kalah mati-matian membuka kedok pemenang.
         Hak memperoleh keadilan hukum boleh saja. Gugatan kubu Prabowo ke MK adalah hak konstitusinya. Akan tetapi, ranah hukum seringkali tak sejalan pada situasi sosiologis. MK tentu harus mempertimbangkan itu. Sehingga, eskalasi konflik ke arah perpecahan, keributan, chaos, tidak menyeret rakyat. Selain, merugikan rakyat, kelak rakyat yang harus membayar konflik elit itu sendiri. Sementara, dalam konflik kelasnya, hak demokratis rakyat terus-menerus dikebiri dan perjuangan tertatih-tatih.
     Gaya main Prabowo yang frontal, ‘pembelaan Hindia Raja-nya’, adalah bentuk mode strategis konflik—konsep G. Pruitt bersama Jeffrey Z. Rubin— contending. Mode ini pernah dipakai Presiden Reagan untuk memukul tuntutan serikat buruh pengatur lalu-lintas penerbangan, Patco. Mode ini intinya memaksa kehendak atas pihak lain untuk menang dari konflik. Strategis contending memakai sikap contentious (bertengkar). Prabowo melakukan contending atas lawannya, Jokowi.
     Contending Prabowo berisiko meningkatkan eskalasi konflik. Jokowi menanggapinya dengan mode withdrawing (menarik diri) dan inaction (diam). Hal ini tersirat dalam pidato kemenangannya, ia menyerukan agar massa pendukungnya kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas biasa. Prabowo dicuekin saja. Cara Jokowi menanggapi konflik adalah bentuk langkah konsekuensi dari contending: tak sedikit relawan masih terorganisir, dukungan meningkat, ‘harapan-harapan’ menyala dari aktor yang apolitis. Sudah banyak fenomena politik ini diulas penulis lain.
      Pada prosesnya, mode problem solving bukanlah solusi yang ingin dicapai. Isu rekonsiliasi yang bergulir adalah hal buruk dalam hitungan matematis politik bagi pihak yang kalah. Benturan konflik ini berada pada contending dan memiliki implikasi eskalasi. Bila eskalasi meluas, kecil kemungkinan de-eskalasi terjadi. Ini akan memberi kesempatan militer ambil alih, dan rezim yang berkuasa saat ini menguatkan status quo. Rakyat dirugikan atas perjuangan demokrasi selama dasawarsa lebih.
          Dari mulai quick count hingga hasil resmi KPU, mode konflik cenderung stabil pada bentuk contending. Satu hal yang sangat diwaspadai mode konflik ini ialah mudah sekali berada pada manajemen konflik rezim yang berkuasa. Konflik ini dapat dimanfaatkan dan dikelola cukup baik oleh rezim berkuasa. Konflik Sambas semasa Orba adalah satu dari sekian contoh contending yang justru dikelola rezim.
          Apakah gaya bermain Hindia Raja Prabowo akan menang? Melihat mode konflik dan situasi sosiologis kemungkinan kalah. Karena dukungan selain rakyat, yakni bisnis dan bankir—‘pemain bayangan’ sudah besar. Mulai dari Asosiasi Kamar Dagang AS hingga borjuasi lokal. Klik SBY mulai merapat ke bakal kabinet Jokowi. Terakhir, SBY akan mengundang Jokowi membicarakan perekonomian ke depan—sedikit menebak: stabilitas mega proyek MP3EI. Bukankah gejolak rakyat makin terlihat? Inilah, sekali lagi, konsekuensi bermain Hindia Raja. Diam-diam lawan telah kuat.
         Pendukung-Pendukung itu hanya butuh dua hal: stabilitas dan keamanan. Apalagi dilihat rupiah menguat dan indeks IHSG pun demikian pasca Jokowi terpilih. SBY tercekal. Dia tidak mungkin memanfaatkan konflik ini untuk status quo. Yang bisa dia lakukan ialah jadi mentor Jokowi dan oportunis sebesar mungkin. Anak (SBY) yang dididik oleh tuannya (imperialis AS) sungkan untuk bikin kerusuhan dan keributan. Sang tuan butuh tidur tenang panjang, sementara dolar terus mengalir ke rekeningnya.
            Itu ‘mungkin’. Pemain catur yang memakai gaya pembelaan Hindia Raja, juga terbuka bisa menang. Barangkali.                       
Share:

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pengorbanan, Tanah Air dan Revolusi

          Keluarga Gerilya, sebuah novel lama yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Diterbitkan oleh PT Pembangunan Jakarta pada tahun 1955. Jumlah halaman 239 yang terdiri dari  13 bab. Masing-masing bab menceritakan babak cerita, mulai dari diculiknya Saaman hingga kematian Saaman—tokoh utama. Pram sendiri merangkai ceritanya dalam alur tempo 3 hari 3 malam. Ide yang cemerlang menurut saya, menjadikan novel ini terasa padat.
            Novel ini ditulis oleh Pram ketika di penjara di Bukit Duri tahun 1949. Tak heran jika deskripsi, konflik batin, interaksi tokoh, dalam Kelurga Gerilya begitu kuat. Tampaknya Pram merasakan sangat dalam kondisi dan perasaan saat menjadi tahanan politik di penjara. Kondisi dan situasi yang dihadapi penulis inilah yang memungkinkan menghadirkan tokoh Saaman dan Keluarga Gerilya. Ia menggambarkan sangat baik nasib sebuah keluarga di era 1949-an atau agresi militer Belanda.
            Saaman adalah salah satu anak lelaki dari tujuh bersaudara (Tjanimin, Kartiman, Salamah, Salami, Patimah, Hasan) dalam keluarga Amilah—‘perempuan simpanan’ di tangsi militer KNIL. Masa-masa revolusi membuat keluarga ini berada dalam kehidupan yang sulit dan miskin. Aman—panggilan Saaman—merupakan lelaki yang telah jadi tulang punggung keluarganya selama ini. Sedangkan, Tjanimin dan Kartiman telah mengabdikan jiwa dan raganya untuk tanah air dengan menjadi prajurit gerilya.
            Pram menceritakan bahwa Aman ditangkap oleh M.P (militer) Belanda tiba-tiba. Sontak membuat keluarga jadi kalang-kabut dan Amilah (ibunya) mulai terganggu jiwanya. Setiap hari Amilah hanya melamun, histeris, marah-marah dan mencari-cari keberadaan Aman. Tapi, anak yang jadi tulang punggung keluarga itu, tidak juga ketemu keberadaannya.
            Penangkapan Aman—sebelum agresi dia jadi pegawai Kementerian Kemakmuran, setelahnya dia jadi tukang becak—didakwa karena turut terlibat gerilya membunuhi serdadu Belanda, bahkan bapaknya sendiri: Sersan Paidjan yang memihak KNIL Belanda. Inilah kehebatan Pram dalam mengolah konflik batin, ironi, dan tragedi di dalam cerita. Aman sendiri mengakui ‘dosanya’ itu, dan dia meneguhkan akan menebus dosa itu.
            Yang jadi perdebatan menarik dalam novel ini ialah benarkah yang dilakukan Aman itu ‘dosa’? Ketika tanah air, bangsa, kemerdekaan, dan revolusi memintanya. Moral mana yang membenarkan pembunuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat mengalir dalam dialog yang padat di dalam babak  Pengakuan. Penuh konflik batin yang sanggup menggugah perasaan dan nalar pembaca ketika Saaman meneguhkan pendapatnya dan pendiriannya tentang pengorbanan, tanah air, dan revolusi kepada rekan pesakitannya di penjara.
“…Biarlah aku mati muda. Aku baru berumur dua puluh empat tahun. Dan tahun depan aku dua puluh lima. Tapi mengapa aku takut mati? Seperempat abad kurang sedikit aku telah hidup di dunia ini. Biarlah. Rupanya sudah takdir Tuhan. Namun—yakinlah aku: segala dosa yang sudah kujalankan itu adalah dosa perseorangan yang akan menguntungkan perjuangan. Aku sendiri tidak tahu betapa besar-kecilnya keuntungan itu, namun sudah kuhancurkan hampir-hampir satu seksi serdadu. Jiwa ragaku telah kugadaikan pada perjuangan.” (KG, 104).
                Cuplikan di atas nampak keteguhan dan pendirian tokoh Saaman. Ada gesekan nilai humanisme dan harapan perjuangan yang mesti dipecahkan di dalam kemerdekaan. Perjuangan revolusi kemerdekaan yang membutuhkan ‘darah’, kekerasan, dan anti-humanis. Sementara, humanisme yang menuntut kearifan budi, hak asasi, dan menolak segala atribut revolusi. Akan tetapi, Pram lewat tokoh Aman, meyakinkan bahwa setiap upaya perjuangan revolusi, ‘membunuh’ adalah dosa pribadi, tapi hal tersebut menguntungkan perjuangan tanah air. Babak Pengakuan, menurut saya, merupakan puncak dari konflik cerita.
            Seperti dua saudaranya, Tjanimin dan Kartiman, yang gugur di medan perang, Aman pun gugur di kayusula oleh regu penembak. Sebelum matinya, Aman sempat menolak beberapa kebaikan Direktur penjara: Karel van Keerling yang ditawarkan padanya termasuk grasi. Nampak watak keras, teguh pendirian dan kerja keras sendiri, dominan dalam keluarga Amilah ini. Pribadi tokoh-tokoh keluarga Saaman mengajarkan pada pembaca untuk tidak sesekali punya watak suka meminta-minta, penjlilat, baik kebaikan atau harta benda orang lain. Semua kepuasan dan kualitas hidup, sejati jika dilakukan berdasarkan usaha dan kekuatan sendiri.
            Pram dalam Keluarga Gerilya rupanya tidak memberikan ruang sedikit pun kepada pembaca untuk merasakan kebahagiaan kisah cerita. Semua Pram gambarkan dalam tragedi yang menyedihkan. Lihat saja, usai Saaman dihukum tembak, justru rumah Amilah kebakaran dan ibunya sendiri jadi gila.  Belum adiknya, Salamah yang ditipu oleh seorang sersan dan diperkosa di Bogor. Keluarga dan adik-adiknya jadi hidup bertambah menderita. Untungnya, muncul tokoh Darsono—calon suami Salamah—yang bersedia memberikan bantuan dan kasih sayangnya kepada adik-adik iparnya, termasuk janji tetap menikahi Salami meskipun sudah tidak suci lagi.
            Keluarga Gerilya, novel Pram yang cukup baik mengajarkan nilai kehidupan melalui sastra. Penuh pesan moral, prinsip, pengorbanan, dan pembelajaran berharga yang mengolah rasa dan nalar kita.
            Terakhir sebuah pesan dari surat Saaman untuk adik-adiknya (mungkin untuk pembaca sekalian):                                                                                       
“…Engkau semua masih muda, dan umur muda itu mahal harganya, adik-adikku! Sekarang ini belum lagi kau rasai itu. Tapi, kelak, sekiranya engkau menyia-nyiakan umur muda itu untuk memburu hal yang bukan-bukan, dan bila engkau sudah tua dan dalam keadaan kocar-kacir, barulah engkau mengetahui harga umur mudamu itu. Karena itu, pergunakanlah dia baik-baik. Jangan tidak…” (KG, 187).
Share:

Minggu, 13 Juli 2014

Sepasang Sepatu

ilustrasi
Istana dilanda keributan. Sepatu kaca sebelah kanan Cinderella hilang. Putri menawan itu menangis di dalam WC. Jadi, selain sepatu hilang, penghuni istana terkejut kenapa Cinderella ada di WC. Bukan seharusnya di kamar. Mungkinkah di tengah kepanikan itu Cinderella terserang mencret, tidak ada yang tahu.

     Aku adalah sepatu kaca sebelah kiri. Kini aku sendirian di kaki kiri Cinderella. Ingin rasanya aku mengikuti saudara kembarku—sepatu kaca sebelah kanan—yang menghilang. Meski ada di kaki mulus dan wangi Cinderella, tapi aku lebih tertarik pada kebebasan. Terlebih, aku berhak tahu darimana asal-usulku dan keluargaku.

       Saudara kembarku telah pergi tanpa sepengetahuanku. Aku meratap kesepian. Lagi pula aku kesal dengan kebodohan Cinderella. Kenapa harus menangis di WC yang pesing dan bau berak kering. Baru kali ini aku melihat sisi ‘lain’ putri cantik yang banyak dipuja lelaki itu. Ternyata, menyiram berak pun tidak pernah bersih.

       Harapanku semakin besar supaya ada orang yang mencuriku. Aku tidak tahan dengan kelakuan Cinderella bahkan seluruh punggawa istana. Para kaum ningrat, borjuis sampai penjilat yang tiap hari hanya makan, tidur, seks dan menghitung uang. Aku memang terlalu bodoh untuk tahu bagaimana sistem mereka berjalan. Tapi, aku mengantongi firasat bahwa hal yang mustahil, tanpa kerja, mereka bisa hidup mewah dan berlebihan.

       Pencuri, datanglah padaku. Bawalah aku kepada saudara kembarku. Tentu kau memiliki keadilan sekalipun moral enggan membenarkanmu. Kau pasti butuh uang untuk makan, membesarkan anak-anakmu, menyenangkan istrimu, dan menjaga kesehatan keluargamu. Aku rela berada di pasar untuk kau jual jika nalurimu hanya bertahan hidup. Daripada keberadaanku cuma ajang kegenitan putri Cinderella untuk memainkan birahi lelaki. Biarkan kami menjadi sepasang sepatu karena tidak mungkin kau menjual hanya sebelah saja. Aku merenung dan berharap, sendiri.

      Setelah berhenti menangis, Cinderella mendesah-desah. Membuatku jadi geli. Di luar para pembantu menggedor-gedor pintu. Sepertinya begitu khawatir keadaan putri. Sedangkan, di dalam Cinderella mendesah nikmat. Tubuhnya menggelinjang-gelinjang, bahkan aku sendiri dibuat pontang-panting seiring gerak kakinya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, lendir putih hangat memuncrat mengenaiku. Sialan. Lalu, aku dilepaskan dari kakinya, dilap dengan tisu basah.

       Cinderella keluar. Orang-orang berbusana indah, muka berbedak tebal dan bibir merah cerah mengelilinginya. Diikuti pembantu-pembantunya yang pucat, kurang tidur dan makan, berlomba-lomba menanyakan keadaannya. Cinderella mengambil parfum yang harum menyengat disemprot-semprotkan ke arahku. Bajingan, aku seperti tidak berguna, apalagi bermartabat.

            “Tenanglah putri, sepatu sebelahnya sedang dicari prajurit,” ujar bibi Anitte menenangkan. Istri pangeran Charlie yang gemar berbelanja cincin itu merapikan rambut Cinderella.

            “Pokoknya tuan putri jangan sedih. Biar nanti sahaya bikinkan sup biji peler kesukaan tuan putri,” sela pembantunya, bekas budak, yang telah dibeli ayah Cinderella.

         Aku berharap prajurit tidak menemukan saudara kembarku. Biarkan dia hidup di luar dan berguna bagi orang lain. Setidaknya bagi pencuri yang membutuhkan makanan. Mudahan-mudahan dia menemukan keluargaku dan mendapat pengetahuan asal-usul kelahiran kami berdua. Aku sangsi bila harus percaya pencipta kami adalah Tuhan seperti yang disembah manusia. Apalagi setelah melihat Tuhan sesembahan manusia itu sering dipakai kedok tindakan keji dan menindas orang lain. Aku pahami Tuhan adalah kekosongan masing-masing.

        Cinderella tidur terlelap tanpa sehelai busana. Di malam yang hening bersama rembulan yang sedang kelelahan. Cahayanya lemah melawan kegelapan. Aku tiba-tiba masuk ke dalam karung. Aku terbang dengan kecepatan yang luar biasa. Beberapa kali terbentur benda di luar hingga membuatku pusing. Wah, jangan-jangan pencuri itu datang. Ia lari terbirit-birit, dugaku. Antara senang dan takut menyergapku.

            “Sepatu kiri…,” aku kaget mendengarnya setelah tangan menarikku keluar dari dalam karung. Setelah aku diletakkan di sebuah meja datar kusam baru aku melihat sekeliling.

            “Woi! Haha…sepatu kanan…,” sambutku riang, hatiku berjingkrak-jingkrak.

            “Haha…akhirnya kita bertemu.”

            “Tapi, dimana kita?”

            “Hmhehe…kita di tempat buruh pabrik miskin.”

            “Ha! Tak apa. Kita dapat bersama lagi. Harapanku terkabulkan. Semoga kita dapat bermanfaat bagi penghuni rumah ini. Bukan orang-orang istana yang menjijikan.”

         Aku dibuat mainan oleh anak-anak keluarga buruh miskin itu. Di lemparnya aku ke segala penjuru, masing-masing berlomba untuk menangkap. Mereka tidak tahu betapa berharganya aku di mata Cinderella dan seluruh penghuni istana. Seluruh prajurit dikerahkan hanya untuk mencariku dan saudara kembarku. Apalagi setelah tahu kedua sepatu kaca Cinderella hilang, raja dan pangeran pasti bertambah murka, dan anak-anak miskin ini tidak tahu bahaya sedang mengancamnya. Tapi, bagaimana pun aku merasa lebih senang di sini, jadi bahan hiburan dan pelupa lapar anak-anak yang kekurangan makanan.

            “Sini, sini, sepatunya. Jangan buat lempar-lemparan nanti pecah,” seru ayah anak-anak itu, yang tidak lain adalah pencurinya.

            “Ah, ayah…,” sesal anak-anaknya.

            “Eh, itu sepatu mau ayah jual buat membeli makanan musim dingin nanti.”

Anak-anak diam. Masing-masing saling pandang dengan mata sedih. Melihat anak-anaknya kehilangan keceriaan, ibunya datang menenangkan suaminya.

            “Sudahlah ayah, biarkan mereka menikmati barang mewah putri Cinderella dulu. Toh, mereka masih anak-anak, nanti kalau sudah bosan juga ditinggal.”

        Aku melirik saudara kembarku. Kemudian berpikir, kami akan dijual, kemana? Andai bisa memilih, biarkan kami melindungi kaki dari salah satu anak-anak itu. Walaupun kakinya rata-rata bau busuk koreng karena menapaki jalanan lumpur bercampur limbah dan asap pabrik, tapi aku merasa berarti. Daripada di kaki Cinderella yang putih, wangi dan mulus, tapi menghadapkan pada sebuah kehidupan yang dibuat-buat, nafsu membuta dan penuh tipu-daya. Aku hanya butuh kehidupan yang polos dan sederhana.

       Keesokan harinya, aku dan saudara kembarku dikejutkan oleh ramainya sepatu. Mereka saling bercanda, berdiskusi dan ada yang menyanyi. Siapa itu?

            “Bawa sepatu dari pabrik mau dilembur di rumah?” tanya istri kepada suaminya yang baru pulang dari pabrik membawa sekarung sepatu.

            “Iya, pabrik banyak permintaan, pekerja diwajibkan lembur?"

            “Ah, hitungan gajinya, meski lembur, tetap.”

Suara-suara sepatu itu tambah gaduh. Akhirnya, mereka menemukanku terlebih dulu tepat pada saat aku berusaha mengenali mereka satu per satu.

            “Hai..hai..lihat! Itukan sepatu kaca,” ucap sepatu dengan tato “N”.

            “Benar. Itu sepatu kaca. Haloo…,” sapa sepatu bertato “Ad”.

Aku menyahut sapaan mereka semua. “Hai…kawan-kawan. Apa kabar semuanya? Baik-baik, bukan? Haha…”

            “Ya, kami baru saja diciptakan. Kami semua tinggal dijahit. Huuhu…”

            “Siapa yang menciptakan kalian? Darimana asal-usul kita semua? Apakah kita semua bersaudara dan berkeluarga?” tanyaku penasaran.

            “Dasar kau sepatu yang manja. Mentang-mentang sepatu kesayangan Cinderella, lantas kau lupa siapa dirimu. Pencipta jasad kita adalah para buruh miskin itu. Roh kita atau saripati kita adalah tenaga mereka. Ya, berkat tenaga merekalah kita ada. Jangan lupa itu. Para borjuis yang kau kenal di istana itulah penyihir kegelapan. Menutup-nutupi asal kita dengan segenap tipu-daya. Demi keuntungan yang sebesar-besarnya, mereka berlatih mantra sihir tiap waktu, tanpa harus menciptakan kita semua. Kita bangsa sepatu semua bersaudara karena dari asal yang sama, begitu pun pencipta kita, kelas buruh, semua bersaudara dan berkeluarga karena mempunyai nasib yang sama.”

            “Kenapa sang pencipta kita bisa miskin sedemikian rupa?”

            “Lagi-lagi karena kita semua terkena sihir kegelapan kaum borjuis. Kita lupa pencipta kita, sama halnya pencipta lupa apa yang telah diciptakan. Persis, seperti anak lupa dengan kedua orang tuanya, sementara orang tua pun lupa terhadap anaknya sendiri. Anehkan. Sihirnya memang demikian, kita dijauhkan dari pencipta, agar pencipta dapat dikelabui, kehilangan cinta, dan tergadaikan dengan upah. Ia berpeluh keringat menciptakan kita semua selama berjam-jam, kadang lembur, tapi paling hanya kerja dua jam yang dibayar. Selebihnya kerja membudak menumpuk kekayaan borjuis. Pencipta tidak tahu bahwa ia telah kecurian tenaganya oleh ‘tangan tak terlihat’.”

            “Oh, tidak…ternyata pencipta kita adalah ayah dari anak-anak kecil malang itu.”

            “Ya, dia pemberi roh kita. Tanpanya kita tidak akan tercipta. Nama ordo kita adalah komoditi. Kita memuaskan nafsu dan kebutuhan manusia. Kita dipertukarkan di pasar, karena itu manusia hanya mengenal kenampakan fisik kita saja. Mereka tidak tahu, atau kalau pun tahu sengaja menutup-nutupi, bahwa roh kita adalah kumpulan tenaga kelas buruh. Keindahan kamu, hai sepatu kaca, tidak akan ada dan tetap jadi pasir kuarsa di tepi lautan yang sepi jika tidak ada roh dari pencipta kita.”

Brakkk! Prajurit istana mendobrak pintu dengan kasar hingga roboh.

            “Angkat tangan!” bentak seorang komandan pasukan.

      Tanpa pikir panjang, buruh miskin itu diseret keluar yang tadinya sedang menjahit sepatu. Aku dan saudara kembarku ikut dibawa. Seluruh kota beranjak ramai menyaksikan buruh miskin itu serta aku dan saudara kembarku—sepatu kaca yang berhasil ditemukan.

Sesampai di istana, kami berdua segera diciumi oleh Cinderella. Kehangatan bibirnya membuatku mual. Pikiranku hanya tertuju pada buruh miskin itu yang terdengar akan segera dihukum gantung. Bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil? Aku hanya sepatu, tidak dapat berbuat apa-apa, selain kembali menghiasi kaki Cinderella. Akhirnya, aku dan saudara kembarku tahu siapa kami sesungguhnya, asal-usul kami dan keluarga kami. Dan…apa itu ‘pencuri’.

Purwokerto, 5 September 2013.

sumber ilustrasi: viva.co.id
Share:

Kamis, 12 Juni 2014

Dari Kalimantan

                     - yang teraniaya menjelang Pemilu,soko guru, Jenihin

kau terusir dari rumah sakit, lagi
kanker di tubuhmu tidak dipedulikan
kepedihan kembali kau bawa dan rasa
penderitaan senyap oleh orasi politik
rakyat sudah geram!

Jenihin, tak boleh mati
soko guru rakyat sejati
bersambung dukungan sejagad
untukmu,
dari hati yang paling dalam
kaum buruh dan tani

ini negara setengah jajahan
ini negara setengah feodal
yang ada rumah sakit tolak orang sakit
yang ada pemerintah boneka
kerjanya cuma melayani pemodal asing,
pidato dan menganiaya rakyat.

baru dari Kalimantan, lusa
masih akan terus datang berita
petani di telantarkan rumah sakit
rakyat marah dan bangkit!

sedu-sedan hati kalau sudah begini
satu petani telantar tak diobati
satu presiden cuma diam diri
perjuangan harus diintensifkan lagi!

                  Purwokerto, 13 Juni 2014

Share:

Kamis, 29 Mei 2014

Nyai Roro Kidul Membela Kaum Tani

Ilustrasi
 “Ngger...awane mlayu ngidul//semribit angine wis padha kumpul//eh,eh...sandekala, ayuh bocah mlebu umah//sregep-sregep sinau mben ora dilomboni tuan tanah//nek wis gede ayuh padha nglawan//aja meneng mengko dadi bakwan...” sumringah Roro bernyayi usai keluar dari bilik mandi kecil berdinding daun kelapa. Bokongnya bergoyang genit. Rambutnya yang basah berkali-kali diusap pakai kain jarit.        

       Gadis ayu itu melenggang ke ruang belakang yang mepet dengan dapur.  Tubuhnya yang berbalut kain mirip serbet disembunyikannya dari balik lemari. Ia mengambil celana dalam hijau, kutang hijau, jarit hijau, dan kebaya hijau dekil penuh noda getah pisang dari lemari. Semua serba hijau, supaya selaras dengan daun padi yang baru menghijau di sawah.

             Tepat ketika Roro akan memakai celana dalam, dari luar Sukmi Rayati memanggil keras.

            “Ro, cepat! Prajurit dan anjing kerajaan akan datang!”

            “Ya! Bentar!” teriak Roro dari dalam.

            Sukmi, kawan karibnya itu, membuat Roro kepuntal. Hari ini perjuangan kembali mempertahankan tanah.

            “Aduh! Kebalik lagi pakai celana dalamnya,” gerutu Roro sambil menurunkan lagi celana dalamnya karena memakai terbalik. Di luar, Sukmi semakin menjadi-jadi nada panggilannya. “Iya bentar!” balas Roro.

            Tak ada kupu siang itu. Kambing yang kenyang tidur di bawah pohon pisang di barat daya rumah Roro. Roro keluar dari rumahnya yang hampir roboh. Sukmi masih tegang berdiri memandanginya. Lima anak ayam tetangga yang  berak persis di depan pintu digebah Roro supaya pergi.

            “Lama,” keluh Sukmi.

            “Maaf. Mari lekas pergi,” ajak Roro.

            “Tunggu dulu,” Sukmi menghentikan langkah Roro. “Kita harus punya kata-kata yang baik untuk mengusir aparat itu.”

            “Tak ada kata-kata baik untuk mereka.”

            “Maksudmu?”

            “Ah, kau, perawan terlalu udik. Tahulah bahwa mereka tidak kenal kata baik kita. Mereka akan tetap mengusir kita. Selagi perintah Raja Mataram di belakang pantat mereka.”

            “Ya. Apakah kau siap?”

            “ Sedari tadi. Yang penting massa kaum tani bersatu. Ingat, percaya pada massa dan kekuatan mereka.”

            Mereka berdua meninggalkan rumah Roro. Matahari tertutup awan, jadi bayang mereka berjalan tak nampak. Orang-orang dusun sudah bergegas pergi di mulut jalan menghadang aparat. Harta benda ditinggalkan begitu saja. Rumah-rumah lengang tanpa penghuni. Hanya tersisa orang tua lanjut usia yang sudah hilang daya juangnya. Pikun. Lansia-lansia cuma duduk memandangi dunia yang sudah terlihat membosankan. Usang. Satu dua lansia memandingi Roro dan Sukmi yang berjalan tegap beriringan. Gelora dan marah dua perempuan muda itu siap ditumpahkan ke muka aparat.

            “Roro,” sapa Sukmi dalam perjalanan. Roro yang sedang memandang tajam ke depan memalingkan ke Sukmi di samping kirinya.

            “Ada apa?”

            “Apakah kita akan menang?”

            “Niscaya.”

            “Hm,” gumam Sukmi menggigit bibir. “Tapi aku ragu.”

            “Masukan ke saku keraguanmu. Itu yang membuat perjuangan seringkali kalah telak.”

            Sesaat keduanya diam. Sukmi yang lebih muda 10 tahun dari Roro suka pandangi hidung Roro. Bangir. Pipinya montok kemerahan karena kena panas matahari. Dagunya bulat dan lehernya jenjang membentuk sebuah lipatan. Andeng kecil menghias di kening. Roro cantik alami. Kecantikannya tumbuh dari ladang dan sawah.

            Sukmi membuka topik percakapan lain.

            “Benar kau tolak lamaran Sutowijoyo?” tanya Sukmi sedikit malu.

            Roro kaget mendengarnya. Untuk apa Sukmi bertanya sesuatu yang dibenci selama ini. Roro melayangkan pandang ke arah Gunung Marapi. Gunung yang menyusui kehidupan kaum tani.

            “Maaf kalau pertanyaanku mengganggumu,” ujar Sukmi seakan bersalah.

            “Tidak,” sahut Roro cepat. “Sama sekali tidak. Aku memang menolaknya.”

            “Kenapa?”

            “Sikap politik.”

            Melihat air muka Sukmi berubah asam dan bingung, Roro menjelaskan ucapannya.

            “Politik. Jiwa terdalam manusia. Ia bisa tumbuh dari cawan dan tawa bajingan bangsawan istana atau luka perih kehilangan tenaga dan tanah seperti kita ini.  Pernikahan tak sekedar bersetubuh dalam kamar, tetapi menetapkan dan menyamakan sikap politik. Antara Sutowijoyo dan aku, jelas-jelas sudah bertentangan sikap politiknya. Bukankah dia lahir dan mewarisi watak kelas tuan tanah?”

            “Kau sungguh keras orangnya. Jika kau berhasil menikah dengan anak raja yang manja dan kekanak-kanakan itu, mungkin kau bisa mempengaruhi kebijakan mertuamu untuk melepaskan tanah dusun ini digarap kaum tani. Kau bisa memanfaatkan Sutowijoyo.”

            ‘Tidak mungkin! Mereka tak akan rela melepaskan begitu saja hak milik atas alat produksinya. Sejarah mengajarkan perjuangan kelas.”

            “Ah, kau ini pandai berkilah.”

            “Pandanganmu kurang benar, Sukmi. Jangan kita jadi orang yang hobi menjilati pantat orang lain demi cari-cari kesempatan dan peluang, itu tandanya kita menyerahkan kemanusiaan kita pada ketek siluman. Percaya saja pada usaha dan kekuatan sendiri.”

            “Aku mengerti.”

            “Percepat jalan kita.”

                                                                       ***

            Kaum tani berbaris rapi berpegangan tangan menghadang aparat Mataram yang bersenjatakan tombak dan pedang. Sutowijoyo berdiri di atas kereta kuda sambil ngupil. Kaum tani dan prajurit bersitegang, saling hujat dan maki, tetapi dari belakang Roro muncul membelah barisan. Sutowijoyo terperanjat melihat perempuan pujaannya muncul dan mengambil posisi memimpin aksi di depan.

            “Tetap berpegangan erat kaum tani. Satukan barisan jangan sampai terpecah! Kita hadapi kekuasaan yang hendak merampas tanah sumber hidup kita! Kita pun menolak upeti dan segala bentuk penghisapan dan penindasan atas kerja kaum tani!” teriak orasi Roro. Sementara, Sukmi berada di tengah barisan menyemangati kaum tani dengan yel-yel.

            Pangeran Sutowijoyo tertegun melihat kemolekan sekaligus kegarangan Roro. Pikiran jorok Sutowijoyo pun muncul, membayangkan bagaimana kegarangan Roro di atas ranjang saat berhasil diperistri nanti. Sedap benar, pikir Sutowijoyo. Ia lupa niat semula, memberangus perjuangan kaum tani. Sutowijoyo lupa daratan, melayang tinggi, dan berangan-angan. Prajurit-prajuritnya bersitegang dengan muka merah akibat diolok-olok massa tani. Perintah tak kunjung datang. Sutowijoyo asyik mengamati kecantikan Roro.

            Kaki tangannya, Raga Kemangsang, geram mendatangi Sutowijoyo.

            “Bos,” Sutowijoyo tak bergeming, “Bos!” ulang Raga Kemangsang.

            “Babi!” seru Sutowijoyo kaget. “Sembrono! Apa?!”

            “Perintah, bos. Eh, maksudnya, apa perintah bos untuk kita?”

            “Perintah? Terserah.”

            “Tidak bisa begitu. Tuan besar nanti marah. Dikira kita main tindak sendiri.”

            Sutowijoyo baru berpikir. Ia ingat kembali tentang pesan ayahnya. Dusun supaya dibakar ketika kaum tani masih membangkang. Para lelaki dihunus tombak atau pedang, sedangkan perempuan-perempuan dibawa ke istana. Sutowijoyo ngupil lagi. Ia melihat balita  masih menete ibunya yang sedang berteriak lantang “tanah untuk rakyat.” Sutowijoyo beralih memandangi bocah tanpa celana yang satu di antaranya ‘burungnya’ mulai berambut.          

            Sutowijoyo turun dari kereta kudanya. Ia berjalan mendekati barisan kaum tani.

            “Rakyatku,” katanya penuh wibawa. “Ketahuilah bahwa seluruh tanah ini adalah milik kerajaan. Bulan depan, tanah ini akan dikelola tuan Van der Kijlk jadi perkebunan tebu dan pabrik gula. Toh, kalian bisa bekerja pada tuan Van der Kijlk nantinya.  Jika kalian tidak mundur, maka terpaksa prajurit akan menindak tegas dan keras.”

            Perkataan Sutowijoyo memancing gejolak juang lebih besar dalam barisan. Beberapa orang merangsak maju ke depan sambil mengacungkan arit. Sontak barisan paling depan menahan mereka. Roro segera pimpin barisan.

            “Tenang semua. Jangan terpancing kata-kata dari mulut banci. Tetap berpegangan erat. Satu komando,” seru Roro.

            Sutowijoyo merasa malu, merasa dikebiri kejantanannya, dan merasa bumi menertawainya karena dibilang banci. Mukanya merah bukan marah tapi malu dihadapan Roro. Perempuan idamannya itu.

            “Sutowijoyo!” bentak Roro. “Kau banci! Mandul! Impoten! Kami minta kalian segera pergi dari tanah ini. Cuma banci yang tega merebut tanah hidup kaum tani. Kami ingin kemerdekaan, kedaulatan sejati, dan keselarasan dengan alam. Bukan pabrik dan kuli! ”

            Sutowijoyo bertahan menghadapi cacian Roro, meski hatinya terbakar dan harga dirinya hilang. Gejolak cintanya pada Roro telah menyirami amarahnya. Sutowijoyo benar-benar gila dengan menganggap semua perkataan Roro itu adalah ucapan termanis. Ya, cinta buta, kata orang-orang. 

            “Kau tuli, Sutowijoyo! Cepat! Bawa pergi pasukanmu itu ke istana.”

            Raga Kemangsang tahu bahwa Sutowijoyo telah terlena oleh Roro. Ia kembali memperdaya Sutowijoyo agar ingat pesan ayahnya.

            “Bos, lekas perintahkan pasukan sebagaimana titah ayahmu. Ini sudah keterlaluan. Roro telah berbohong padamu. Bos jelas pejantan tangguh. Bukankah malam kemarin…” Raga berpikir sejenak, “ Ya,ya, bos sanggup melayani tiga perempuan sekaligus,” Raga tertawa sendiri. “Cepat, bos. Perintahkan pasukan untuk bakar dusun dan habisi mereka kecuali perempuan,” hasut Raga Kemangsang pelan.

            “Tahan, Raga.”

            “Sekarang waktunya. Lupakan Roro. Kejayaan Mataram di atas segalanya.”

            “Aku bilang tahan!”

            Raga Kemangsang sebentar melunak. Ia berpikir ulang kata-kata yang tepat untuk mempengaruhi Sutowijoyo ambil sikap. Kali ini dia menghadapi pangeran yang keras kepala dan mabuk cinta.

            Sejak kecil, Sutowijoyo sangatlah dimanja. Pada ulang tahun ke-17 tahun, sintingnya, ayahnya justru memberikan hadiah perawan cantik. Akibatnya kini Sutowijoyo memiliki nafsu birahi melebihi kuda. Sedikit lihat perempuan cantik, ‘ekor depannya’ tegang dan berontak.  Dia lemah dihadapan perempuan.

            Telinga Raga Kemangsang makin panas mendengar makian massa kaum tani.

            “Iblis! Perampas! Pembunuh! Penindas! Penghisap!” teriak massa kaum tani.

            “Tanah untuk petani, bukan untuk badut istana,” orasi Roro, “Siapa yang memberi makan badut? Siapa yang menjadikan biji jadi beras? Siapa yang  mengubah tanah tandus jadi subur? Cangkul dan arit hanya jadi alat, tanpa tenaga manusia, tenaga kaum tani, mustahil badut istana dapat makan kenyang. Mustahil kehidupan manusia dapat berjalan, “ Roro mengambil nafas sebentar. “Anehnya, kaum tani malah kelaparan, dirundung penderitaan, penyakit, dan direndahkan dalam peradaban. Tanahnya direbut atas nama kerajaan. Tuhan tidak sekeji itu dan Tuhan Maha Penyayang. Teranglah bahwa raja dan antek-anteknya-lah yang telah merampas hasil kerja kita. Merekalah manusia paling keji!”

            “Orang-orang asing mulai berdatangan, berjabat tangan dan berbagi perempuan. Itu artinya, kita, kaum tani, harus siap membela dan mempertahankan tanah kita. Ganyang segala bentuk perampasan tanah! Begitu pun kekuatan dan kehendak kita mesti membesar!” lanjut orasi Roro yang penuh semangat.

            Raga Kemangsang sudah mengepal tangan. Ia kesal terhadap Roro yang pandai membangkitkan gairah perlawanan kaum tani. Orasi-orasinya makin membuat massa kaum tani perlahan bergerak ke depan, sehingga terjadi saling dorong dengan prajurit. Di saat itulah, Raga Kemangsang memiliki ide yang dianggap tepat untuk mempengaruhi Sutowijoyo mengambil keputusan.

            Raga Kemangsang kembali mendekati Sutowijoyo yang sedang asyik mengamati Roro.

            “Bos, ada ide bagus,” ujar Raga Kemangsang, “Kalau kita diam begini, kita rugi.”

            “Kenapa?” jawab Sutowijoyo singkat dengan pandangan tak teralihkan.

            “Semua tahu…” ucap Raga sedikit ragu. “Bos cinta mati sama Roro.”

            “Tidak usah ikut campur.”

            “Bukan itu yang hamba maksud. Tapi, ini kesempatan bagus untuk bos  mendapatkan Roro.”

            Barulah Sutowijoyo tertarik pada perkataan Raga Kemangsang. Ia menatap Raga Kemangsang dengan rasa penasaran.

            “Biar hamba jelaskan,” Raga membetulkan ikat kepalanya. “Jalankan perintah raja. Dengan begitu, bos akan terbukti setia pada perintah sekaligus dapat mendapatkan Roro. Ingat, ayah bos hanya ingin menghabisi pembangkang, itupun yang berjenis kelamin laki-laki. Setelah itu, seluruh dusun disuruh dibakar. Perempuan-perempuan akan dibawa ke istana, yang cantik jadi selir, sisanya dijadikan budak. He-he-he, bos sudah bisa tebak sendiri bukan?”

            “Betul juga idemu, Raga. Hasratku sudah tak terbendung lagi. Bagaikan lautan membuncah, matahari menabrak bulan dan angin topan besar,” Sutowijoyo tersenyum puas sambil ngupil. “Baiklah. Jika caramu itu cepat membawa Roro kepangkuanku, laksanakan perintah raja.”

            Terompet dibunyikan, tanda perintah datang. Prajurit siap siaga dengan tombak, pedang, dan perisai. Di sisi lain, massa kaum tani tanpa henti menyuarakan tuntutan. Roro masih di depan barisan ketika prajurit bergerak brutal merobek perut dan menggorok leher para lelaki. Satu per satu tumbang. Jeritan kematian menggema, air mata bercucuran dari para perempuan yang disekap dan diikat. Mereka menyaksikan suami dan kerabatnya tergeletak mati. Tanah penuh darah. Bocah kecil ikut dibantai secara keji.

            Roro meronta dan melawan prajurit yang mengikat tangannya. Ia digendong paksa ke kereta kuda. Sutowijoyo manggut-manggut melihat kekalahan mereka. Sebagian kaum tani yang membawa arit, cangkul, dan golok masih mencoba melawan prajurit. Ada dua-tiga prajurit Mataram yang mati oleh arit dan golok kaum tani. Akan tetapi, arit dan golok tidak bisa membawa kemenangan, tetap saja mereka juga akhirnya mati.

            Api mulai menjalar ke penjuru dusun. Rumah-rumah terbakar. Para lansia merasa kaget kematian menjemputnya. Sekejap saja, rumah-rumah tinggal puing-puing arang yang rata dengan tanah. Prajurit bersorak senang karena kemenangan. Mayat-mayat tergeletak sembarang dengan mata terbuka menyembunyikan dendam.

                                                                          ***

            Malam yang malu-malu menatap Roro berlari ke arah selatan. Burung hantu mengawasi dari dahan pohon beringin. Roro kabur dari cinta buta Sutowijoyo. Ia cukup hati-hati agar tak satu pun orang melihatnya. Berkali-kali air matanya diseka, berkali-kali pula ia menghindari cahaya bulan. Roro butuh kegelapan, karena di sanalah mungkin jalan kebenaran.

            Di dalam kamar yang penuh bunga mawar merah dan putih, Sutowijoyo tertidur pulas. Ia telah mencapai kemenangan: merampas tanah rakyat dan merampas keperawanan. Ia tak tahu pengantinnya melesat pergi demi kemerdekaan. Ya, kemerdekaan diri, meskipun telah kalah telak. Barangkali itulah satu-satunya yang dapat digenggam, dibawa sampai mati, ketika harapan dan cita-cita perlu ditata ulang.

            Ombak menggulung di atas badan laut. Roro terengah-engah di atas tebing pantai selatan. Cakrawala terlihat jauh dan bumi seperti sebidang kaca datar. Sekujur tubuh Roro terkena sinar bulan. Kecantikannya sama sekali tidak pudar. Walaupun kepedihan telah berminggu-minggu menjadi kabut di wajahnya, Roro tetap jelita dan mempesona.

            Di dalam gemuruh ombak, Roro masih mendengar rintihan kematian kaum tani, dan tangis tiada henti perempuan-perempuan yang disekap di istana untuk melayani dan memuluskan diplomasi politik jalur kelamin. Roro menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ia marah pada dirinya sendiri.

            Sutowijoyo menjerit mendapati Roro telah tiada di sampingnya, sementara jendela kamar terbuka dan udara pagi yang dingin merambati seluruh ruangan. Prajurit berhamburan ke dalam kamar memeriksa keadaan.

            “Prajurit!” bentak Sutowijoyo. “Cari sampai ketemu istriku!”

            Sutowijoyo bangkit dari ranjang, menggaruk-garuk pantat, dan melihat ke luar jendela.

            “Kemana kau, Roro,” ucap Sutowijoyo. “Aku seperti hidup tanpa udara,” lanjutnya berlebihan.

     Sampai berminggu-minggu, Roro hilang misterius. Tak ada yang berhasil menemukannya. Sutowijoyo merasa malu pada tiap gunjingan orang-orang. Rakyat pun menerima kabar itu, dan membicarakan bahwa Sutowijoyo adalah pangeran lemah dan tidak bertanggungjawab terhadap istri. Ayah Sutowijoyo merasa khawatir kelak anaknya tidak bisa dipercayai rakyat. Padahal setahun lagi, Sutowijoyo akan menggantikan kedudukannya sebagai raja.  Adalah payah bila kekuasaan berdiri tanpa kepercayaan rakyat. Lama-lama akan ambruk.

            “Panggil pujangga,” perintah Sutowijoyo di tengah kekacauan batinnya kepada seorang kurir.

            Datanglah seorang pujangga yang dikenal sangat ahli menulis dongeng. Selain itu, bayarannya sangat tinggi, dia memang menulis untuk uang. Pujangga itu menundukkan badan menghadap Sutowijoyo. Ia bernama Empu Clamit.

            “Tegaplah, Empu Clamit.”

            “Hatur sembah dan terima kasih, tuanku.”

            “Aku undang kau ke sini untuk menjalankan sebuah pekerjaan rahasia, Empu Clamit,” Sutowijoyo mengambil dua gelas anggur, yang satu diberikan pada Empu Clamit. “Aku ingin,” Sutowijoyo meneguk minumannya, tatapannya tajam ke depan. “Kau menulis sebuah kisah dongeng tentang istriku. Aku malu dituduh lelaki lemah. Ceritakan bahwa Roro, istriku, telah menjalani pertapaan berat di pantai selatan. Dia dipercaya oleh Dewa Laut untuk menjaga wilayah selatan. Ya, dia bergelar Nyai Roro Kidul. Tapi, ingat, tuliskan pula bahwa cinta antara aku dan dia abadi, dia datang ke istana kapan saja, menjaga istana dan kekuasaan Mataram. Roro tidak kabur, tapi dia menjalani tugas dewa. Buat rakyat ketakutan terhadap Nyai Roro Kidul, hingga tidak ada lagi kaum tani atau rakyat jelata memberontak terhadap raja. Jika ada rakyat yang melawan kerajaan, berarti dia melawan kekuatan maha dahsyat Nyai Roro Kidul.”

            “Itu mudah, tuanku.”

            “Bagus, ha-ha-ha.”

            Akhirnya, cerita Nyai Roro Kidul cepat menyebar ke penjuru jagad setelah Empu Clamit merampungkan naskahnya. Sutowijoyo bangga dengan kerja Empu Clamit. Selama Sutowijoyo berkuasa jadi raja, tak satu pun pemberontakan muncul, biarpun kemelaratan merajalela. Semua takut Nyai Roro Kidul akan mengutuk, merasuki, atau membununya sebagai tumbal karena berbuat kekacauan. Rakyat pun mengenal cinta sejati antara Sutowijoyo dan Nyai Roro Kidul, meskipun di dunia yang berlainan.

            Di tempat lain…

            Roro menyeka keringat di bawah caping lebar di tengah ladang. Dia berada di dusun jauh, masih bersama kaum tani, dan membela kaum tani.**

Sumber ilustrasi: theuncarvedblog.com.

Purwokerto, 29 Mei 2014

"Imajinasi Progresif"                               
Share: