Selasa, 31 Desember 2013

Menjelang Tahun Baru


  
:Mugianto
Bagaimana pula tahun akan berganti, sementara hati tertanam pada masa yang sudah-sudah. Hati yang dimakan rayap. Yang hancur dan malu terhadap masa depan. Suara terompet dan kembang api barangkali hanya akan menambah keroposnya jiwa. Bahkan ketika kematian diingat dan ditunggu, ia seperti lari bersama tahun yang akan lewat. Tak acuh. Malam ini, di bawah atap emperan ruko—hujan yang telah menghilang—Sami seakan tak percaya terhadap pikirannya sendiri.

Kehamilannya yang tua semakin menyesakkan dada. Ia ingin berbalik dan menghindari palang pintu pergantian tahun. Biarkan dirinya tinggal di tahun lalu tanpa pernah berambisi menghadirkan hidup lebih baik. Bukankah yang sosial itu telah mendepaknya di jalanan. Mencaci maki. Dan sengaja membiarkan dirinya menjadi sampah yang membusuk bersama daun yang terlewat di sapu petugas kebersihan jalan kabupaten. Kini, Sami menanggung hidup bagaikan kucing liar. Nama baiknya sirna. Apalagi martabatnya sebagai manusia!
Dulu dia dipuja keluarga dan tetangganya. Lantaran kerja di luar negeri dan memboyong uang banyak. Tetangga melongok, ada yang pasang muka, ada yang berebutan memberi salam, dengan maksud kecipratan ‘oleh-oleh’. Sami jadi buah bibir sosial. Di kampung Sami menebarkan biji-biji buah keberuntungan. Siapa saja yang pengin sukses dalam hidupnya mesti berkiblat kepada Sami. Berbondong-bondong istri yang kesal dengan penghasilan suaminya meminta petuah Sami: Bagaimana jadi buruh migran di luar negeri. Mereka ingin seperti Sami. Bisa beli tanah, bangun rumah, beli sawah dan mengirim kedua orang tua ke Mekkah.
Sami merasa mual bila menyaksikan sandiwara masa itu. Cepat-cepat kenangannya yang berkelindan di kuburnya. Meski kuburan kenanganya selalu hancur tanpa terjaga dengan baik.
Orang-orang lalu lalang menjelang tahun baru. Malam dengan sisa hujan sore. Terompet-terompet dibunyikan. Semua berarak menuju alun-alun kabupaten. Pemerintah akan membelanjakan uang rakyat untuk kesenangan percuma; pesta kembang api.
Sami meraba-raba bayi di perutnya. “Kau akan lahir. Menatap manusia. Tumbuh dan menetapkan masa depan. Barangkali kau satunya-satunya alasan aku masih hidup. Tuhan menitipkanmu kepadaku,” bisik Sami sembari menahan air matanya. “Kau harus hidup...! hidup…! hidup!” lanjutnya bercampur marah yang hanya sampai ditenggorokan.
Sebelum dia terusir dari rumahnya, kampungnya—delapan bulan lalu—sempat terpancar harapan akan membangun rumah tangga setelah kepulangan ketiga kalinya dari negeri timur tengah. Marja bakal mengawininya. Di antara pemuda yang berniat meminangnya, entah kenapa Marja yang dipilihnya. Seorang tukang ojek di pertigaan desa. Mungkin di antara pemuda yang ingin jadi suaminya, Marjalah yang terkesan baik. Lainnya, Sami menduga dan mengira, punya gelagat hanya akan memoroti hartanya.
Sayang malaikat turun ke bumi dan mengubah rencana atas perintah Tuhannya. Di petang di beranda rumah Marja, ketika Sami berusaha untuk jujur, justru kejujuran yang terucap menikam jiwanya.
            “Ja, kau,” Sami menahan ucapannya, “masihkan cinta dan berniat mengawiniku.”
            “Ya. Aku telah menunggumu begitu lama.”
            “Tapi..” kemudian Sami menelan kembali kata-kata yang ingin dikeluarkannya. Ia seperti menahan berat batu di mulutnya yang kecil. Kepalanya ditundukkan.
            “Ada apa Mi? Kau ragu, tidak percaya padaku. Kita jangan memendam sesuatu, katakanlah.”
            “Ja…” kali ini suara Sami terasa berat dan getar. “Maukah kau mengakui dan menerima anak majikanku yang tumbuh di rahimku kini.”
            “Apa! Oh tidak!” Marja bangkit dari duduknya. Berputar di hadapan Sami yang mulai meneteskan air mata. “Gugurkan saja! Gugurkan saja, Mi!” Marja memekik. Hingga dari dalam rumah terdengar ibunya menyahut, “ Ada apa Ja?” Marja segera menutupi, “Tak apa, bu.”
Sami menutup wajahnya. Di sekitarnya dirasa penuh petir menyambar-nyambar. Jiwanya tergoncang mendengarkan jawaban Marja. Tak disangka laki yang dipilihnya begitu bengis terhadap manusia. Kemudian Marja mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Sami. Mengancamnya;
            “Dengar Sami! Kau harus gugurkan anak haram itu. Aku tak ingin menanggung dosa dan cemoohan orang-orang. Jika kau masih menginginkan aku mengawinimu, segera keluarkan jabang bayi itu dari perutmu. Aku rasa ini kebaikanku padamu; bujang yang masih memberikan kesempatan pada perempuan yang ternoda.”
            “Tidak, Ja! Aku takkan melakukan itu. Kehadiran anak ini adalah titah Tuhan, meski bukan kemauanku. Apa yang patut disesalkan jika keadaan mendasak tanpa memberi pilihan,” Sami menatap Marja dalam-dalam. “Liang kemaluanku berjuang sekeras mungkin, seperti tubuhku bertahan dari kematian. Berjuang agar bisa menemuimu. Itu saja. Tapi, tampaknya semua sia-sia.”
Kegagalan perkawinan membuat separoh hidup Sami berantakan. Setelah semua orang tahu, keluarga tahu dan setan pun tahu, Sami hamil gelap, lengkap sudah kehancuran hidup Sami. Tidak ada lagi yang membicarakan harta bendanya dari luar negeri. Semua berkata-kata menghinakan bahkan mengutuk kebejatan Sami. Tanpa kecuali kedua orang tuanya lama-lama terhasut omongan tetangganya. Sami lalu diusir tanpa sepersen pun membawa harta bendanya. Kehormatan keluarga yang bertahun-tahun dibangunnya, sekarang menjadi racun dalam darahnya. Kehormatan pada akhirnya memiliki kakinya sendiri, perlu dijaga dan dijauhkan dari amoral.
Keramaian yang merayap-rayap di tiap jalanan kota semakin bertambah kala malam beranjak ke penghujung. Tua-muda sama saja. Mereka yang tua gembira maut belum menarik nyawanya, dan yang muda suka cita karena malam dimana ia dapat membawa teman perempuannya sepanjang malam. Sekalipun yang dinikmati adalah kemaluannya di bawah selimut ranjang hotel. Inilah pesta malam saat pergantian tahun. Semua menantikannya, sekedar berdecak melihat kembang api di langit. Dan, menaruh harapan di setiap percikan warna-warni kembang api tentang masa depan.
Sebaliknya Sami masih tetap selonjor di emperan ruko. Ia menolak terbawa hiruk-pikuk memburu masa depan. Jiwanya hilang gairah. Ia takut bermimpi untuk masa depan. Biarpun wajahnya masih cantik. Putih tanpa make up dan jerawat. Kantong susunya juga belum kendor-kendor amat. Lekuk tubuhnya dan pantatnya yang berisi masih menimbulkan nafsu bagi laki-laki yang kesetanan.
Setiap orang-orang yang lewat, mobil dan sepeda motor yang berbaris menunggu lampu hijau, diperhatikannya. Sami iri terhadap kebahagiaan mereka sekaligus dendam terhadap dirinya sendiri. Salah satu yang sanggup menghiburnya dan melupakan penderitaannya ialah isi di rahimnya. Andaikan Tuhan masih mendengar doanya, ia hanya berdoa untuk dia yang bakal terlahir nanti. Lidahnya terasa pahit jika harus menghamba untuk kebaikan dirinya. Sami anggap dirinya telah mati dan membusuk.
            “Tuhan, akuilah ini anakmu,” tiba-tiba Sami memohon, “tempatkan dia dalam kasih sayang-Mu, biarkan dia hidup dan belajar dari kehidupan yang kau ciptakan tanpa pernah sempurna ini. Dia adalah korban dari tata kehidupan manusia. Jangan Kau bebani dosa pada anak ini. Inilah doa terakhirku sebelum aku menemui-Mu.”
Sami mengelus perutnya. Suara terompet terdengar dimana-mana. Seperempat jam lagi tahun baru menyingsing.
            “Kau ingin terompet, Nak,” Sami menghibur dirinya dengan mengajak bicara bayi di perutnya, “Ayo cepat keluar. Lihat dunia. He-e.”
            Dari arah yang tidak diketahui, mendadak dua orang laki-laki sedang mabuk mendekatinya. Mereka tertawa-tawa, memegang pundak Sami dan menggoda kecantikannya. Sami merasa risih dan menyuruh dua laki-laki itu pergi. Tapi, semakin Sami meronta dan melawannya, semakin senang dua laki-laki itu menggodanya.
            “Mas, jangan ganggu saya, tolong pergi,” rintih Sami memohon.
            “Ah…masa wanita cantik mau ditinggal sendiri. Malam ini biar kita jadi kawan. He-he-he, “ rayu seorang yang mulutnya bau sekali anggur. Tangannya mengelus pipi Sami.
            “Saya sedang hamil. Tolong, pergi. Atau, kalian mau dilukai suamiku,” ancam Sami berbohong.
            Dua laki-laki malah tertawa terbahak-bahak. Gerilya tangannya semakin berani hingga sudah di atas gunung kembar Sami. Bergegas Sami mengibaskan tangan keduanya. Seorang yang memakai anting-anting di telinganya berkata kasar.
            “Hei, wanita jalang! Memang kau kira kita ini tolol. Dari tadi sejak kedatanganmu di sini sudah kita perhatikan. Mau berbohong kau bawa suami. Dasar perek murahan! Asu!”
            Disusul yang satunya lagi. Dia penuh berewok di mulutnya. Bau minuman keras dari mulutnya sangat menyengat. Sambil menjambak rambut Sami dia mengancam.
            “Kamu mau mampus di sini bersama anak di perutmu ini!”
Sami merinding, penuh ketakutan. Ia teringat bagaimana kasar majikannya dulu menindihnya. Memperkosanya. Beserta ancaman yang sama. Kali ini Sami menghadapi comberan yang sama.
            “Kamu diam saja, asu! Jika kau berteriak, ingat, kita bisa kirim kamu ke neraka.”
Janjilah yang mengingatkan Sami. Bahwa anak di perutnya akan hidup dan melihat dunia. Ia telah berdoa kepada Tuhan untuk anak ini. Akhirnya, Sami mengikuti kemauan dua bajingan jalanan itu. Dia dibawa ke belakang ruko. Di balik semak-semak, samping pembuangan sampah, dua laki-laki itu melucuti pakaian daster Sami. Keduanya sangat liar seperti kuda gila. Sami hanya memandangi langit, mencari bintang jantuh dan barangkali muka Tuhan menampakkan diri.
Setelah puas dengan kemaluan Sami, dua laki-laki itu meninggalkannya begitu saja. Sesaat kemudian Sami merasakan perutnya sangat sakit. Otot-otot di perutnya bergerak-gerak. Ia menahan nyeri di sekitar pinggulnya. Bayi di perutnya bergerak turun. Tanpa terasa atau tidak dirasa rasa sakit itu, bayinya telah di atas rumput. Ia tidak menangis. Sami melihat dia menggerakkan tangan dan kakinya. Ia hidup. Sami lemas tak berdaya. Ia menangis lagi. Mengingat anaknya lahir ketika kemaluannya belum sempat dibersihkan dari sperma dua laki-laki jahanam itu. Sami memandangi langit kembali, di atas sana penuh warna-warni kembang api; Tahun Baru telah tiba.**

Ilustrasi: ubenzer.com
            31-12-2013
Share:

0 comments:

Posting Komentar