Senin, 02 Desember 2013

Mayapada


 Bak kebisingan lebah-lebah membangun sarang. Di antara kesunyian hutan dan  desis angin yang meninggalkan lambaian daun. Karja merenung.  Sementara, ia sedang mengikuti proses wisuda di auditorium. Ayah dan ibunya mengampitnya, tampak pula bahagia. Anak sulungnya jadi sarjana, nanti kerja kantoran, bisa pegawai negeri atau swasta.
Karja lelap dalam bayang-bayangnya sendiri. Di podium Rektor yang pernah di demo Karja dan kawan-kawannya memberi sambutan. Dalam situasi gegap sukacita itu, Karja merasa dirinya ditarik cahaya Brahma ke hutan sunyi itu. Bunga Canna, Cherry Blossom, Bird of Paradise, Hydrangea, Calla Lily, Blue Bells, Lantana, Rose, menyambutnya. Ia dituntun capung dan diiringi tarian kupu-kupu Leopard Lacewing.
Sinar matahari yang keemasan menyinari hingga rongga-rongga hutan. Semua tampak berkilau. Karja mengikuti capung. Melintasi jalan setapak di antara pohon tropis yang segar dan hijau. Suara seruling di kejauhan terdengar lembut. Burung Rainbow Lorikeet terbang rendah mendekat sambil membawa rumput kering. Ia memberi salam kepada Karja. Lalu, melesap ke dalam rimbunan daun pohon Stagg.
Tak terasa Karja tiba di pinggir sungai. Airnya jernih seperti kaca. Ia bisa melihat wajahnya sendiri yang lesu. Yang tersisa hanya segumpal keraguan. Sorot matanya redup. Tiap helai rambutnya bergoyang dihempas angin. Karja melihat ikan berbaris mengitari batu berlumut. Kepiting yang malu-malu di balik cadas. Hamparan sungai seperti rambut Dewi Kali. Berkilau. Begitulah makhluk hidup terus disusui dan dihidupi.
Capung telah menghilang. Karja mencarinya ke penjuru arah. Bersamaan itu kupu-kupu pun sudah tiada. Kini Karja sendiri tak mengerti arah. Di tepi sungai Karja berpikir untuk menentukan pilihan. Karja memandang hutan gelap di seberang sungai. Terbesit niat untuk memasukinya. Ia menyangka capung dan kupu-kupu telah mendahuluinya.
Ketika hendak melangkahkan kaki di dalam air, Karja berbalik arah. Ia merasa dingin air yang menusuk tulang. Lebih dingin dari es. Selanjutnya, muncul kura-kura dari dalam air, membentaknya:
            “Manusia! Kau mati saja!”
Karja panik. Ia jatuh terduduk sedangkan kura-kura berjalan menghampirinya.
            “Bukankah kau seharusnya memasuki hutan itu!” lanjut kura-kura masih bernada tinggi.
            “Apa masalahku?” tanya Karja gemetar.
            “Ha..ha..ha..kau bahkan orang yang tidak mengenali dirimu sendiri. Tepat. Kau mati saja!” kura-kura mendelik di hadapan Karja.
            “Jaga omonganmu. Aku bisa lempar kau ke tengah sungai,” kali ini Karja balik mengancam.
            “O..tidak semudah itu manusia. Kau berpendidikan, sesaat lagi baptis kesarjanaanmu. Bukan aku yang akan membunuhmu, tapi keraguanmu. Aku hanya ingin memberitahumu di hutan gelap itu. Tidak seperti yang kau telah lewati tadi, di sana pertama-tama kau harus menjual tenagamu agar bisa hidup.”
            “Menjual tenaga? Kepada siapa?”
            “Ya. Raja hutan. Dia pemilik alat produksi. Untuk menjual tenaga, kau harus mencari informasi, membuat surat lamaran, berbasa-basi dan itu pun kau antri dulu. Soalnya banyak sekali manusia sepertimu yang akan menjual tenaganya. Jika kau dianggap cakap, penurut dan loyal, tenagamu cepat terjual. Namanya Raja, dia maunya untung sendiri. Dia hanya membayar tenagamu seperempatnya saja. Kau dikontrak. Jika kau menolak itu, kau menyingkir, dan diganti yang lain. Oleh karena itu, selalu disisakan tenaga cadangan atau pengangguran. Maka, jangan heran di sana sengaja dicipta kejahatan dan kemiskinan. Raja juga diuntung dengan adanya bandit-bandit karena bisa disewa nantinya untuk menghajar pemogok.”
            “Makanya aku akan jadi pejuang dan pembela yang tertindas.”
       “Ha..ha..ha..perkataanmu itu akan ditertawakan di sana. Alam yang telah kau lewati berbeda dengan alam yang akan kau lewati. Ingat, kau adalah harapan orang-orang terdekatmu. Di sana kau akan melihat ayahmu yang menua dan ambruk. Ibumu pun demikian. Kalau mereka tiada jaminan pensiun tentu moralmu yang akan menolongnya. Belum lagi tetanggamu tidak pernah maksud perkataanmu itu. Mereka di pagi, sore, dan malam akan mengintip keberhasilanmu. Ya, keberhasilanmu mencari tempat menjual tenaga dan mengumpulkan kekayaan. Pemuka agama hanya akan melihat seberapa sering kau datang ke masjid atau mengikuti tahlil. Jika amalan ibadahmu nol, paling banter kau dianggap kafir, padahal kau ini sarjana terdidik.”
            “Aku tahu itu. Tapi, merubah keadaan di sana, apakah bukan suatu keniscayaan?”
         “Kelompok-kelompok di sana bicara merubah keadaan. Perubahan dan perubahan. Persis seperti kompetisi atau perlombaan memperjuangkan peradaban. Andai saja ada modal, aku ingin membuat sirkus perlombaan memperjuangkan orang-orang tertindas, ha..ha..ha,” kura-kura tertawa sendiri. “Sudahlah manusia. Aku akan pergi kawin dulu. Betinaku takut gelojotan.”
            “Tunggu dulu!” sergah Karja.
            “Apalagi?!”
            “Apakah dinginnya sungai ini bisa dilewati?”
            “Pertanyaan bodoh,” bergegas dan cepat kura-kura masuk sungai. Ia membiarkan Karja sendiri yang merasa heran.
            Seketika layar gelap terkembang menyelimuti rodasi. Andromeda, Apus, Columba, Corvus, Cygnus, Delphinus dan Pegasus muncul memahkotai Brahma. Jagad Gauri seperti bermandikan pernak-pernik permata. Karja terperangah, kagum dan takjub menyaksikan perubahan alam itu. Lulin bergerak cepat jatuh di kaki langit.
            Jangkrik nembang dari sela-sela rerumputan. Kunang-kunang bermain lampu di atas sungai. Di dalam hutan gelap itu, Karja melihat sorot lampu minyak. Karja yakin itu manusia yang sedang berjalan ke arahnya. Ya, ia semakin mewujudkan diri seorang manusia. Lelaki yang tampan bersinar. Ia duduk di atas kuda bersayap. Tangan kanannya mendekap sebuah buku. Ketika hendak melintasi sungai, kuda itu terbang, dan mendarat persis di hadapan Karja. Lelaki itu berkata:
            “Apa sikapmu?”
            “Sikap?”
            “Ya. Apa sikapmu?”
Kuda itu mengangkat kakinya tepat di atas kepala Karja. Ia seperti akan menyerang Karja. Lagi-lagi Karja menghadapi sesuatu yang aneh dan mengancam kehidupannya.
            “Tidak ada,” jawab Karja pasrah.
            “Pongah. Kau telah memakan buah pengetahuan selama empat tahun lebih lamanya. Kini, kau seenaknya menjawab tidak tahu.”
            “Kau sendiri kenapa kembali ke sini?” Karja balik bertanya.
        “Aku seorang Rsi. Intelektual. Pencipta ide. Adakalanya aku menguji ide dan menyusunnya kembali di hutan pengetahuan yang indah ini.”
            “Kau takut hidup di sana?”
           “Ha..ha..sudah kuduga. Ya, kau bisa mengecam begitu. Memang, aku masih menginginkan hidup di hutan yang ilusif dan indah ini. Menghabiskan waktu meminum kopi sambil melihat bidadari. Melayang menembus khayangan, galaksi, bahkan nirwana bersama aksara-aksara: semiotika, liberalisme, komunisme, anarkhisme, kritisisme, eksistensialisme, dekonstruksi bahkan nihilisme, yang terkadang melupakan apa yang kita injak.”
            “Lantas, kenapa kau mengorek sikapku?”
            “Tak apa. Aku hanya melihatmu sangatlah pesimis.”
            “Mungkin aku skeptis.”
            “Skeptis berlebihan itu plin-plan.”
Karja merasa tidak simpatik bercakap dengan lelaki itu. Ia terlalu banyak menggurui. Menuduh. Merasa paling tahu. Dan, terkesan sombong saat berkata dengan bangganya:
            “Aku ini praktek sosialnya juga konkrit. Peduli sesama dan membela yang tertindas. Aku bangun sekolah dan perpustakaan di tempat terpencil.”
            “Luar biasa.”
Rodasi terus berputar. Kebaikan demi kebaikan manusia ceritakan. Karja memandang Pegasus yang berkilau di langit. Ia berpikir, semua orang subtansinya baik, hingga orang baik kadangkala juga menghancurkan orang baik. Rasa sosial mengintimidasi rasa sosial lain. Karena politik adalah unsur dasar relasi sosial. Jadi, Karja tidak heran dengan sikap lelaki itu.
            “Hei! Jangan diam. Kau ini pasti tidak konkrit,” ujar lelaki itu bernada menuduh.
            “Konkrit tidak konkrit bukan patut dituduhkan. Kau orang baik, tapi kau tidak beda dengan agamawan yang sangat mudah menuduh orang kafir. Aku hanya anggap kau ini sedang berpolitik murahan saja,” Karja berpaling sebagai tanda percakapan lebih baik diakhiri. Rupanya lelaki itu paham bahasa tubuh Karja. Segera saja, lelaki itu menyuruh kuda bersayapnya untuk terbang, tanpa sepatah kata pun ditinggalkan.
            Alam seperti lembar-lembar buku yang tertiup angin. Terlalu banyak catatan yang sukar untuk dimengerti. Karja menggosok telapak tangannya sambil berusaha melupakan seluruh catatan alam hutan pengetahuan yang indah dan memabukkan. Ia akan mempelajari sendiri catatan di hutan gelap itu.
            Karja beringsut menuju tepian air sungai. Telapak kakinya perlahan menempel ke permukaan air. Ia merasa masih begitu dingin. Ia mundur selangkah lalu mencobanya kembali. Kali ini ia memutuskan untuk maju berjalan. Byurr. Kedua kakinya terendam. Karja mengigit bibir merasa dingin merambat sekujur tubuhnya. Ia melangkah memecah air menuju hutan gelap itu.
            Karja akan memulai perhelatan peradaban. Ia adalah pelaku dan penulis di luar ilusi hutan pengetahuan. Karja lenyap dalam kegelapan hutan.
            “Ja!”
Mayapada luntur. Karja membelalak. Ibunya mencubit pinggangnya.
            “Maju Ja!”
Kini giliran Karja untuk maju ke depan menerima ijazah, pemindahan tali ke kanan dan jabat tangan terimakasih.  
            “Selamat Karja, jadi orang sukses,” pesan Rektor.
            “Asu.”**
 
Ilustrasi: resimler.tv
1-12-2013






           
           


Share:

0 comments:

Posting Komentar