Kamis, 05 Desember 2013

Dari Luar Negeri

  --Untuk Hari Depan Demokrasi

Parni pulang dari luar negeri
tetangga melongok, kasih salam dan melirik kantong kresek.
Menyelidiki barangkali diberi ‘oleh-oleh’.
Parni tersenyum kecut, meraba-raba dadanya:
susunya bengkak dihajar majikan arab.

Nasibnya di luar negeri, kini
 ditutupinya rapat-rapat,
di bawah pandang tetangganya.

“Sukses di luar negeri, bawa uang banyak,” ujar tetangganya.
Parni menahan dadanya, menelan jilatan api keluar dari mulutnya.
Ibunya mengelus rambutnya,
bersambut gemerincing gelang emasnya di tangan.
Parni panik dan ngilu saat tahu
kandungan gelang emas ibunya:
Sperma majikannya.
Darah perawannya.
Yang menyatu di malam pertama dirinya diperkosa, dan
tahu hidupnya dikorbankan oleh negara.

Parni, buruh migran menderita
menjadi sesajen klenik rezim
yang percaya uang seribu menjadi seratus ribu
asal bokong rakyatnya laku di luar negeri
dan, sumber alamnya dilepas seperti layang-layang putus.

Parni yang lelah
hilang gairah dan kehormatan
gara-gara tergiur nikmatnya gaji
di tanah arab.

Oh, Rasul, Parni mengadu
negerimu adalah sarang budak
negeriku adalah pasar budak
sama-sama tahu budak
sama-sama menelan keringat budak.

Purwokerto, 23 Juni 2013

Share:

0 comments:

Posting Komentar