Selasa, 31 Desember 2013

Menjelang Tahun Baru


  
:Mugianto
Bagaimana pula tahun akan berganti, sementara hati tertanam pada masa yang sudah-sudah. Hati yang dimakan rayap. Yang hancur dan malu terhadap masa depan. Suara terompet dan kembang api barangkali hanya akan menambah keroposnya jiwa. Bahkan ketika kematian diingat dan ditunggu, ia seperti lari bersama tahun yang akan lewat. Tak acuh. Malam ini, di bawah atap emperan ruko—hujan yang telah menghilang—Sami seakan tak percaya terhadap pikirannya sendiri.

Kehamilannya yang tua semakin menyesakkan dada. Ia ingin berbalik dan menghindari palang pintu pergantian tahun. Biarkan dirinya tinggal di tahun lalu tanpa pernah berambisi menghadirkan hidup lebih baik. Bukankah yang sosial itu telah mendepaknya di jalanan. Mencaci maki. Dan sengaja membiarkan dirinya menjadi sampah yang membusuk bersama daun yang terlewat di sapu petugas kebersihan jalan kabupaten. Kini, Sami menanggung hidup bagaikan kucing liar. Nama baiknya sirna. Apalagi martabatnya sebagai manusia!
Dulu dia dipuja keluarga dan tetangganya. Lantaran kerja di luar negeri dan memboyong uang banyak. Tetangga melongok, ada yang pasang muka, ada yang berebutan memberi salam, dengan maksud kecipratan ‘oleh-oleh’. Sami jadi buah bibir sosial. Di kampung Sami menebarkan biji-biji buah keberuntungan. Siapa saja yang pengin sukses dalam hidupnya mesti berkiblat kepada Sami. Berbondong-bondong istri yang kesal dengan penghasilan suaminya meminta petuah Sami: Bagaimana jadi buruh migran di luar negeri. Mereka ingin seperti Sami. Bisa beli tanah, bangun rumah, beli sawah dan mengirim kedua orang tua ke Mekkah.
Sami merasa mual bila menyaksikan sandiwara masa itu. Cepat-cepat kenangannya yang berkelindan di kuburnya. Meski kuburan kenanganya selalu hancur tanpa terjaga dengan baik.
Orang-orang lalu lalang menjelang tahun baru. Malam dengan sisa hujan sore. Terompet-terompet dibunyikan. Semua berarak menuju alun-alun kabupaten. Pemerintah akan membelanjakan uang rakyat untuk kesenangan percuma; pesta kembang api.
Sami meraba-raba bayi di perutnya. “Kau akan lahir. Menatap manusia. Tumbuh dan menetapkan masa depan. Barangkali kau satunya-satunya alasan aku masih hidup. Tuhan menitipkanmu kepadaku,” bisik Sami sembari menahan air matanya. “Kau harus hidup...! hidup…! hidup!” lanjutnya bercampur marah yang hanya sampai ditenggorokan.
Sebelum dia terusir dari rumahnya, kampungnya—delapan bulan lalu—sempat terpancar harapan akan membangun rumah tangga setelah kepulangan ketiga kalinya dari negeri timur tengah. Marja bakal mengawininya. Di antara pemuda yang berniat meminangnya, entah kenapa Marja yang dipilihnya. Seorang tukang ojek di pertigaan desa. Mungkin di antara pemuda yang ingin jadi suaminya, Marjalah yang terkesan baik. Lainnya, Sami menduga dan mengira, punya gelagat hanya akan memoroti hartanya.
Sayang malaikat turun ke bumi dan mengubah rencana atas perintah Tuhannya. Di petang di beranda rumah Marja, ketika Sami berusaha untuk jujur, justru kejujuran yang terucap menikam jiwanya.
            “Ja, kau,” Sami menahan ucapannya, “masihkan cinta dan berniat mengawiniku.”
            “Ya. Aku telah menunggumu begitu lama.”
            “Tapi..” kemudian Sami menelan kembali kata-kata yang ingin dikeluarkannya. Ia seperti menahan berat batu di mulutnya yang kecil. Kepalanya ditundukkan.
            “Ada apa Mi? Kau ragu, tidak percaya padaku. Kita jangan memendam sesuatu, katakanlah.”
            “Ja…” kali ini suara Sami terasa berat dan getar. “Maukah kau mengakui dan menerima anak majikanku yang tumbuh di rahimku kini.”
            “Apa! Oh tidak!” Marja bangkit dari duduknya. Berputar di hadapan Sami yang mulai meneteskan air mata. “Gugurkan saja! Gugurkan saja, Mi!” Marja memekik. Hingga dari dalam rumah terdengar ibunya menyahut, “ Ada apa Ja?” Marja segera menutupi, “Tak apa, bu.”
Sami menutup wajahnya. Di sekitarnya dirasa penuh petir menyambar-nyambar. Jiwanya tergoncang mendengarkan jawaban Marja. Tak disangka laki yang dipilihnya begitu bengis terhadap manusia. Kemudian Marja mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Sami. Mengancamnya;
            “Dengar Sami! Kau harus gugurkan anak haram itu. Aku tak ingin menanggung dosa dan cemoohan orang-orang. Jika kau masih menginginkan aku mengawinimu, segera keluarkan jabang bayi itu dari perutmu. Aku rasa ini kebaikanku padamu; bujang yang masih memberikan kesempatan pada perempuan yang ternoda.”
            “Tidak, Ja! Aku takkan melakukan itu. Kehadiran anak ini adalah titah Tuhan, meski bukan kemauanku. Apa yang patut disesalkan jika keadaan mendasak tanpa memberi pilihan,” Sami menatap Marja dalam-dalam. “Liang kemaluanku berjuang sekeras mungkin, seperti tubuhku bertahan dari kematian. Berjuang agar bisa menemuimu. Itu saja. Tapi, tampaknya semua sia-sia.”
Kegagalan perkawinan membuat separoh hidup Sami berantakan. Setelah semua orang tahu, keluarga tahu dan setan pun tahu, Sami hamil gelap, lengkap sudah kehancuran hidup Sami. Tidak ada lagi yang membicarakan harta bendanya dari luar negeri. Semua berkata-kata menghinakan bahkan mengutuk kebejatan Sami. Tanpa kecuali kedua orang tuanya lama-lama terhasut omongan tetangganya. Sami lalu diusir tanpa sepersen pun membawa harta bendanya. Kehormatan keluarga yang bertahun-tahun dibangunnya, sekarang menjadi racun dalam darahnya. Kehormatan pada akhirnya memiliki kakinya sendiri, perlu dijaga dan dijauhkan dari amoral.
Keramaian yang merayap-rayap di tiap jalanan kota semakin bertambah kala malam beranjak ke penghujung. Tua-muda sama saja. Mereka yang tua gembira maut belum menarik nyawanya, dan yang muda suka cita karena malam dimana ia dapat membawa teman perempuannya sepanjang malam. Sekalipun yang dinikmati adalah kemaluannya di bawah selimut ranjang hotel. Inilah pesta malam saat pergantian tahun. Semua menantikannya, sekedar berdecak melihat kembang api di langit. Dan, menaruh harapan di setiap percikan warna-warni kembang api tentang masa depan.
Sebaliknya Sami masih tetap selonjor di emperan ruko. Ia menolak terbawa hiruk-pikuk memburu masa depan. Jiwanya hilang gairah. Ia takut bermimpi untuk masa depan. Biarpun wajahnya masih cantik. Putih tanpa make up dan jerawat. Kantong susunya juga belum kendor-kendor amat. Lekuk tubuhnya dan pantatnya yang berisi masih menimbulkan nafsu bagi laki-laki yang kesetanan.
Setiap orang-orang yang lewat, mobil dan sepeda motor yang berbaris menunggu lampu hijau, diperhatikannya. Sami iri terhadap kebahagiaan mereka sekaligus dendam terhadap dirinya sendiri. Salah satu yang sanggup menghiburnya dan melupakan penderitaannya ialah isi di rahimnya. Andaikan Tuhan masih mendengar doanya, ia hanya berdoa untuk dia yang bakal terlahir nanti. Lidahnya terasa pahit jika harus menghamba untuk kebaikan dirinya. Sami anggap dirinya telah mati dan membusuk.
            “Tuhan, akuilah ini anakmu,” tiba-tiba Sami memohon, “tempatkan dia dalam kasih sayang-Mu, biarkan dia hidup dan belajar dari kehidupan yang kau ciptakan tanpa pernah sempurna ini. Dia adalah korban dari tata kehidupan manusia. Jangan Kau bebani dosa pada anak ini. Inilah doa terakhirku sebelum aku menemui-Mu.”
Sami mengelus perutnya. Suara terompet terdengar dimana-mana. Seperempat jam lagi tahun baru menyingsing.
            “Kau ingin terompet, Nak,” Sami menghibur dirinya dengan mengajak bicara bayi di perutnya, “Ayo cepat keluar. Lihat dunia. He-e.”
            Dari arah yang tidak diketahui, mendadak dua orang laki-laki sedang mabuk mendekatinya. Mereka tertawa-tawa, memegang pundak Sami dan menggoda kecantikannya. Sami merasa risih dan menyuruh dua laki-laki itu pergi. Tapi, semakin Sami meronta dan melawannya, semakin senang dua laki-laki itu menggodanya.
            “Mas, jangan ganggu saya, tolong pergi,” rintih Sami memohon.
            “Ah…masa wanita cantik mau ditinggal sendiri. Malam ini biar kita jadi kawan. He-he-he, “ rayu seorang yang mulutnya bau sekali anggur. Tangannya mengelus pipi Sami.
            “Saya sedang hamil. Tolong, pergi. Atau, kalian mau dilukai suamiku,” ancam Sami berbohong.
            Dua laki-laki malah tertawa terbahak-bahak. Gerilya tangannya semakin berani hingga sudah di atas gunung kembar Sami. Bergegas Sami mengibaskan tangan keduanya. Seorang yang memakai anting-anting di telinganya berkata kasar.
            “Hei, wanita jalang! Memang kau kira kita ini tolol. Dari tadi sejak kedatanganmu di sini sudah kita perhatikan. Mau berbohong kau bawa suami. Dasar perek murahan! Asu!”
            Disusul yang satunya lagi. Dia penuh berewok di mulutnya. Bau minuman keras dari mulutnya sangat menyengat. Sambil menjambak rambut Sami dia mengancam.
            “Kamu mau mampus di sini bersama anak di perutmu ini!”
Sami merinding, penuh ketakutan. Ia teringat bagaimana kasar majikannya dulu menindihnya. Memperkosanya. Beserta ancaman yang sama. Kali ini Sami menghadapi comberan yang sama.
            “Kamu diam saja, asu! Jika kau berteriak, ingat, kita bisa kirim kamu ke neraka.”
Janjilah yang mengingatkan Sami. Bahwa anak di perutnya akan hidup dan melihat dunia. Ia telah berdoa kepada Tuhan untuk anak ini. Akhirnya, Sami mengikuti kemauan dua bajingan jalanan itu. Dia dibawa ke belakang ruko. Di balik semak-semak, samping pembuangan sampah, dua laki-laki itu melucuti pakaian daster Sami. Keduanya sangat liar seperti kuda gila. Sami hanya memandangi langit, mencari bintang jantuh dan barangkali muka Tuhan menampakkan diri.
Setelah puas dengan kemaluan Sami, dua laki-laki itu meninggalkannya begitu saja. Sesaat kemudian Sami merasakan perutnya sangat sakit. Otot-otot di perutnya bergerak-gerak. Ia menahan nyeri di sekitar pinggulnya. Bayi di perutnya bergerak turun. Tanpa terasa atau tidak dirasa rasa sakit itu, bayinya telah di atas rumput. Ia tidak menangis. Sami melihat dia menggerakkan tangan dan kakinya. Ia hidup. Sami lemas tak berdaya. Ia menangis lagi. Mengingat anaknya lahir ketika kemaluannya belum sempat dibersihkan dari sperma dua laki-laki jahanam itu. Sami memandangi langit kembali, di atas sana penuh warna-warni kembang api; Tahun Baru telah tiba.**

Ilustrasi: ubenzer.com
            31-12-2013
Share:

Kamis, 05 Desember 2013

Dari Luar Negeri

  --Untuk Hari Depan Demokrasi

Parni pulang dari luar negeri
tetangga melongok, kasih salam dan melirik kantong kresek.
Menyelidiki barangkali diberi ‘oleh-oleh’.
Parni tersenyum kecut, meraba-raba dadanya:
susunya bengkak dihajar majikan arab.

Nasibnya di luar negeri, kini
 ditutupinya rapat-rapat,
di bawah pandang tetangganya.

“Sukses di luar negeri, bawa uang banyak,” ujar tetangganya.
Parni menahan dadanya, menelan jilatan api keluar dari mulutnya.
Ibunya mengelus rambutnya,
bersambut gemerincing gelang emasnya di tangan.
Parni panik dan ngilu saat tahu
kandungan gelang emas ibunya:
Sperma majikannya.
Darah perawannya.
Yang menyatu di malam pertama dirinya diperkosa, dan
tahu hidupnya dikorbankan oleh negara.

Parni, buruh migran menderita
menjadi sesajen klenik rezim
yang percaya uang seribu menjadi seratus ribu
asal bokong rakyatnya laku di luar negeri
dan, sumber alamnya dilepas seperti layang-layang putus.

Parni yang lelah
hilang gairah dan kehormatan
gara-gara tergiur nikmatnya gaji
di tanah arab.

Oh, Rasul, Parni mengadu
negerimu adalah sarang budak
negeriku adalah pasar budak
sama-sama tahu budak
sama-sama menelan keringat budak.

Purwokerto, 23 Juni 2013

Share:

Senin, 02 Desember 2013

Mayapada


 Bak kebisingan lebah-lebah membangun sarang. Di antara kesunyian hutan dan  desis angin yang meninggalkan lambaian daun. Karja merenung.  Sementara, ia sedang mengikuti proses wisuda di auditorium. Ayah dan ibunya mengampitnya, tampak pula bahagia. Anak sulungnya jadi sarjana, nanti kerja kantoran, bisa pegawai negeri atau swasta.
Karja lelap dalam bayang-bayangnya sendiri. Di podium Rektor yang pernah di demo Karja dan kawan-kawannya memberi sambutan. Dalam situasi gegap sukacita itu, Karja merasa dirinya ditarik cahaya Brahma ke hutan sunyi itu. Bunga Canna, Cherry Blossom, Bird of Paradise, Hydrangea, Calla Lily, Blue Bells, Lantana, Rose, menyambutnya. Ia dituntun capung dan diiringi tarian kupu-kupu Leopard Lacewing.
Sinar matahari yang keemasan menyinari hingga rongga-rongga hutan. Semua tampak berkilau. Karja mengikuti capung. Melintasi jalan setapak di antara pohon tropis yang segar dan hijau. Suara seruling di kejauhan terdengar lembut. Burung Rainbow Lorikeet terbang rendah mendekat sambil membawa rumput kering. Ia memberi salam kepada Karja. Lalu, melesap ke dalam rimbunan daun pohon Stagg.
Tak terasa Karja tiba di pinggir sungai. Airnya jernih seperti kaca. Ia bisa melihat wajahnya sendiri yang lesu. Yang tersisa hanya segumpal keraguan. Sorot matanya redup. Tiap helai rambutnya bergoyang dihempas angin. Karja melihat ikan berbaris mengitari batu berlumut. Kepiting yang malu-malu di balik cadas. Hamparan sungai seperti rambut Dewi Kali. Berkilau. Begitulah makhluk hidup terus disusui dan dihidupi.
Capung telah menghilang. Karja mencarinya ke penjuru arah. Bersamaan itu kupu-kupu pun sudah tiada. Kini Karja sendiri tak mengerti arah. Di tepi sungai Karja berpikir untuk menentukan pilihan. Karja memandang hutan gelap di seberang sungai. Terbesit niat untuk memasukinya. Ia menyangka capung dan kupu-kupu telah mendahuluinya.
Ketika hendak melangkahkan kaki di dalam air, Karja berbalik arah. Ia merasa dingin air yang menusuk tulang. Lebih dingin dari es. Selanjutnya, muncul kura-kura dari dalam air, membentaknya:
            “Manusia! Kau mati saja!”
Karja panik. Ia jatuh terduduk sedangkan kura-kura berjalan menghampirinya.
            “Bukankah kau seharusnya memasuki hutan itu!” lanjut kura-kura masih bernada tinggi.
            “Apa masalahku?” tanya Karja gemetar.
            “Ha..ha..ha..kau bahkan orang yang tidak mengenali dirimu sendiri. Tepat. Kau mati saja!” kura-kura mendelik di hadapan Karja.
            “Jaga omonganmu. Aku bisa lempar kau ke tengah sungai,” kali ini Karja balik mengancam.
            “O..tidak semudah itu manusia. Kau berpendidikan, sesaat lagi baptis kesarjanaanmu. Bukan aku yang akan membunuhmu, tapi keraguanmu. Aku hanya ingin memberitahumu di hutan gelap itu. Tidak seperti yang kau telah lewati tadi, di sana pertama-tama kau harus menjual tenagamu agar bisa hidup.”
            “Menjual tenaga? Kepada siapa?”
            “Ya. Raja hutan. Dia pemilik alat produksi. Untuk menjual tenaga, kau harus mencari informasi, membuat surat lamaran, berbasa-basi dan itu pun kau antri dulu. Soalnya banyak sekali manusia sepertimu yang akan menjual tenaganya. Jika kau dianggap cakap, penurut dan loyal, tenagamu cepat terjual. Namanya Raja, dia maunya untung sendiri. Dia hanya membayar tenagamu seperempatnya saja. Kau dikontrak. Jika kau menolak itu, kau menyingkir, dan diganti yang lain. Oleh karena itu, selalu disisakan tenaga cadangan atau pengangguran. Maka, jangan heran di sana sengaja dicipta kejahatan dan kemiskinan. Raja juga diuntung dengan adanya bandit-bandit karena bisa disewa nantinya untuk menghajar pemogok.”
            “Makanya aku akan jadi pejuang dan pembela yang tertindas.”
       “Ha..ha..ha..perkataanmu itu akan ditertawakan di sana. Alam yang telah kau lewati berbeda dengan alam yang akan kau lewati. Ingat, kau adalah harapan orang-orang terdekatmu. Di sana kau akan melihat ayahmu yang menua dan ambruk. Ibumu pun demikian. Kalau mereka tiada jaminan pensiun tentu moralmu yang akan menolongnya. Belum lagi tetanggamu tidak pernah maksud perkataanmu itu. Mereka di pagi, sore, dan malam akan mengintip keberhasilanmu. Ya, keberhasilanmu mencari tempat menjual tenaga dan mengumpulkan kekayaan. Pemuka agama hanya akan melihat seberapa sering kau datang ke masjid atau mengikuti tahlil. Jika amalan ibadahmu nol, paling banter kau dianggap kafir, padahal kau ini sarjana terdidik.”
            “Aku tahu itu. Tapi, merubah keadaan di sana, apakah bukan suatu keniscayaan?”
         “Kelompok-kelompok di sana bicara merubah keadaan. Perubahan dan perubahan. Persis seperti kompetisi atau perlombaan memperjuangkan peradaban. Andai saja ada modal, aku ingin membuat sirkus perlombaan memperjuangkan orang-orang tertindas, ha..ha..ha,” kura-kura tertawa sendiri. “Sudahlah manusia. Aku akan pergi kawin dulu. Betinaku takut gelojotan.”
            “Tunggu dulu!” sergah Karja.
            “Apalagi?!”
            “Apakah dinginnya sungai ini bisa dilewati?”
            “Pertanyaan bodoh,” bergegas dan cepat kura-kura masuk sungai. Ia membiarkan Karja sendiri yang merasa heran.
            Seketika layar gelap terkembang menyelimuti rodasi. Andromeda, Apus, Columba, Corvus, Cygnus, Delphinus dan Pegasus muncul memahkotai Brahma. Jagad Gauri seperti bermandikan pernak-pernik permata. Karja terperangah, kagum dan takjub menyaksikan perubahan alam itu. Lulin bergerak cepat jatuh di kaki langit.
            Jangkrik nembang dari sela-sela rerumputan. Kunang-kunang bermain lampu di atas sungai. Di dalam hutan gelap itu, Karja melihat sorot lampu minyak. Karja yakin itu manusia yang sedang berjalan ke arahnya. Ya, ia semakin mewujudkan diri seorang manusia. Lelaki yang tampan bersinar. Ia duduk di atas kuda bersayap. Tangan kanannya mendekap sebuah buku. Ketika hendak melintasi sungai, kuda itu terbang, dan mendarat persis di hadapan Karja. Lelaki itu berkata:
            “Apa sikapmu?”
            “Sikap?”
            “Ya. Apa sikapmu?”
Kuda itu mengangkat kakinya tepat di atas kepala Karja. Ia seperti akan menyerang Karja. Lagi-lagi Karja menghadapi sesuatu yang aneh dan mengancam kehidupannya.
            “Tidak ada,” jawab Karja pasrah.
            “Pongah. Kau telah memakan buah pengetahuan selama empat tahun lebih lamanya. Kini, kau seenaknya menjawab tidak tahu.”
            “Kau sendiri kenapa kembali ke sini?” Karja balik bertanya.
        “Aku seorang Rsi. Intelektual. Pencipta ide. Adakalanya aku menguji ide dan menyusunnya kembali di hutan pengetahuan yang indah ini.”
            “Kau takut hidup di sana?”
           “Ha..ha..sudah kuduga. Ya, kau bisa mengecam begitu. Memang, aku masih menginginkan hidup di hutan yang ilusif dan indah ini. Menghabiskan waktu meminum kopi sambil melihat bidadari. Melayang menembus khayangan, galaksi, bahkan nirwana bersama aksara-aksara: semiotika, liberalisme, komunisme, anarkhisme, kritisisme, eksistensialisme, dekonstruksi bahkan nihilisme, yang terkadang melupakan apa yang kita injak.”
            “Lantas, kenapa kau mengorek sikapku?”
            “Tak apa. Aku hanya melihatmu sangatlah pesimis.”
            “Mungkin aku skeptis.”
            “Skeptis berlebihan itu plin-plan.”
Karja merasa tidak simpatik bercakap dengan lelaki itu. Ia terlalu banyak menggurui. Menuduh. Merasa paling tahu. Dan, terkesan sombong saat berkata dengan bangganya:
            “Aku ini praktek sosialnya juga konkrit. Peduli sesama dan membela yang tertindas. Aku bangun sekolah dan perpustakaan di tempat terpencil.”
            “Luar biasa.”
Rodasi terus berputar. Kebaikan demi kebaikan manusia ceritakan. Karja memandang Pegasus yang berkilau di langit. Ia berpikir, semua orang subtansinya baik, hingga orang baik kadangkala juga menghancurkan orang baik. Rasa sosial mengintimidasi rasa sosial lain. Karena politik adalah unsur dasar relasi sosial. Jadi, Karja tidak heran dengan sikap lelaki itu.
            “Hei! Jangan diam. Kau ini pasti tidak konkrit,” ujar lelaki itu bernada menuduh.
            “Konkrit tidak konkrit bukan patut dituduhkan. Kau orang baik, tapi kau tidak beda dengan agamawan yang sangat mudah menuduh orang kafir. Aku hanya anggap kau ini sedang berpolitik murahan saja,” Karja berpaling sebagai tanda percakapan lebih baik diakhiri. Rupanya lelaki itu paham bahasa tubuh Karja. Segera saja, lelaki itu menyuruh kuda bersayapnya untuk terbang, tanpa sepatah kata pun ditinggalkan.
            Alam seperti lembar-lembar buku yang tertiup angin. Terlalu banyak catatan yang sukar untuk dimengerti. Karja menggosok telapak tangannya sambil berusaha melupakan seluruh catatan alam hutan pengetahuan yang indah dan memabukkan. Ia akan mempelajari sendiri catatan di hutan gelap itu.
            Karja beringsut menuju tepian air sungai. Telapak kakinya perlahan menempel ke permukaan air. Ia merasa masih begitu dingin. Ia mundur selangkah lalu mencobanya kembali. Kali ini ia memutuskan untuk maju berjalan. Byurr. Kedua kakinya terendam. Karja mengigit bibir merasa dingin merambat sekujur tubuhnya. Ia melangkah memecah air menuju hutan gelap itu.
            Karja akan memulai perhelatan peradaban. Ia adalah pelaku dan penulis di luar ilusi hutan pengetahuan. Karja lenyap dalam kegelapan hutan.
            “Ja!”
Mayapada luntur. Karja membelalak. Ibunya mencubit pinggangnya.
            “Maju Ja!”
Kini giliran Karja untuk maju ke depan menerima ijazah, pemindahan tali ke kanan dan jabat tangan terimakasih.  
            “Selamat Karja, jadi orang sukses,” pesan Rektor.
            “Asu.”**
 
Ilustrasi: resimler.tv
1-12-2013






           
           


Share:

Minggu, 01 Desember 2013

Materi Kuliah Teori Pemberdayaan Masyarakat

Bagaimana teori-teori pemberdayaan masyarakat? Aduh, kalau suka bolos kuliah pasti bingung..Enjoy, kalian bolos kuliah boleh asal untuk hal yang produktif, misalnya aksi massa...hehe, Lalu, bagimana dengan materi ujiannya? Sekali lagi enjoy, kawan-kawan masih tetap memiliki materi teori pemberdayaan masyarakat yang lengkap. Silahkan kawan-kawan SRUPUT saja di sini.. Semoga bermanfaat..kalau butuh materi yang lain silahkan request, jika saya punya langsung share..
Share:

Materi Kuliah Sos. Agama

Bagaimana sosiologi memandang agama? Tentu pertanyaan ini akan jadi masalah buat kawan-kawan yang jarang kuliah..hehe, tapi jangan kuatir, ilmu bagaimanapun bisa didapatkan dan itu harus gratis. Kawan-kawan tetap enjoy untuk beraktivitas, terutama berorganisasi dan berjuang, sedangkan ujian? Materi tinggal SRUPUT aja di sini.. Semoga bermanfaat. Untuk kebutuhan materi yang lain silahkan request saja, kalau saya punya nanti share... Wujudkan Pendidikan Gratis!
Share:

Materi Kuliah Sos.Pendidikan

Bingung cari materi sosiologi pendidikan? Ujian padahal besok? Lalu, kamu gak paham pandangan sosiologi terhadap pendidikan, ideologi-ideologinya, tokoh-tokohnya? Enjoy...Silahkan, kawan-kawan bisa download materi kuliah sosiologi pendidikan. Khusus buat kamu yang malas kuliah atau aktif berjuang bersama rakyat. Langsung saja SRUPUT disini


Share: