Senin, 25 November 2013

Tahun Ajaran Baru

                                                        ---Untuk Hari Depan Demokrasi


Di depan cermin
si anak belajar menyisir rambutnya.
Sempong pinggir atau belah tengah.
Sekolah telah memanggilnya
layang-layang, kelereng, engkrang
harus ia simpan dan diatur waktunya.

Si ibu memandanginya dari belakang, yakin
anaknya akan tumbuh jadi pelajar pintar.
Si ibu melirik tas dan sepatunya
semua barang bekas lungsuran tetangga dan kakaknya.

Anaknya bakal belajar huruf dan angka di sekolah
meskipun tanpa didasari belajar di TK.

Di luar diam-diam,
ibunya menyobek sebagian lembar buku yang terisi,
lalu memasukkan buku bekas kakaknya
ke dalam tas besar yang mungkin berat
untuk pundak anaknya yang kecil dan kurus.
Dan,
berbohong pada anaknya bahwa itu buku baru.

Kakaknya yang lulusan SMP
hanya melamun di teras rumah
melihat teman sebayanya menikmati tahun ajaran baru
 berjalan berangkulan berbalut rapi seragam putih-abu-abu.
Sedangkan dirinya menunggu pemuda untuk mengawininya.

Si anak berangkat seorang diri
berjingkat-jingkat dengan sepatu bekas tetangganya
yang sobek di ujung dan di sampingnya.
Tangannya memegang mendoan
pipinya penuh bercak kecap.

Di halaman sekolah sudah ramai anak-anak
bapak-ibunya membelai-belai rambut anaknya
berpesan agar anaknya belajar yang rajin.
Si anak memandangi dirinya sendiri
ia mulai belajar bahwa ada hal yang berbeda.
“Kok, sendirian?” tanya Bu Guru.
Si anak geleng-geleng.
“Kok, tidak pakai kaos kaki?” tanya Bu Guru lagi.
Si anak geleng-geleng.

Bu Guru menuntunnya masuk ke kelas
si anak hanya pasrah
matanya melihat bakal teman-temannya nanti.


Tiga jam kemudian anak-anak disuruh pulang
si anak pulang jalan kaki seorang diri
sedangkan teman-temannya dijemput sepeda motor dan mobil
oleh bapak-ibunya.

Ibu si anak sedang menanam benih padi
di tanah majikannya.
Tahun ajaran baru, ia tahu anaknya sudah belajar,
belajar bertanya
belajar memandangi kehidupannya
belajar meminta haknya.



Purwokerto, 25 Juni 2013
Share:

0 comments:

Posting Komentar