Senin, 25 November 2013

Literati

: Mugianto
Literati adalah sebutan untuk kelas terdidik dan intelektual sastra-seni abad ke-17. Cina adalah teladan terbaik literati. Max Webber mengutip Konfuzianismus und Taosimus di dalam esainya menyebutkan, literati di Cina telah menjadi eksponen menentukan bagi kesatuan budaya. Cina telah membuat pendidikan literer sebagai ukuran prestise sosial. Artinya, posisi sosial bersandar pada pengetahuan menulis dan sastra.

Literati Cina sama halnya Brahmanisme di India. Mereka adalah kelas berpengaruh dalam pengajaran, penyebarluasan dan pembentuk nilai-nilai kesusastraan di masyarakat. Bedanya, literati Cina bukanlah klerik sebagaimana Brahmana atau agama-agama semit. Literati Cina meskipun berkembang dari latihan ritual, namun mereka menyebarkan sebuah pendidikan untuk ‘orang biasa’. Mereka sering disebut pu che, yakni ‘perpustakaan berjalan’.

Apa yang bisa dipelajari dari Cina? Betapa penting budaya sastra. Ahmad Syubbanuddin Alwy (Horison, 1999) mengatakan, karya sastra yang melakukan proses penciptaan dan penyerapannya ke dalam berbagai bentuk dan keadaan kehidupan di luar diri pengarang, semakin mendekatkan dimensi pengalaman-pengalamannya dengan alam, masyarakat, kemanusiaan dan pada akhirnya kesatuan semesta. Sementara, Agus R. Sarjono berkata (Horison, 2006): lewat sastra kita diajak berhadapan dan mengalami secara langsung kategori moral dan sosial dengan segala parodi dan ironinya. Terkadang apa yang dianggap salah di masyarakat, dibenarkan dalam karya sastra.

Lantas, bagaimana literati di daerah Banyumas? Kiranya, daerah Banyumas mengalami kelambanan melahirkan kelas terdidik dan intelektual sastra-seni. Padahal daerah Banyumas—dengan kotanya Purwokerto—memiliki universitas dan ‘orang tua’ sekaliber Ahmad Tohari. Mandeg-kah literati kita. Alias tidaklah memungkinkan literati tumbuh dan berkembang di daerah Banyumas. Saya jadi teringat sebuah perkataan teman: “Kalau ingin berkembang ( kesusastraannya), keluarlah dari kota Purwokerto.”

Diakui kota-kota kecil memiliki fasilitas dan sarana seni dan budaya terbatas. Agus R. Sarjono pada kata sambutannya di buku Sastra Kota—hasil Temu Sastra Jakarta 2003—bahkan mengatakan, di Jakartalah berbagai penampilan seni hadir dan bergema di seluruh Indonesia. Banyak pula di antara yang ditampilkan di TIM adalah kesenian-kesenian bermutu yang kadang di daerah mereka sendiri kurang mendapat perhatian memadai.

Tidaklah salah yang diucapkan Agus R. Sarjono. Karena memang begitu kenyataannya. Di daerah Banyumas saja, kantong-kantong kebudayaan benar-benar minim. Bahkan, gedung kesenian jadi sengketa dan diisukan akan dirobohkan. Yang seharusnya menjadi habitat literati. Oleh karena itu, kesusastraan kita menjadi liar, egoistis, sekterian dan tidak menyatu. Akibatnya pendidikan literer pun lemah.

Kantong kebudayaan adalah representatif dari adanya kesatuan budaya literati. Di situlah tersemai dialektika, diskursus, kritik dan proses kreatif pengarang. Habitat literati yang bebas dan otonom. Serta, mengakomodir berbagai pihak subjek kreator. Pertentangan aliran kesenian akan dipertemukan, bukan malah semakin menjauh dan acuh tak acuh. Hanya dengan perdebatan berkepanjangan justru semakin mempertinggi kualitas kebudayaan.

Contohnya, Bukittinggi, daerah itu jelas-jelas jauh dari Jakarta, tapi Bukittinggi tidak pernah ‘sepi’ melahirkan literati hingga kini. Literati Bukittinggi kuat, ada regenerasi, disamping  mendapat sokongan dari media lokal. Literati yang telah terdidik di luar dan dalam daerah kembali ke masyarakat untuk mendidik budaya literer (Sudarmoko, 2008). Parada Harahap (1926) mencatat: tahun 1920, masyarakat Sumatra Barat yang dapat membaca dan menulis mencapai 7,14% laki-laki dan 1,09 perempuan dari jumlah seluruh penduduk. 4, 31% telah pandai membaca dan menulis bahasa Belanda. Literati membawa ide-ide pembaharuan dari hasil selama pengembaraannya. Di antara orang muda dan orang tua sering timbul selisih pandangan. Merekalah kaum literati yang akhirnya membudaya hingga ke generasi selanjutnya. Sejarah turut serta mendidik literati.

Banyumas terbuka kemungkinan seperti halnya Bukittinggi. Sekolah dan universitas menjadi penyuplai utama literati. Selain itu, kantong-kantong kebudayaan khususnya kesusastraan  harus terbentuk, selain menjadi ruang pendidikan literer, juga habitat para literati mengembangkan kebudayaannya. ‘Orang tua’ atau literati yang berpengalaman berperan mengembangkan literati-literati muda. Di samping itu, media massa lokal ikut serta dalam menyebarkan hasil karya-karya sastra literati.

Jika demikian, apakah harapan terbesar berkesusastraan hanya di kota Jakarta? Kita harus banyak belajar dari Cina. Semasa dinasti Tang bahkan, literati tumbuh pesat dan membentuk universitas untuk pendidikan mereka di abad ke-7. Tang menciptakan Han lin yuan atau akademi yang pertama kali mengedit catatan sejarah guna mendapatkan sesuatu yang bisa jadi teladan dan digunakan untuk mengontrol kekuasaan kaisar agar selalu benar.

Berkesusastraan bukanlah keraguan karena tempat tinggal. Sastra merupakan ekspresi paling bebas manusia, seperti St. Agustine mengaku mencurahkan emosinya pada karya sastra dan bukan pada dosa yang seharusnya ia tangisi. It done  anywhere. Habitat yang ‘memungkinkan’ lahirnya literati-literati diciptakan selebar-lebarnya.

Jadi, haruskah kita hijrah dan hidup di kota seperti Jakarta?

**
Referensi:

Alwy, Ahmad Syubbanuddin. “Proses Kreatif dan Konsep Berpuisi.” Horison, No.7, XXXXIII/1999.

Herfanda, Ahmadun Yosi, dkk. 2003. Sastra Kota, Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta 2003. Yogyakarta: DKJ dan Bentang Pustaka.

Sarjono, Agus R. “Ihh Budi Pekerti.” Horison, No.T1.2, XXXX/2006.

Webber, Max. 2012. Teori Dasar Analisis Kebudayaan. Yogyakarta: IRCiSoD

Sudarmoko. 2008. Roman Pergaoelan. Yogyakarta: Insist Press

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Share:

0 comments:

Posting Komentar