Selasa, 26 November 2013

Alap-alap

:Mugianto


Alap-alap terbang dari Jenewa:

cangkul petani terkatung-katung di pagar

raksasa-raksasa mencaplok tanah

hakim abal-abal mengesahkan hukum

lahan pangan rakyat berubah ladang perusahaan



Alap-alap berdatangan ke Indonesia:

cangkul diganti pabrik-pabrik

orang-orang antri menjual tenaga.

Asal disisakan pengangguran

orang kerja mau dikontrak

tenaga mau dibayar murah

pemilik pabrik beruntung besar



Alap-alap mabuk di tanah surga:

tiada lagi tongkat menjadi tanaman

perut bumi kita telah disesar

kapal imperialis menunggu di dermaga

siap mengantar pesanan pasar



Alap-alap hinggap di rak-rak buku:

teori-teori disesuaikan dengan pasar

sekolah dan kampus jadi tempat kursus kerja

pelajar-mahasiswa dianggap mur-baut

untuk mengencangkan mesin-mesin pabrik

profesor sibuk menenggak arak di khayangan

dosen kencing di celana takut ambil sikap

guru lebih senang merawat ikan hias

pendidikan dilarang mencerdaskan rakyat

lebih baik diperjual-belikan



Alap-alap mencucuki koreng:

perih berdarah dan bernanah

borok-borok menganga dimana-mana

di desa maupun di kota



Alap-alap telah berkembangbiak

tumbuh dan dipelihara

Apakah kita hanya membersihkan kotorannya

Apakah kita akan menangkap dan mengadilinya



Jaring-jaring mesti kita susun

dari tali persaudaraan manusia

Alam untuk seluruh makhluk hidup

bukan alap-alap semata



Hari terus melucuti pakainnya

tahun semakin kurus dan tua

bumi dan manusia keropos

dan kita cepat ambil sikap!



Purwokerto, 7 November 2013

Junk WTO!
Dibacakan pada saat konsolidasi FMN 'Junk WTO!' 
di Kedai Telapak


















Share:

0 comments:

Posting Komentar