Jumat, 29 November 2013

Bulan Menghadangku

pada malam itu
bulan turun dan menghadangku
aku gagap, beku
oleh ketidak-cantikanmu

bagaimana mungkin
penyair-penyair merayu
lewat dirimu
yang pucat-pasi

bukankah kita tahu
dia tidak bercahaya
dia yang bersembunyi
di balik jubah Surya

Purwokerto, 30 November 2013

Share:

Selasa, 26 November 2013

Bulan Puasa

                                           --Untuk Hari  Depan Demokrasi

Ada pengemis di perempatan

berdesakkan dengan mobil.

Ada KFC di seberang jalan

penuh orang menunggu berbuka puasa

di bawah nyamannya belaian udara dari mulut pendingin ruangan.



Ada petani pulang dari sawah dan ladang

membawa cangkul dan masa depan sia-sia

keringatnya telah diganti uang oleh tuan tanah

sementara si bini bingung karena meja makan

hanya ada air di dalam ceret usang.

Padahal bedug magrib hampir tiba.



Ada buruh pulang dari pabrik.

Gajinya telah molor dua bulan

belum kena potongan pajak

belum terpotong bayar utang

sedangkan pemilik pabrik,

sedikit demi sedikit  meloroti gajinya

katanya ada krisis!

Lagi-lagi si bini gusar suamninya belum pulang bawa nasi rames

sedangkan  di rumah tetangganya yang kaya

mulai terdengar piring dan sendok beradu

dan doa, menyambut berbuka puasa.



Ada ustad datang ke masjid

“Wahai umat Allah, berdoalah dan mintalah surga di bulan ini (puasa)”, katanya.

Tetapi ia tidak pernah menunjukkan jalan

 menyuruh meminta pada Tuhan

agar buruh tani diberikan tanah

agar buruh pabrik dinaikkan upahnya

agar anak muda mendapatkan pendidikan gratis.

2013
Share:

Imperialisme

Batas pun tiada
kedaulatan sirna
kebebasan membuta
imperialisme meraja
rakyat merana.

Bumi kering-kerontang
tak ada lagi tanaman di ladang
tanah dirampas dengan uang
 petani dikemplang!

Buruh dibayar murah
majikan membetulkan kerah
serikat minta kenaikan upah
hasilnya luka dan darah.

AS memuji tanah air
kita jangan khawatir
apalagi getir.
Sebab, ini takdir.

Takdir siapa?
rakyat tidak pernah lupa
rakyat bukan berhala dupa
rakyat pemegang kuasa
tahu musuh-musuhnya.






Share:

Khalwat

Khalwat adalah pikiran yang bertapa,
tiada risau, getir, pun ketakutan.
Mengurai, menerangkan, mencari
kekusutan-kekusutan pikiran
yang dibawa dari material-material alam.

Khalwat adalah ibadah,
bukan demi Tuhan, tapi jiwa kehidupan.
Ibadah untuk kehidupan,
bukan hidup untuk ibadah.
Kala matari terbenam, angin kering,
dan malam membeku.

Khalwat adalah pengasingan,
dimana ‘diri’ kadangkala butuh tempat bersembunyi.
Adakalanya panca indera duduk bersama
saling mendiskusikan dan mengambil sikap hidup
tentang apa yang dilihat
tentang apa yang didengar
tentang apa yang dirasa
tentang apa yang tercium
tentang apa yang diucapkan.

Khalwat adalah ‘rumah diri’
disitulah jiwa-jiwa dirawat
disitulah jiwa-jiwa berlindung
dari teriknya kehidupan
dari hujan-hujan yang menyergap.
Tapi, berkhalwat mesti tetap yakin
sumber kehidupan ini adalah susunan-susunan materi.
Ada di luar kesadaran namun mempengaruhi kesadaran manusia,
hingga bertumpuk-tumpuk tiap harinya yang harus diurai, atau
dinilai.

Khalwat adalah surga sementara,
tempat minum dan mabuk
tanpa seorang pun mengganggu.

Purwokerto, 25 Juni 2013







Share:

Karl Marx Murung

Tiba-tiba Karl Marx murung. Seharian ia sama sekali tidak menyentuh makanan. Jenny menjadi khawatir, apalagi kemurungannya susah dimengerti. Sahabatnya Engel hanya melihatnya dari luar kamar. Menghisap pipa rokok, sesekali terbatuk-batuk. Engel berusaha mencari sebab kemurungan Karl Marx.
                Di luar rumah, salju turun seperti kapas. Rhein yang indah dengan rumah-rumah dan halaman penuh bunga. Jalanan tertutup butir-butir salju yang menumpuk. Pemilik kebun strawberry, Vladimir Lenin, terlihat sibuk membersihkan salju dengan sekop di kebunnya. Anak-anaknya berlarian di sampingnya.
        Rumah Karl Marx dan Lenin hanya dipisahkan jalan ke arah lembah. Jenny dan Krupskaya—istri Lenin—bersahabat baik. Setiap Jenny masak daging rusa selalu dilebihkan untuk berbagi dengan keluarga Lenin. Begitu pun sebaliknya. Bagi kedua keluarga itu, hidup harus bersaudara, berbagi dan kolektif. Rupanya kebiasaan dan sikap hidup itu terbentuk bukan karena kebetulan. Tapi, oleh pengaruh pemikiran kedua suami mereka yang tersohor: komunisme.
         Jenny menutup jendela rumah karena angin berhembus sangat dingin. Lalu memasukkan kayu ke tungku penghangat ruangan. Berkali-kali ia membetulkan kutangnya yang kendor sambil mengamati api yang perlahan membakar kayu. Ia risih juga selalu memakai kutang bekas yang diloak di pasar. Tapi, Karl Marx tidak pernah menggubrisnya saat Jenny mengatakan keinginannya beli kutang baru di toko. “Itu tidak pokok,” selalu jawaban itu yang Jenny terima.
       Engel masih asyik dengan pipa rokoknya sambil matanya melirik Jenny. Payudara Jenny memang besar, pikirnya. Kadangkala timbul rasa iri Engel pada Karl Marx. Sahabatnya yang dekil dan kere bisa memiliki istri kembang desa yang setia, cantik, dan montok. Kata mutiara dan janji apa yang diberikan Karl Marx kepada Jenny. Masyarakat komuniskah?
            “Bung Engel, apa perlu panggil Sigmund Freud ke sini?” ujar Jenny menghampiri Engel.
          “Jangan. Dia waras. Suamimu itu suka begitu, murung gak jelas. Biarkan saja, dua tiga hari juga dia sudah normal.”
            “Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Seharian tidak makan. Bisa sakit.”
            “Jen, percaya suamimu itu. Dia kan revolusioner proletariat. Siapa tahu dia sedang uji materil kehidupan kelas proletar. Semacam bunuh diri kelas. Kau tahu dia tidak percaya idealisme.”
            “Benar bung, tapi caranya jangan begini. Kalau sakitkan istri yang repot,” Jenny menarik-narik kutangnya supaya ke atas. Engel tidak menyiakan kesempatan itu. Tanpa sadar ‘burung’ Engel ereksi.
            “Saya kenal dekat Karl Marx. Baginya, hidupnya adalah tombak pembebasan kelas proletar. ‘Jiwaku ada pada manifesto komunis, tanpa lelah, sejarah harus digerakkan oleh kelas proletariat. Komunis harus terwujud’. Begitu dia bersumpah setahun yang lalu ketika mabuk vodka pada ulang tahunnya Lenin.”
            “Itu bukan hanya kamu, semua orang juga tahu. Masalahnya adalah dia itu kan suami, harus kerja, menafkahi anak-istrinya. Kalau melamun murung terus bisa-bisa kita mati kelaparan.”
            “Seperti baru kenal saja. Saya kasih cek nanti, kau ambil uang di bank sesuai kebutuhan keluargamu. Sudah, biarkan saja si berewok begitu.”
        Engel menarik nafas. Menyulut pipa rokoknya lagi.  Kali ini ia benar-benar ingin pergi ke kamar mandi untuk masturbasi saat Jenny merogoh dadanya membetulkan kutang lagi. Jenny tidak sadar, kancing bajunya terlepas, sehingga mata Engel leluasa melihat buah dadanya yang putih menyembul. Permukaan celana Engel langsung membentuk seperti gunung. ‘Burung’nya meronta-ronta ingin lepas. Lekas Engel menutupi dengan tangan sebelum Jenny tahu. Ia tidak mau menanggung malu.
       Setelah sadar terhadap pikiran mesumnya, Engel merasa bersalah. Semestinya ia bisa menjaga birahinya di depan istri kawan karibnya sendiri, Karl Marx. Adalah tak bermartabat jika istri kawan sendiri jadi objek imajinasi seksual. Engel berucap Tuhan Yesus. Secepat kilat ia mengalihkan perhatian sebelum imajinasinya melayang jauh. Karl Marx penah bilang, komunis tidak membenarkan istri juga dipakai bersama-sama, komunis adalah kepemilikan bersama alat produksi ekonomi.
        Salju di luar bertambah tebal. Matahari terendam dalam kabut. Anak-anak Lenin terlihat sudah masuk rumah. Lenin juga telah meletakkan sekop di gudang belakang. Dia sedang membersihkan sepatu ketika Krupskaya memanggilnya untuk masuk. Dan, hari terasa semakin kelam, anjing dan kucing pun berhenti berkelakar.
        Karl Marx tetap duduk termangu memandang ke luar jendela. Seakan ia menyaksikan alam seperti gemuruh perjuangan kelas proletar. Gemuruh yang bagi Karl Marx adalah keniscayaan sebuah sejarah. Pena bulu ayamnya tergeletak begitu saja di catatan-catatannya. Buku-buku berserakan di atas meja. Salah satunya buku Adam Smith An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations yang di sampul buku tersebut digambari penis oleh Karl Marx. Tidak lupa coretan bertulis “Adam Smith buta di pagi hari dan penjilat vagina basah borjuis”.
            “Sayang, makan dulu,” teriak Jenny di depan pintu kamarnya.
Sepi. Karl Marx menoleh pun tidak. Jenny sewot lalu menghilang ke kamarnya. Engel memperhatikan sahabatnya. Mungkin Jenny benar, Karl Marx gila. Jika demikian, hanya Sigmud Freud yang mampu memecahkan teka-teki Karl Marx lewat psikoanalisisnya. Tapi, jika dirinya menjemput Freud di kota, ia akan ditertawai para mahasiswa. Bukankah dia dan Marx pernah menertawai Freud bahwa teorinya seperti anak kecil. Idealis. Fiktif. Betapa memalukan bila akhirnya dia butuh praktek dan teorinya.
      Engel berpikir keras. Menemui Freud bukan keputusan tepat. Jangan-jangan, Engel menduga, Karl Marx membutuhkan kawan Lenin. Sudah seminggu menurut Jenny kawan Lenin tidak berkunjung. Biasanya, tiap malam keduanya bermain catur, minum vodka, berdiskusi dan mendengarkan musik qasidah dari tanah arab. Engel mengira sedang ada perselisihan atau pertengkaran di antara Lenin dan Marx.
Pintu rumah di ketuk dari luar. Engel langsung pergi membukakan pintu. Sesosok pria separuh baya, sipit dan botak memakai mantel bulu domba bertabik.
            “Saya Mao Tse Tung. Karl Marx ada?” ujarnya sangat sopan.
            “Ada, tuan. Silahkan masuk.”
Mao berterimakasih sambil membungkukkan badan. Ia melepaskan mantel dan menyantelkannya di dinding belakang pintu. Engel mempersilahkan untuk duduk.
            “Apa keperluan, tuan?” tanya Engel.
            “Ah, cuma mau memastikan.”
            “Memastikan?”
            “Iya, memastikan,” Mao terkekeh.
Engel heran. Orang di hadapannya santun tapi aneh. Akhirnya, Engel menyimpulkan bahwa orang ini butuh informasi kesehatan Karl Marx. Wajar kalau Marx bertingkah aneh sedikit, semua orang segera tahu dan datang untuk memastikan keadaannya.
            “Karl Marx memang lagi murung, tuan. Tidak mau makan. Tidak menjawab kalau ditanya. Tidak mendengarkan perkataan.”
            “Oh,hoho…ya manusia begitu. Bagus.”
            “Baiklah. Omong-omong tadi memastikan apa, tuan?”
            Mao terkekeh lagi.
            “Memastikan, apa buku merah saya sudah diberi kata pengantar. Bisa tolong panggilkan Karl Marx?”
            Engel pergi memanggil Karl Marx. Ia tertegun saat Karl Marx tiba-tiba bangkit melewati dirinya mengunjungi tamu itu. Engel mendengar mereka saling sapa akrab. Karl Marx bukan lagi seperti berjam-jam yang lalu. Dia ceria menyambut tamu itu. Entah darimana asalnya. Secara fisik mencerminkan orang Cina.
            Diam-diam Engel menajamkan telinga dari pojok ruangan untuk menangkap setiap kata yang dihasilkan dari percakapan mereka. Untuk menutupi kesan dirinya sedang menguping, ia mengambil koran terbitan kemarin. Berpura-pura membaca berita.
            “Jadi, tuan Karl Marx sempat stres?” ucap Mao Tse Tung yang didengar Engel, membuatnya semakin penasaran.
            Inggih, tuan Mao. Buku merah tuan sungguh membingungkan. Bikin stres dan perut kembung.”
            “Tentu bukan maksud menghina. Alasannya?”
            “Hurufnya, tuan. Saya tidak mengerti huruf apa yang ditulis tuan. Saya mau panggil arkeolog tapi tidak ada uang. Jadi saya berusaha sendiri. Tapi, tetap, tidak saya mengerti. Maka, beribu mohon maaf, kata pengantar untuk buku merahnya belum kelar.”
            “Kenapa tidak bilang dari awal? Itu tulisan Cina, Asia Timur. Bukankah kamu Karl Marx yang tersohor itu? Saya kira kamu ahli segalanya. Haya…haya…rencana jadi sedikit berantakan, padahal rakyat komunis Cina sedang menunggu buku merah itu.”
            “Maaf. Sekali lagi maaf. Saya Karl Marx. Saya menulis karena kondisi penindasan kapitalisme di Eropa. Saya tidak tahu malah tulisan-tulisan saya sampai Asia Timur. Itu tulisan Cina rupanya. Maaf, tuan.”
            “Sudahlah, tak apa-apa. Sesama komunis harus saling oto kritik. Ini juga salah saya, kenapa saya tidak memberimu tulisan dalam bahasa Inggris saja.”
            “Iya, sama-sama, tuan. Eh, tadi tuan bilang rakyat komunis di Cina, apa di sana komunis sudah berhasil didirikan?”
            “Hoho…belum, baru revolusi rakyat menendang imperialisme. Huh, capeknya bukan main. Itu saja saya meluaskan teorimu dan Lenin, kalau tidak, mampuslah kita digilas sejarah.”
            “Baguslah kalau begitu. Hati-hati dan jaga keselamatan. Soalnya banyak orang anarkhis. Mereka suka membabi buta. Kayak orang frustasi dan kesurupan. Kalau tidak bisa dimanfaatkan tembak saja kepalanya.”
            “Hoho…jangan, biarkan saja, asal tidak kontra revolusi. Musuh kita lebih besar, rapi dan kuat. Imperialisme. Sekarang yang dibutuhkan adalah membangun organisasi massa berhari depan yang solid, rapi dan kuat. Itu saja. Jangan terlalu mengikuti kata-kata orang, termasuk kataku, katamu, atau Lenin dan lainnya,” Mao Tse Tung terkekeh-kekeh.
            Di balik koran, Engel merasa lemas. Jadi, kemurungan Karl Marx hanya masalah sepele. Engel mengisi tembakau pada pipanya, lalu membakarnya. Dihirupnya dalam-dalam asap tembakau itu, kemudian dihembuskan seperti kepulan awan bergerak membentuk wajah Karl Marx yang tampak bodoh.

Purwokerto, 18 Juli 2013.
Share:

Alap-alap

:Mugianto


Alap-alap terbang dari Jenewa:

cangkul petani terkatung-katung di pagar

raksasa-raksasa mencaplok tanah

hakim abal-abal mengesahkan hukum

lahan pangan rakyat berubah ladang perusahaan



Alap-alap berdatangan ke Indonesia:

cangkul diganti pabrik-pabrik

orang-orang antri menjual tenaga.

Asal disisakan pengangguran

orang kerja mau dikontrak

tenaga mau dibayar murah

pemilik pabrik beruntung besar



Alap-alap mabuk di tanah surga:

tiada lagi tongkat menjadi tanaman

perut bumi kita telah disesar

kapal imperialis menunggu di dermaga

siap mengantar pesanan pasar



Alap-alap hinggap di rak-rak buku:

teori-teori disesuaikan dengan pasar

sekolah dan kampus jadi tempat kursus kerja

pelajar-mahasiswa dianggap mur-baut

untuk mengencangkan mesin-mesin pabrik

profesor sibuk menenggak arak di khayangan

dosen kencing di celana takut ambil sikap

guru lebih senang merawat ikan hias

pendidikan dilarang mencerdaskan rakyat

lebih baik diperjual-belikan



Alap-alap mencucuki koreng:

perih berdarah dan bernanah

borok-borok menganga dimana-mana

di desa maupun di kota



Alap-alap telah berkembangbiak

tumbuh dan dipelihara

Apakah kita hanya membersihkan kotorannya

Apakah kita akan menangkap dan mengadilinya



Jaring-jaring mesti kita susun

dari tali persaudaraan manusia

Alam untuk seluruh makhluk hidup

bukan alap-alap semata



Hari terus melucuti pakainnya

tahun semakin kurus dan tua

bumi dan manusia keropos

dan kita cepat ambil sikap!



Purwokerto, 7 November 2013

Junk WTO!
Dibacakan pada saat konsolidasi FMN 'Junk WTO!' 
di Kedai Telapak


















Share:

Senin, 25 November 2013

Literati

: Mugianto
Literati adalah sebutan untuk kelas terdidik dan intelektual sastra-seni abad ke-17. Cina adalah teladan terbaik literati. Max Webber mengutip Konfuzianismus und Taosimus di dalam esainya menyebutkan, literati di Cina telah menjadi eksponen menentukan bagi kesatuan budaya. Cina telah membuat pendidikan literer sebagai ukuran prestise sosial. Artinya, posisi sosial bersandar pada pengetahuan menulis dan sastra.

Literati Cina sama halnya Brahmanisme di India. Mereka adalah kelas berpengaruh dalam pengajaran, penyebarluasan dan pembentuk nilai-nilai kesusastraan di masyarakat. Bedanya, literati Cina bukanlah klerik sebagaimana Brahmana atau agama-agama semit. Literati Cina meskipun berkembang dari latihan ritual, namun mereka menyebarkan sebuah pendidikan untuk ‘orang biasa’. Mereka sering disebut pu che, yakni ‘perpustakaan berjalan’.

Apa yang bisa dipelajari dari Cina? Betapa penting budaya sastra. Ahmad Syubbanuddin Alwy (Horison, 1999) mengatakan, karya sastra yang melakukan proses penciptaan dan penyerapannya ke dalam berbagai bentuk dan keadaan kehidupan di luar diri pengarang, semakin mendekatkan dimensi pengalaman-pengalamannya dengan alam, masyarakat, kemanusiaan dan pada akhirnya kesatuan semesta. Sementara, Agus R. Sarjono berkata (Horison, 2006): lewat sastra kita diajak berhadapan dan mengalami secara langsung kategori moral dan sosial dengan segala parodi dan ironinya. Terkadang apa yang dianggap salah di masyarakat, dibenarkan dalam karya sastra.

Lantas, bagaimana literati di daerah Banyumas? Kiranya, daerah Banyumas mengalami kelambanan melahirkan kelas terdidik dan intelektual sastra-seni. Padahal daerah Banyumas—dengan kotanya Purwokerto—memiliki universitas dan ‘orang tua’ sekaliber Ahmad Tohari. Mandeg-kah literati kita. Alias tidaklah memungkinkan literati tumbuh dan berkembang di daerah Banyumas. Saya jadi teringat sebuah perkataan teman: “Kalau ingin berkembang ( kesusastraannya), keluarlah dari kota Purwokerto.”
Share:

Tahun Ajaran Baru

                                                        ---Untuk Hari Depan Demokrasi


Di depan cermin
si anak belajar menyisir rambutnya.
Sempong pinggir atau belah tengah.
Sekolah telah memanggilnya
layang-layang, kelereng, engkrang
harus ia simpan dan diatur waktunya.

Si ibu memandanginya dari belakang, yakin
anaknya akan tumbuh jadi pelajar pintar.
Si ibu melirik tas dan sepatunya
semua barang bekas lungsuran tetangga dan kakaknya.

Anaknya bakal belajar huruf dan angka di sekolah
meskipun tanpa didasari belajar di TK.

Di luar diam-diam,
ibunya menyobek sebagian lembar buku yang terisi,
lalu memasukkan buku bekas kakaknya
ke dalam tas besar yang mungkin berat
untuk pundak anaknya yang kecil dan kurus.
Dan,
berbohong pada anaknya bahwa itu buku baru.

Kakaknya yang lulusan SMP
hanya melamun di teras rumah
melihat teman sebayanya menikmati tahun ajaran baru
 berjalan berangkulan berbalut rapi seragam putih-abu-abu.
Sedangkan dirinya menunggu pemuda untuk mengawininya.

Si anak berangkat seorang diri
berjingkat-jingkat dengan sepatu bekas tetangganya
yang sobek di ujung dan di sampingnya.
Tangannya memegang mendoan
pipinya penuh bercak kecap.

Di halaman sekolah sudah ramai anak-anak
bapak-ibunya membelai-belai rambut anaknya
berpesan agar anaknya belajar yang rajin.
Si anak memandangi dirinya sendiri
ia mulai belajar bahwa ada hal yang berbeda.
“Kok, sendirian?” tanya Bu Guru.
Si anak geleng-geleng.
“Kok, tidak pakai kaos kaki?” tanya Bu Guru lagi.
Si anak geleng-geleng.

Bu Guru menuntunnya masuk ke kelas
si anak hanya pasrah
matanya melihat bakal teman-temannya nanti.

Share: